KEHIDUPAN SEMPURNA

KEHIDUPAN SEMPURNA
Wily Yang Memprovokasi.


__ADS_3

Oleh karena itu, semua uang Imbran pun sudah habis.


"Begini, tujuan kedatanganku kali ini adalah karena ingin meminta bantuanmu untuk mengembangkan produk semacam lobster batik kaleng!"


"Aku punya sejumlah lobster batik yang segar dan ingin menjadikannya sebagai lobster kalengan. Apa Tim kalian bisa melakukannya?" tanya Imbran.


"Lobster batik? Makanan yang begitu mewah mau dijadikan makanan kaleng kamu serius? Ini benar-benar agak sia-sia!" kata Budi sambil menggelengkan kepalanya.


"Hehe, aku bisa mengklarifikasikan nya sebagai makanan kelas menengah ke atas. Jadi, aku bisa membuatnya harga nya sedikit mahal!"


"Oke, lalu di mana lokasi sejumlah lobstermu itu? Apa kamu bisa mengirimi sedikit lobstermu kemari? Jadi, aku bisa bereksperimen sebentar dan mengetahui bahan makanan yang harus ditambahkan!"


Kemudian, Imbran segera menelpon Siren meminta Siren untuk mengantar lobsternya kemari dengan mengendarai mobil.


Ketika melihat beberapa lobster yang beratnya lebih dari setengah kilogram ini, Budi mau tidak mau berkata dengan ekspresi wajah terkejut, "Lobster milikmu ini benar-benar besar. Ini seharusnya hasil tambak, 'kan?"


"Haha, meskipun lobster batik milikku adalah hasil tambak, rasanya juga Tidak kalah dengan lobster hasil tangkapan Liar!"


Saat mendengar kata-kata Imbran, Budi masih tidak begitu percaya. Dia pun mengambil seekor lobster batik dan mulai mengukusnya.


Setelah menunggu beberapa saat


Dia lalu mencoba rasanya, mata Budi langsung berbinar-binar. Kemudian, dia berkata dengan kaget, "Kenapa rasa lobster ini bisa begitu enak? Ini benar-benar hasil tambak, bukan hasil tangkapan Liar, ya?"


"Ini memang hasil tambakku. Kalau lain kali ada kesempatan, aku akan mengundangmu untuk melihat-lihat tempat tambakku!" kata Imbran dengan tenang sambil tersenyum.


"Dengan rasa ini dan tambahan beberapa bahan, setengah kilogram lobster bisa dijadikan empat lobster kaleng. Kalau begitu, berapa harga jual yang kamu inginkan untuk satu kaleng lobster ini?"


"Sekitar dua ratus ribu, apa menurutmu bisa?" Imbran mencoba mengatakan sebuah harga untuk mengetahui pendapat Budi.


"Bisa, kok. Rasa lobster ini sangat enak. Produk ini pasti laku keras di pasaran."


Mendengar perkataan Budi, Imbran tersenyum Lebar.


Jika dibuat menjadi makanan kaleng dan terjual habis, sisa lobster hasil tambaknya pun bisa ditanganinya sampai habis. Dengan begitu, Imbran bisa terus membudidayakan tambaknya dan tidak perlu khawatir hasil tambaknya akan membusuk.


"Baiklah. Budi, aku minta tolong, ya. Aku akan menunggu kabar baik darimu. Sebentar lagi, aku akan menyuruh sopir untuk mengantar lobsternya kemari!"


"gak masalah, kamu tinggal menunggu kabar baik dariku saja!"

__ADS_1


Kemudian, Imbran memanggil Siren untuk meninggalkan pabrik pengolahan makanan milik Budi. Mereka langsung pergi ke pusat kota.


"Siren, bantu aku mencari tahu prosedur apa saja yang dibutuhkan untuk membuka Sebuah Perusahaan!"


"gak terlalu rumit. Selain itu, kalau ingin mendirikan perusahaan induk, kamu cukup mengeluarkan sedikit uang saja!"


"Oke, ayo pergi. Ayo kita segera dirikan sebuah perusahaan. Siren, kalau kamu mengikutiku, aku jamin kamu pasti akan hidup nyaman ke depannya!" kata Imbran sambil tertawa terbahak-bahak.


"Oh ya, bantu aku memikirkan sebuah nama untuk perusahaan kita!"


Akhirnya, setelah keduanya berdiskusi, Perusahaan Makanan Laut Mutiara pun langsung didirikan.


"Oh ya, tim konstruksi sudah hampir menyelesaikan sebagian besar pembangunannya. Biarkan mereka berhenti sebentar untuk merancang bangunannya satu per satu. Anggarannya sekitar enam belas miliar dan totalnya lima lantai!"


Setelah selesai berbicara, Imbran langsung pergi ke bandara. Hari ini, Salsa pulang dari perjalanan bisnisnya. Imbran pun pergi untuk menjemputnya dengan mengendarai mobil.


Keesokan harinya, Budi sudah selesai meneliti lobster batik kalengan dan dia menelpon Imbran Memberi kabar baik.


