KEHIDUPAN SEMPURNA

KEHIDUPAN SEMPURNA
Aroma Lembut


__ADS_3

"Imbran, kamu baru mulai bekerja, memangnya seberapa banyak uang yang kamu punya? Kami berdua sudah tua dan Tidak bisa apa-apa, kami hanya akan menyulitkanmu. Ayah dan ibu sudah senang karena kamu punya niat baik seperti ini," sahut Yoga buru-buru.


"Ibu, Ayah, aku benar-benar sudah kaya sekarang. Aku menyewa sebuah pulau di Stanfford khusus untuk membudi dayakan ikan laut. Aku ingin membawa kalian bertiga ke sana sekaligus membantuku. Kekayaanku sekarang sudah mencapai miliaran rupiah lho!" ujar Imbran seraya menutup panci.


Raut wajah Yoga seketika menjadi muram. Lalu, dia menimpali, "Imbran, meskipun keluarga kita miskin, kita semua punya ambisi. Kejujuran adalah yang paling penting. Kamu Tidak boleh menipu orang...


Yoga sama sekali tidak memercayai Imbran. Itulah sebabnya, dia mengkritik putranya dengan dingin.


"Paman, Imbran kini memang sudah kaya sekarang. Kekayaannya sudah mencapai miliaran rupiah."ucap salsa


Saat ini, Salsa masuk dan langsung memeluk tubuh mungil Murni, Orang lain mungkin akan mengira mereka adalah kakak beradik jika melihat keakraban ini.


Harus dikatakan bahwa Murni sangat mudah dekat dengan orang lain.


"Ayah, Kak Salsa sudah memberitahuku semua tentang Kak Imbran. Aku dengar, dia bahkan membeli vila besar di kota."


"Oh, ya. Ini vila yang Imbran beli di kota."


Salsa lalu mengeluarkan ponselnya, dan mengeklik sebuah gambar. Gambar yang


tidak lain adalah vila milik Imbran.


Imbran tidak tahu kapan Salsa mengambil foto itu. Wanita itu hampir memotret setiap sudut yang ada di dalam vila nya.


Yoga dan istrinya hanya tahu bahwa Salsa adalah teman yang Imbran bawa pulang. Namun, dilihat dari pakaian Salsa yang indah, mereka kira-kira bisa menebak bahwa wanita itu adalah anak orang berada.


Begitu melihatnya, Yoga dan Ayu seketika terdiam dan tampak terkejut. Mereka tidak bisa bereaksi dalam sesaat.


"Ka... kamu serius?"


"Tentu saja serius. Bibi, memangnya aku menipumu?" sahut Salsa sembari tersenyum.


Imbran pun menatap Salsa dengan tatapan penuh terima kasih.


"Ibu, Ayah, aku akan membudidayakan


ikan-ikan laut di Pulau pasir putih. Kebetulan sekali, kalian juga bisa membantuku. Aku akan sangat sibuk jika bekerja sendirian."


Imbran sangat tahu bahwa orang tuanya pasti akan menolak pergi ke kota jika hanya untuk bersenang-senang. Jadi, dia berpura-pura meminta bantuan mereka. Dengan begitu, Imbran bisa membawa mereka ke Stanfford untuk menikmati kehidupan indah.


Lagi pula, Murni juga akan pergi ke Stanfford untuk bersekolah. Imbran merasa tidak tenang jika kedua orang tuanya tinggal sendiri tanpa ada yang menjaga mereka.


"Baiklah kalau begitu. Lalu, siapa yang akan menjaga rumah dan ladang?" tanya Yoga dengan ragu.

__ADS_1


Imbran sama sekali tidak peduli dengan aset dan ladang keluarganya. Namun, orang tuanya telah bekerja keras sepanjang hidup.


Mereka pasti akan


merasa sedih jika melihat ladang keluarga terbengkalai begitu saja.


"Begini saja, setelah makan malam nanti, kamu kabari penduduk desa dan minta mereka untuk mengurusnya."


"Sekarang, aku sudah sukses. Ketika masih kecil, para penduduk desa benar-benar menjagaku. Sebagai ucapan terima kasih dariku, aku akan membagikan dua puluh juta rupiah kepada setiap keluarga."


"Setelah karierku stabil nanti, aku akan membiarkan para penduduk desa pindah ke pulauku. Dengan begitu, mereka juga bisa membantuku."


Imbran segera memberikan solusi. Sebenarnya, hanya ada beberapa orang bermarga Baskara di desa ini. Imbran juga hanya mengeluarkan uang puluhan juta rupiah.


Bagaimanapun, uang puluhan juta rupiah


bisa di bandingkan kasih sayang penduduk desa. dan itu


hanya uang kecil bagi Imbran sekarang.


