
Saat ini, Budi menjawab sebuah panggilan telepon dan tiba-tiba Wajah nya menunjukkan ekspresi cemas.
Budi berdiri dan berkata dengan penuh penyesalan, "Maaf semuanya. Ada sesuatu yang harus aku tangani sekarang. Aku benar-benar minta maaf. Setelah uang makanannya dibagi rata, aku akan mentransfernya pada kalian."
Melihat tampang cemas dari ketua kelas, semua orang tidak mengatakan apa-apa.
Budi Bergegas meninggalkan kamar privat itu dengan tergesa-gesa.
Sementara itu, saat Imbran melihat Budi pergi dan mendapati sekelompok teman sekelasnya yang Terus-terusan Menyanjung Perdi, Imbran juga merasa tidak ada artinya untuk tetap tinggal di acara reuni ini.
Kemudian, Imbran pun Berinisiatif pamit dan hendak pergi dari sana.
"Hei! Imbran, kamu mau pergi begitu saja? Kamu nggak melupakan sesuatu? Kita sudah sepakat membagi rata biayanya. Kamu belum memberikan bagianmu, 'kan?" tanya Perdi dengan dingin.
"Aku akan mentransfernya langsung ke grup obrolan nanti!" kata Imbran dengan acuh tak acuh.
"Hehe, apa kamu pikir kamu adalah ketua kelas? Lihatlah penampilanmu ini. Jangan-jangan kamu nggak mau membayar dua juta rupiah ini, ya?" ujar Perdi dengan nada meremehkan.
Saat teman-teman sekelas yang berada di sana mendapati suasana tegang antara Perdi dan Imbran, satu per satu dari mereka berpangku tangan seolah-olah sedang menonton pertunjukan yang seru.
"Apa menurutmu aku Tidak sanggup membayarnya?" tanya Imbran sembari mencibir.
"Iya, aku memang meremehkanmu. Dasar nggak tahu malu. Bayarlah terlebih dahulu baru kita lanjut bicara!" ujar Perdi dengan kepala yang sedikit terangkat dan mengisyaratkan ejekan dari mulutnya.
"Bukankah ini cuma uang sekali makan saja? Kamu malah mempermasalahkannya sampai seperti ini. Begini saja, biar aku yang mentraktir kalian kali ini!"
Perdi tersenyum seolah-olah dia telah mendengar sebuah hal yang sangat lucu. Kemudian, dia tertawa Terbahak-bahak sambil berkata,
"Ini adalah hotel bintang
lima. Apakah kamu pikir ini warung makan Pinggir jalan hah? Kamu juga nggak akan sanggup membayarnya dengan gajimu selama setahun Mikir dong."
"Heiii Imbran, dasar sombong. Kalau nggak bisa melunasinya, kamu mungkin harus tinggal di hotel ini untuk Mencuci piring."
"Orang yang terlalu mementingkan harga dirinya hanya akan menderita pada akhirnya. Maksud dari kalimat ini mungkin merujuk pada orang seperti ini, 'kan?"
Orang-orang yang berada di sana menghina Imbran secara bergiliran.
"Lihatlah tampang kalian ini. Benar-benar menjijikkan!" kata Imbran sambil tersenyum dingin. Kemudian, Imbran langsung datang ke depan pintu kamar privat dan memanggil seorang pelayan.
"Minta tagihannya!"
"Aku ingin melihat bagaimana dia melunasi tagihannya.
Bagaimanapun, tagihan makanan Kita-kita ini bisa mencapai puluhan juta atau bahkan ratusan juta rupiah!"
Pelayan mengambil tagihan dan berkata, "Halo, Pak, totalnya seratus juta rupiah."
"Haha, seratus juta rupiah. Kamu terkejut, kan? Bahkan, jika badan kamu dijual pun belum tentu bisa semahal itu!"
__ADS_1
"Mau bayar dengan kartu atau transfer uangnya lewat ponsel pak?" tanya pelayan itu secara langsung.
"Bayar dengan ponsel saja!" kata Imbran dengan nada datar.
"Hehe! Masih sok hebat saja. Ternyata, kamu nggak akan kapok kalau belum benar-benar mendapatkan imbasnya, ya,' ejek Perdi sembari menatap Imbran.
Dina juga menatap Imbran dengan raut wajah mengejek. Dia juga tahu bahwa Imbran adalah seorang pria miskin dari kampung yang baru saja lulus. Mana mungkin Imbran bisa punya seratus juta rupiah?
Imbran langsung membuka M-Banking di Hp nya lalu mentransfer seratus juta rupiah. Akan tetapi, uangnya tidak segera tiba karena jaringan internet yang tidak terlalu bagus.
Ketika melihat hal ini, Perdi langsung tertawa senang dan berkata, "Haha! Saldomu e
nggak cukup, 'kan?"
"Dasar miskin!"
Sebelum Perdi selesai berbicara, jaringan internetnya sudah lancar kembali dan seratus juta rupiah pun sudah berhasil ditransfer.
"Ting... seratus juta sudah masuk ke akun!" Terdengar bunyi suara mesin kasir yang berada di depan petugas kasir.
"Perdi tiba-tiba berhenti mengejek. Raut wajahnya berubah menjadi sangat tidak enak dilihat. Sementara itu, saat menerima bayarannya, petugas kasir membungkuk pada Imbran dan bersiap meninggalkan kamar privat itu.