***


"Rasanya sangat lezat. Lobster kaleng ini pasti akan laris!"


"Harum sekali! Makanan kalengan seperti ini ternyata bisa begitu lezat!"


Imbran juga sangat puas dengan rasa makanan kaleng tersebut dan segera berkata, "Siren, segera telepon Budi. Kita akan sepakati rasa ini untuk makanan kalengnya!"


"Oke!"


Setelah mencicipi rasa makanan kaleng yang begitu lezat, Salsa terus memuji, "Imbran, kamu ingin menjual makanan kalengan ini dengan harga berapa?"


Setelah memikirkannya untuk sejenak, Imbran berkata, "Dua ratus ribu rupiah per kaleng. Seharusnya, produk ini bisa dijual dengan harga ini, 'kan?"


Salsa merenung sejenak dan perlahan-lahan berkata, "Makanan kaleng dengan harga dua ratus ribu rupiah pasti termasuk makanan kaleng menengah ke atas. Kalau dijual di supermarket biasa, mungkin nggak banyak orang yang akan sanggup membelinya!"


"Pada dasarnya, pusat perbelanjaan kami nggak memproduksi makanan.


Begini saja, aku akan memperkenalkan seorang temanku pada kamu. Dia punya sebuah area makanannya tersendiri di Mal Oc.. dan nilai tempat itu juga nggak rendah.


Kamu bisa mempertimbangkan untuk melakukan observasi di tempatnya!" kata Salsa dengan sangat antusias.

__ADS_1


Mendengar apa yang dikatakan Salsa, mata Imbran terlihat berbinar-binar. Jika bisa mendirikan sebuah konter, dia pasti bisa menjual semua makanan kaleng ini.


"Bagus sekali, Salsa. Saat produk jadinya keluar, aku akan segera mendiskusikannya!" kata Imbran dengan penuh semangat.


Di Grup Viktor, Toto melaporkan kepada Willy,


"Tuan Muda Willy, aku sudah menyelidikinya. Si Imbran pergi ke pabrik untuk mengolah makanannya. Dia membuat lobsternya menjadi makanan kaleng."


"Segera hubungi Budi dan minta dia untuk menolak pesanan ini. Kalau Tidak, perusahaan kita akan mengambil kembali tanah itu!"


Setelah mendengar kata-kata Willy, Toto langsung menelepon Budi dan memintanya untuk menolak pesanan ini.


Akan tetapi, Budi langsung menolaknya. Dia bahkan tidak menggubris kata-kata Toto sama sekali.


"Bajingan, bahkan pabrik pengolahan makanan kecil pun berani membangkang perintah kita. Toto, cepat bawa orang ke pabrik pengolahan makanan itu dan ambil kembali tanah itu!"


Saat sedang mengumpulkan air spiritual di Pulau, ponsel Imbran tiba-tiba berdering. Dia melihatnya dan mendapati bahwa peneleponnya adalah Budi.


"Budi, penelitian makanan kalengmu bagus sekali. Aku berencana memberimu 5.000 kilogram lobster untuk diolah lagi kali ini!" kata Imbran dengan penuh semangat.


"gak, Imbran, mungkin aku nggak


bisa membantumu lagi!" Tiba-tiba, terdengar suara rendah milik Budi dari ujung telepon.


Mendengar perkataan Budi, Imbran terlihat bingung. Padahal, mereka sudah sepakat kemarin, tapi kenapa Sekarang Budi tiba-tiba menyesal. Kemudian, Imbran bertanya,


"Apa uangnya nggak cukup? Kalau nggak cukup, aku bisa menambahkan lagi. Asal kamu bisa memproduksi makanan kalengnya, aku bersedia mengeluarkan berapa pun biayanya!"


Imbran pun mendengar Budi tertawa pahit dari ujung telepon dan kemudian berkata, "Ini bukan tentang uang Kawan, tapi aku terkena masalah Sekarang. Bahkan, pabrikku mungkin nggak bisa beroperasi lagi. Aku bahkan sudah nggak bisa masuk ke pabrikku sendiri!"


"Kenapa? Budi, apa yang sebenarnya terjadi?"


"Apa kamu masih berada di pabrik Saat ini? Aku akan segera ke sana!" Imbran bergegas mengendarai mobilnya ke arah pabrik Budi.


Tidak lama kemudian, Imbran pun tiba di depan gerbang pabrik Budi. Kemudian, Imbran pun melihat apa yang sebenarnya telah terjadi di sana.


Di depan gerbang pabrik pengolahan makanan milik Budi, seorang pria berbaring di atas tandu sambil mengerang kesakitan.


"Biar kubilang, kalau nggak menyembuhkan saudaraku, kamu jangan berharap bisa mulai beroperasi!"

__ADS_1


"Makanan di pabrikmu telah membuat saudaraku jadi begini. Biar aku beri tahu padamu, kalau kamu Tidak bertanggung jawab, jangan harap kamu bisa terus membuka pabrikmu Kelak!"


(To Be Continued)


__ADS_2