Malam harinya, dua ember makanan laut dibagikan ke tiga meja besar. Meja yang dipenuhi makanan laut itu seketika membuat orang-orang sangat lapar.


"Wah, makanan laut ini sangat enak!"


Para penduduk desa menghabiskan seluruh makanan laut. Mereka semua makan hingga sangat kenyang.


Penduduk desa sangat terkejut. Imbran baru saja tamat kuliah, tetapi sudah menghasilkan uang sebanyak itu.


Setiap keluarga yang menerima uang dua puluh juta rupiah pun tampak sangat gembira.


"Yoga, putra kalian benar-benar hebat. Kalian sudah bisa hidup enak sekarang!"


"Aku Tidak menyangka Imbran sangat hebat. Dia baru tamat kuliah, tapi sudah menghasilkan uang sebanyak itu."


Semua orang memegang uang dua puluh juta rupiah yang dibagikan Imbran sambil sibuk menyanjung.


Namun, para penduduk desa itu sangat baik hati. Ketika mendengar Imbran sudah sukses, mereka benar-benar turut merasa senang.


Tidak ada kebencian di hati mereka, itu yang membuat Imbran merasa Senang berada disini.


Malam makin larut sedikit demi sedikt para penduduk desa mulai bubar. Setelah membersihkan meja, Yoga dan Ayu mulai mengemasi barang-barang yang akan mereka bawa ke kota dengan perasaan gembira.


Imbran pun merasa sangat senang saat melihat senyuman di wajah mereka.

__ADS_1


"Ibu, barang-barang ini Tidak perlu dibawa. Nanti kita beli di kota saja. Lagi pula, mobil ku Tidak bisa menampung barang sebanyak itu."


Ketika melihat ibunya hendak memindahkan lemari kayu yang dibuat oleh ayahnya, Imbran buru-buru berkata demikian dengan tidak berdaya.


Setelah mendengar ucapan Imbran, Ayu terpaksa mengurungkan niatnya itu dengan sedih.


Pada pukul 22.00, semua orang akhirnya hendak tidur. Saat ini, Ayu pun mulai merasa bingung.


Yusran membawa seorang gadis pulang, tetapi rumah mereka tidak ada kamar kosong lagi.


Ranjang Murni juga terlalu kecil sehingga tidak bisa menampung orang terlalu banyak.


"Salsa, kamu bisa tidur di kamarku. Aku akan tidur di ruang tamu."


"Maaf, ya. Rumah kami agak kumuh. Semoga kamu Tidak keberatan."


Imbran berinisiatif berkata demikian. Dia menyuruh Salsa tidur di kamarnya.


Lagi pula, ini hanya untuk satu malam. Besok, dia akan membawa orang tuanya ke kota.


Salsa juga sudah sangat lelah karena terus beraktivitas hari ini. Dia langsung masuk ke kamar dan bersiap-siap untuk tidur.


Karakter Salsa cukup baik. Dia tidak manja seperti gadis kaya lainnya.


Sebaliknya, anak orang kaya lainnya mungkin akan mengeluh tanpa henti jika dihadapkan dengan situasi seperti ini.


Imbran juga sudah mengantuk. Dia hendak mematikan lampu dan tidur.


Detik berikut nya Salsa tiba-tiba membuka pintu, lalu menatap Imbran dengan ekspresi ketakutan.


"Imbran, kemarilah dulu, sepertinya ada sesuatu di bawah ranjang. Aku takut ... ujar Salsa dengan wajah pucat pasi. Dia melambaikan tangannya dengan panik ke arah Imbran.


Begitu melihatnya, Imbran pun masuk ke kamar. Dia menghidupkan senter ponselnya untuk menyinari bagian bawah ranjang. Tiba-tiba, dia menemukan seekor tikus besar di sudut bawah ranjang.


Salsa yang juga ikut menunduk menemukan tikus besar hitam itu. Dia sontak berseru kaget, lalu melompat ke tubuh Imbran dan langsung memeluknya dengan erat bagaikan seekor Gurita.


"Astaga, Imbran, aku paling takut tikus. Kenapa bisa ada tikus sebesar itu di sini?" tanya Salsa dengan suara bergetar. Dia tampak sangat ketakutan


Seketika, Imbran mencium aroma lembut dari pelukannya. Dia juga merasakan sentuhan lembut Bukit kembar Salsa.


Begitu melihat ke bawah, Imbran langsung mendapati buah dada Salsa yang putih.


Wow! ucap Imbran hampir mimisan dibuatnya.

__ADS_1


Salsa juga merasa ada yang salah dengan posturnya saat ini. Setelah mengikuti arah pandangan Imbran, Salsa pun mendapati bahwa pria itu sedang menatap buah dadanya.


(To Be Continued)


__ADS_2