
Sekelompok orang Langsung menghadang di pintu pabrik untuk melarang para pekerja masuk.
Budi tidak berdaya sehingga dia meminta para pekerja untuk pergi dari situ.
Saat ini, Imbran melihat wajah yang familier. Orang itu tidak lain adalah Toto dari Grup Viktor.
Kenapa dia ada di sini? Mungkinkah masalah hari ini berkaitan dengannya?
Imbran mengamati sejenak, lalu turun dari mobil dan menghampiri Budi. Dia kemudian bertanya, "Budi, apa yang terjadi? Ada apa dengan orang-orang ini?"
"Aih, Grup Viktor ingin memutuskan kontrak. Mereka mau mengambil kembali tanah pabrik kami. Itu sebabnya terjadi kekalutan ini!"
"Hehe, Pak Imbran. Kita bertemu lagi. Maaf sekali, kami akan mengambil kembali tanah pabrik Budi ini!"
"Beraninya kamu bekerja sama dengan Imbran di wilayah kami Tidak tahu diri. Akibatnya, pabrikmu Tidak bisa jalan lagi!"
Saat ini, Imbran baru mengerti apa yang sedang terjadi. Ternyata, target mereka adalah dirinya sendiri.
"Maaf, Budi. Aku sudah menyulitkanmu!" ujar Imbran dengan penuh penyesalan.
Budi tersenyum masam seraya berkata dengan putus asa, "Tidak apa-apa. Aku hanya Tidak menyangka mereka akan mengabaikan perjanjian. Ternyata, mereka menggunakan cara yang kotor.
Mereka menyuruh orang untuk berpura-pura sakit untuk menjebakku!"
"Haha, Budi, kamu dan perusahaan kami memang sudah menandatangani perjanjian sewa tanah selama sepuluh tahun. Akan tetapi, terjadi kasus seperti ini di pabrikmu. Kami terpaksa membatalkan sewa secara sepihak demi menjaga citra grup kami."
"Begini saja, akan kutangani orang sakit ini, tapi biaya ganti rugi pembatalan kontrak akan dianggap sebagai upah kami yang telah membantumu. Apa kamu setuju?"
Toto tertawa terbahak-bahak sembari mengeluarkan selembar kontrak, yaitu perjanjian sewa-menyewa yang ditandatangani Budi.
"Kalian keterlaluan. Kalian yang membatalkan perjanjian secara sepihak.
Berdasarkan perjanjian, kalian harus mengganti biaya pemindahan pabrik dan kerugian kami lainnya!" kata Budi sembari menunjukkan wajah masam.
"Huh, apakah kamu berpikir, kamu dapat memindahkan barang-barang di pabrik ini kalau tidak menandatangani perjanjian pembatalan sewa? Biar kuingatkan kamu, lebih baik kamu bersikap bijak dan segera menandatangani perjanjian ini. Jangan sampai kami bermain kasar!" ujar Toto dengan dingin.
"Grup kalian sungguh tak tahu malu. Aku Tidak akan menyewa gedung pabrik ini kalau mengetahui sikap perusahaan kalian seperti ini!" ujar Budi dengan marah.
__ADS_1
"Huh, siapa yang menyuruhmu tidak mau menuruti permintaan kami?"
"Budi, biarkan kutangani masalah ini. Kamu pegang ponsel ini dan merekam video!" bisik Imbran kepada Budi sambil melirik pria yang berpura-pura sakit dan terbaring di atas tandu.
"Apa yang akan kamu lakukan?" tanya Budi yang menatap lekat kearah Imbran dengan ragu-ragu.
"Kamu tunggu saja!"
Saat ini, Imbran berjalan ke depan dan melihat pria yang berpura-pura sakit di atas tandu.
"Hehe, aku benar-benar Tidak mengerti kalian ini berpura-pura atau tidak? Aku pernah mengunjungi pabrik makanan ini, semuanya ditata dengan bersih dan higienis. Bahan yang dipilih juga yang terbaik. Mana mungkin bisa terjadi masalah?" ujar Imbran sambil tersenyum sinis.
"Huh, maksudmu kami sengaja datang untuk menipu?" ujar seorang pria kekar di antara kawanan pria tersebut.
Kemudian, pria kekar itu mengeluarkan udang kaleng yang sudah dimakan setengah sembari berbicara dengan galak.