"Tunggu sebentar!"
Imbran langsung menghentikan pelayan yang akan meninggalkan kamar privat itu.
"Aku akan memberimu tip dua juta rupiah lagi. Tolong bantu aku membungkus semua makanan ini dan melemparkannya ke bawah jembatan untuk dijadikan makanan anjing!"
Pelayan itu juga tampak terkejut. Akan tetapi, Imbran adalah orang yang membayar tagihan kamar privat ini sehingga dia berhak menangani seluruh hidangan yang ada di sana.
Selain itu, Imbran juga memberikan tip
sebesar dua juta rupiah kepadanya. Pelayan hotel itu
langsung mengeluarkan kotak
pembungkus dan membungkus semua Makanan itu.
Dia hendak menjadikannya
sebagai makanan anjing seperti apa yang Diperintahkan Imbran.
Acara reuni itu juga tidak bisa dilanjutkan lagi. Perdi dan rombongannya juga langsung meninggalkan hotel itu.
Sementara itu, Imbran yang memberikan tip sebesar dua juta rupiah juga tiba di lantai bawah hotel.
Begitu menyalakan kendaraannya, dia melihat Dina dan lainnya.
"Huh, seratus juta itu mungkin adalah seluruh hasil jerih payah orang tuanya Dia malah menggunakannya untuk pamer di depan kita dasar tidak tahu malu!"
__ADS_1
"Orang yang paling bodoh adalah orang semacam ini. Apa dia kira dia benar-benar orang kaya dengan bersikap sok hebat?"
Sekelompok orang-orang ini sedang mengejek Imbran satu per satu.
Imbran tidak kuasa menahan dirinya untuk mencibir. Kemudian, dia menarik gas motor Listrik nya kencang sekali langsung mengeluarkan raungan nyaring yang menarik perhatian sekelompok orang-orang ini.
Imbran kemudian berkata dengan datar, "Maaf, nilai kekayaanku telah mencapai lebih dari delapan puluh miliar. Bahkan, sekarang aku Memiliki Vila mobil dan Hal terduga lain nya Motor yang ku pakai ini hanya lah sekedar keisengan ku.
Selanjutnya, Imbran pun langsung pergi dengan mengendarai motor Listrik nya.
Sementara itu, Perdi dan sekelompok teman sekelasnya yang lain tercengang saat melihat Imbran pergi dari sana.
"Apa kalian yakin orang yang mengendarai Motor Listrik seperti itu benar-benar Imbran Mulut nya Tajam sekali Dan Astaga Dia Mengatakan Punya Vila Dan Mobil Mewah?"
"Aku nggak salah dengar, 'kan? Kenapa dia bisa begitu kaya?"
"Apa mungkin Selama ini Imbran Adalah anak orang kaya yang berpura-pura Miskin?"
Mendengar seruan kaget dari semua orang, raut wajah Perdi berubah menjadi suram. Dia juga ternganga keheranan.
Dia harus bersusah payah meminta dua ratus juta rupiah dari keluarganya untuk dapat membayar uang muka mobil kelas menengah. Sementara itu, Imbran malah mengendarai mobil sport yang nilainya mencapai puluhan miliar rupiah.
Namun, Dina masih tampak terkejut. Ada jejak penyesalan yang melintas di tatapan matanya.
Keesokan harinya, Imbran bangun pagi-pagi sekali dan mengendarai Ferrari itu langsung ke depan gerbang pabrik Budi.
Tidak lama setelah Imbran menelepon Budi, Budi pun sudah tiba di depan gerbang.
Melihat Budi yang sedang celingukan, Imbran menyadari bahwa Budi tidak tahu dirinya sedang duduk di dalam mobil.
"hey Bud, aku ada di sini sapa Imbran!"
Dengan menelusuri suara Imbran, Budi pun segera melihat wajah Imbran yang berada di dalam mobil mewah.
"Buset. Ka-kamu.."
Kedua mata Budi terbelalak dan ekspresi wajahnya tampak tidak percaya dengan semua ini.
"Kamu ... kamu benar-benar Imbran?"
"Kenapa? Padahal, kita baru satu malam Tidak bertemu, tapi kamu sudah Tidak mengenaliku lagi!" kata Imbran sambil Tersenyum kepada Budi.
"Buset, buset. Imbran, kenapa kamu bisa mengendarai mobil mewah semacam ini? Apa kamu menang undian satu triliun?" Budi merasa sangat terkejut dan berseru kaget sebanyak dua kali secara berturut-turut.
"Nanti, aku akan menceritakannya secara detail padamu. Apa kamu gak membawaku untuk berkeliling di pabrikmu? Aku ingin minta bantuanmu untuk satu hal nantinya."
Setelah memarkirkan mobilnya, Imbran lalu masuk dengan mengikuti Budi di samping dan mulai mengelilingi pabrik.
Setelah mendengar bahwa Imbran langsung menyewa sebuah pulau di lepas pantai untuk bertambak hewan laut, Budi langsung mengacungkan jempol dan berkata, "nggak kusangka! Padahal, kemarin Aku Masih mau menyuruhmu untuk bekerja di pabrikku! Benar-benar memalukan. Sungguh sangat memalukan!"
__ADS_1
Imbran merasa cukup puas setelah mengelilingi pabrik Budi. Higienes pabrik itu dijaga dengan cukup baik dan kelihatan nya bersih.
(To Be Continued)