
Oops!
Salsa buru-buru turun dari tubuh Imbran. Wajahnya tampak sangat merah dan matanya terus mengelak. Dia tidak berani menatap Imbran secara Langsung
Imbran juga merasa sedikit canggung. Dia Pun lalu berkata, "Kamu tunggu di sini, aku akan mengambil alat untuk mengusir tikus itu."
"Ya."
Suara Salsa terdengar sangat Kecil. Dia mengiakan sembari mengangguk.
Kemudian, Imbran menemukan alat penjepit Makanan. Dengan Beberapa kali perjuangan akhirnya dia dapat mengambil tikus itu dan mengeluarkannya dari bawah ranjang.
Ketika Salsa melihat tikus Hitam yang sangat besar itu, Dia seketika tampak sangat ketakutan, lalu dia meringkuk di salah satu sisi ranjang. Imbran yang melihatnya pun merasa sedikit lucu.
"Sebenarnya, tikus itu Tidak begitu menakutkan kok. Mereka cukup lucu," goda Imbran sembari memainkan ekor tikus.
"Ce... cepat buang tikus itu! Mengerikan sekali!" seru Salsa dengan panik, sorot matanya tampak sangat ketakutan..
Imbran tidak menakutinya lagi. Dia segera membuka jendela di samping kamar, lalu melempar tikus besar itu sejauh-jauh nya.
"Oke, tikusnya sudah dibuang. Istirahatlah dengan baik malam ini. Besok, kita harus kembali ke kota," ujar Salsa.
"Oke, kamu juga cepat tidur.Tidak perlu mematikan lampunya. Jadi, kamu Tidak akan takut," sahut Imbran sembari keluar kamar.
Kemudian, Imbran menggelar tikar di ruang tamu. Dia yang sudah mengantuk langsung memejamkan matanya.
Keesokan harinya, ketika langit sudah mulai terang, Imbran terbangun, lantas mengucek matanya.
Berhubung hari sudah hampir pagi, Imbran pun tidak tidur lagi. Dia mulai memindahkan barang-barang ke mobil nya.
Tidak lama kemudian, ayah dan ibu nya juga bangun. Mereka pun turut membantu Imbran memindahkan barang-barang.
Beberapa barang itu seharusnya sudah dibuang sejak lama. dan Mereka tinggal membeli yang baru di kota. Namun, ayah dan ibu nya bersikeras untuk membawanya sehingga Imbran terpaksa menuruti mereka.
Ibu nya bahkan memasukkan ayam dan bebek peliharaan mereka ke kardus.
"hendak membawanya ke kota.Sungguh orang tua yang sangat hemat."
Untung, keluarganya tidak memelihara sapi dan kuda. Kalau tidak, Imbran akan sangat kewalahan.
Tidak lama kemudian, langit sudah terang. Si ibu lalu menyiapkan makanan untuk semua orang, lalu mereka berangkat setelah selesai sarapan.
Butuh beberapa jam untuk berkendara dari desa ke Haruma. Mobil pik-up itu sangat pas untuk menampung mereka berlima. Saat ini, Salsa pun datang dan duduk di samping kursi pengemudi.
Para penduduk desa juga datang untuk mengantar kepergian Yoga dan keluarganya. Setelah berbasa-basi sebentar, Yoga, Ayu, dan Murni akhirnya naik ke bak belakang mobil.
Mobil langsung melaju ke luar gunung. Mereka segera sampai di jalan tol.
Setelah mengemudi sekitar empat jam, akhirnya Imbran dan yang lainnya memasuki kota.
__ADS_1
"Kita sudah sampai di kota. Gedung-gedung di kota ini sangat besar!" puji Ayu ketika melihat bangunan tinggi.
"Kak, apakah kita sudah mau sampai?" tanya Murni.
"Kita sudah sampai."
Imbran langsung berbelok ke kanan, lalu masuk ke kompleks perumahan. Kemudian, dia mengemudikan mobilnya ke garasi kecil di depan vilanya.
Setelah turun dari mobil, Yoga dan yang lainnya seketika takjub melihat vila mewah ini.
"Imbran, vila ini benar-benar milikmu?" tanya Yoga sembari menatap vila besar yang mewah itu dengan tatapan tidak percaya.
Dia merasa dirinya sedang bermimpi saat ini Sehingga tidak percaya bahwa ini adalah kenyataan.
"Rumah ini terlalu besar dan indah. Kak, kamu benar-benar hebat sekarang!"ucap Murni.
Imbran tersenyum sambil membuka pintu vila. Dia berkata seraya tersenyum, "Tentu saja. Ayo, cepat masuk. Lihatlah kamar mana yang kalian inginkan."
Setelah itu, mereka semua pun memasuki vila. Begitu melihat ubin yang mengkilap dan dekorasi mahal yang tergantung di dinding, mereka langsung berseru takjub.