"Kaleng ini berasal dari pabrik kalian. Masih ada setengah kaleng udang. Kawanku sakit karena memakan udang kaleng ini. Kamu boleh mencobanya!"
udang kaleng yang dipegang pria kekar ini memang produk pabrik Budi, tetapi Udang di dalam kaleng itu sudah diakali mereka.
Imbran menggunakan air spiritual untuk menyeka matanya sendiri sehingga dapat melihat banyak bakteri dari luar di dalam ikan kaleng ini.
kaleng itu. Anak ini pasti akan sakit jika mengonsumsinya. Saat itu, Budi akan dikambinghitamkan dan hal ini sama sekali tidak berhubungan dengan dirinya.
"Apa kamu berani mencobanya? Dasar pengecut! Kamu masih ingin sok-sokan membela orang lain!"
Imbran tertawa seraya berkata dengan suara pelan, "Kenapa aku Tidak berani? Kalau aku baik-baik saja setelah makan, kalian harus segera pergi!"
"Imbran, jangan! Mereka sudah memasukkan sesuatu ke dalam kaleng itu. Bau kaleng itu sama sekali bukan udang kaleng yang diproduksi di pabrik kami!" bisik Budi di sisi Imbran saat ini.
"Jangan khawatir, semua akan baik-baik saja!" Imbran menenangkan Budi, lalu langsung menghampiri pria kekar itu.
"Kita sepakat, asalkan aku baik-baik saja setelah memakan isi di dalam kaleng ini, kalian harus segera pergi!" kata Imbran menegaskan kembali.
"Asalkan kamu tidak sakit setelah
memakan ikan kaleng ini, masalah ini jelas Tidak ada hubungannya dengan Budi," timpal Toto dari samping. Salah Imbran sendiri kalau dia memakan udang kaleng yang mengandung arsenik ini. Jadi, Toto tidak perlu bertanggung jawab.
__ADS_1
Bahkan, dia bisa menuduh makanan olahan pabrik Budi bermasalah.
"Kita berjanji dulu. Kalau kamu memakannya, semua konsekuensi yang terjadi Tidak ada hubungannya dengan kami!" ujar pria kekar itu.
"Tentu saja, kalian Tidak perlu bertanggung jawab atas konsekuensinya. Akan kutanggung jawab sendiri!"
Kemudian, Imbran mengulurkan tangan dan mengambil ikan kaleng itu, lalu mengaktifkan kemampuan khususnya.
Sebilah pedang air yang sangat kecil dan tak kasatmata muncul dalam kaleng ikan tersebut.
Imbran menggunakan pedang kecil itu untuk menghancurkan semua bakteri dan racun dalam kaleng itu.
"Kenapa kamu masih bengong? Cepat makan. Apa kamu Tidak berani?" Toto sengaja menyindir untuk memancing Imbran memakan udang kaleng yang beracun tersebut.
"Hehe, sudah kutahu dia Tidak akan berani. Pabrik makanan ini pasti bermasalah. Kalau hari ini kalian tidak membayar ganti rugi untuk menyelesaikan masalah ini, jangan berharap pabrik kalian bisa beroperasi!"
"Pengecut!"
Semua orang mulai menyindir, sementara Imbran sudah membersihkan semua zat racun dalam kaleng itu. Dia mengambil sepotong daging ikan yang tersisa dengan jarinya dan memasukkannya ke dalam mulut.
Imbran makan sambil berbicara, "Hmm, rasanya lumayan, cukup enak!"
Semua orang tercengang ketika melihat Tindakan Imbran. udang kaleng ini sudah dicampur dengan arsenik.
Anak ini kemungkinan akan mati.
"Haha, Imbran ini bodoh atau memang mau mati. Ternyata, dia berani memakannya. Kamu akan merasakan akibatnya setelah racunnya bekerja!" ucap Toto sambil tertawa terbahak-bahak. Dia pasti akan mendapatkan imbalan besar apabila Imbran meninggal di sini.
"Kenapa? Apa ada racun di kaleng ini? Kenapa aku baik-baik saja?" kata Imbran sambil tersenyum.
"Hehe, kamu hanya perlu menunggu beberapa menit lagi. Kawanku menjadi seperti ini beberapa menit setelah memakan ikan kaleng ini!" Pria kekar itu tertawa terpingkal-pingkal.
"Baiklah, kita menunggu beberapa menit lagi. Kuingin tahu apa yang akan terjadi
pada diriku?"
Satu menit berlalu, dua menit berlalu, dan lima menit berlalu, tetapi Imbran masih baik-baik saja.
__ADS_1
(To Be Continued)