Meskipun beberapa generasi dari keluarga mereka bekerja keras semasa hidup, mereka tetap tidak akan mampu membeli rumah seperti ini.
Namun, putra mereka yang baru lulus kuliah sudah memiliki rumah yang begitu besar dan indah.
Putra mereka benar-benar hebat.
"Imbran, aku Tidak pulang seharian kemarin. Takutnya kakekku khawatir. Aku akan pulang dulu," ujar Salsa.
"Tidak perlu."
Salsa langsung keluar dari vila. Setelah terdengar deru mobil mewah milik Salsa, mobilnya pun melaju pergi.
Kemudian, Imbran pun menetapkan kamar terbesar di lantai pertama sebagai kamar orang tuanya. Sementara itu, kamar Murni terletak di sebelahnya.
Setelah itu, Imbran mengeluarkan ponselnya untuk menelepon Siren. "Halo, di mana kamu?"
"Bantu aku membeli barang kebutuhan sehari-hari. Beli juga seprai dan barang lainnya. Aku mau dua set. Kalau sudah, kirimkan ke Kompleks Phoenix nomor 568."
Sesaat berikutnya, Siren menjawab dengan tidak sungkan dari ujung telepon, "Dasar bos jahat! Aku adalah sekretaris resmi. Tugasku mengurus urusan kantor. Aku Tidak mau mengurus hal-hal pribadi seperti itu. Selain itu, aku masih harus menyuruh tim konstruksi naik kapal dan masuk ke pulau."
Usai berkata demikian, Siren langsung menutup teleponnya. Dia sama sekali tidak takut Imbran nanti memecat nya.
Imbran seketika tertegun ketika melihat Siren mengakhiri panggilannya. sepihak Sekretarisnya ini benar-benar sangat sombong.
Imbran pun hanya bisa pergi sendiri karena Siren menolak.
Setelah mengajari orang tuanya cara menggunakan peralatan dapur Elektronik, Imbran Lalu mengemudikan mobil mewahnya dan langsung melaju ke mal.
Setibanya di mal, Imbran segera mencari
__ADS_1
staf yang bisa membantunya.
"Seprai, perlengkapan mandi, piama, handuk Kasur ... " Imbran menyebutkan banyak sekali barang-barang yang diperlukannya, lalu meneruskan, "Bantu aku mengirimkan semua barang ini ke Kompleks Phoenix nomor 568."
Setelah itu, Imbran datang ke toko ponsel. Dia membeli tiga ponsel model terbaru yang akan diberikan kepada orang tuanya dan Murni nanti.
Ditengah kesibukan Imbran, ponsel nya lalu berdering. Dia tidak mengenal nomor tersebut.
Siapa yang meneleponnya?
Imbran yang penasaran segera menjawab telepon. "Halo, siapa ini?"
"Identitasku Tidak penting. Aku ingin mendiskusikan suatu hal denganmu. Aku akan membayarmu enam puluh empat miliar rupiah setelah kamu menyerahkan
hak sewa Pulau Pasir putih kepadaku," ujar pria di ujung telepon.
"Aku menolak, masalah ini Tidak perlu didiskusikan."
Imbran langsung mengakhiri panggilan itu. Konyol sekali! Dia berhasil menyewa pulau itu dengan susah payah, mana mungkin dia membiarkan orang lain mengambil alih?
Di gedung kantor lantai atas Grup Viktor di Stanfford, seorang pemuda menatap layar ponselnya dengan tajam dan sang Marah.
"Tuan Muda Willy, bagaimana? Apa dia setuju?" tanya Toto yang berdiri di samping dengan nada menyanjung.
Pemuda di samping Toto tidak lain adalah Tuan Muda Kedua dari Grup Viktor, Willy Cagur.
"Dia menolak. Ayahku menyerahkan proyek ini kepadaku. Aku Tidak aka
membiarkannya hancur begitu saja.
"Manajer Toto, telepon seluruh Armada Jangan sampai ada yang membantu orang itu mengantarkan barang. Kemudian, beri tahu pekerja di dermaga untuk menghentikan orang-orang yang hendak pergi ke Pulau Pasir putih."
"Huh! Berani sekali dia melawanku. Sudah bosan hidup, ya? Aku akan membuatmu memohon kepadaku!" ucap Willy seraya tersenyum sinis.
"Baik."
Sementara itu, Imbran kembali ke rumah setelah selesai mengurus semuanya. Saat ini, orang tuanya sudah selesai memasak.
Imbran merasa sangat puas ketika melihat keluarganya tinggal di vila ini. Akhirnya, rumahnya tidak sedingin dahulu lagi.
"Ayah, Ibu, aku akan membawa kalian
pergi ke pulau yang kusewa beberapa hari
lagi. Pembangunannya seharusnya akan
segera dimulai. Aku rasa pulaunya akan
selesai dalam waktu singkat," kata Imbran
__ADS_1
sambil tersenyum
(To Be Continued)