
"Kalau tidak boleh parkir di sini, kenapa mobil-mobil ini ada di sini? tanya Imbran sambil menunjuk mobil kecil di samping."
"Huh! Lihatlah, mana ada mobil yang harganya puluhan juta seperti punyamu mobil-mobil disini rata-rata di atas miliaran rupiah?
Lihatlah dan buka bola mata mu besar-besar apakah layak mobil pik-up seharga puluhan juta rupiah. berada di dekat mobil bermerek,Dengusan Satpam yang angkuh ini menunjukkan ekspresi yang sangat menghina.
Imbran akhirnya mengerti bahwa pria itu adalah bajingan yang suka memandang rendah orang lain.
"Mobilku beroda empat dan surat-surat lengkap, begitu juga dengan mobil orang lain. Kenapa aku tidak boleh parkir di sini?"
"Orang lain datang ke sini karena punya banyak uang dan aset mereka.
semua di atas miliaran rupiah. Ini bukan tempat yang bisa didatangi oleh orang miskin sepertimu. Tidak peduli itu jual atau sewa, harga properti di sini melebihi jumlah yang mampu kamu keluarkan."
Satpam itu menunjuk ke jalanan di luar dan berkata dengan nada menghina, "Kalau mau sewa rumah, ada agen real estat kecil di tepi jalan barat daya, Harga sewa bulanan rumah di sana tiga ratus sampai lima ratus ribu rupiah."
"Bajingan apa maksudmu, aku tidak pantas datang ke sini karena tidak cukup kaya?" Imbran tersenyum lebar dan melanjutkan, "Kemarilah, biar kutunjukkan sesuatu kepadamu."
Imbran mengeluarkan ponsel model terbaru yang dia beli di moll waktu itu, lalu membuka layar perbankan
mengeklik sebuah pesan teks.
"Coba hitung, ada berapa titik nol di sini?"
Satpam itu sedikit rabun jarak jauh. Dia melebarkan matanya dan mendekat sebelum bisa melihat sebaris angka.
Satu, dua, tiga, empat, lima ...
"Buka matamu lebar-lebar, berapa jumlah digitnya?"
"Se... sebelas!"
Keringat dingin terus bercucuran dari dahi satpam itu. Sebelas digit, artinya pemuda di depannya ini memiliki aset sebesar puluhan miliar rupiah. Jumlah saldonya lebih dari delapan puluh miliar rupiah.
Jika orang ini melapor kepada atasannya, dia akan kehilangan pekerjaannya saat ini juga,
"Detik Berikut nya Satpam tersebut Menampar diri nya sendiri,"
"Plaaakk..
Plaaakkk...
"Tu-tuan, maafkan a-aku. Benar-benar mohon maaf..."
Satpam itu buru-buru meminta maaf berulang-ulang kali dan dengan sedikit tergagap dia gemetar ketakutan di bibir bercucuran darah bekas tamparan diri nya sendiri,
"Melihat Satpam yang angkuh itu sudah menyakiti diri nya sendiri dan ketakutan hingga nyaris menangis Imbran lalu berkata.
"Sekarang, apa aku bisa parkir di sini?" ujar Imbran sambil tersenyum datar.
"Bisa, tentu saja bisa tuan!"
Imbran juga tidak ingin berlama-lama di sini. Dia berkata dengan dingin, "Ingat, ke depannya jangan merendahkan orang lain lagi. Jaga baik-baik mobilku. Kalau tidak, aku akan melaporkanmu setelah keluar nanti."
Imbran berjalan lurus ke dalam.
__ADS_1
Satpam itu menghela napas lega sambil menyeka darah yang ada di bibir nya dia berkata,
"Orang kaya yang satu ini benar-benar aneh. Dia jelas-jelas memiliki aset puluhan miliar rupiah. Tapi, mengapa dia malah mengendarai mobil yang hanya seharga puluhan juta rupiah
untuk berbisnis."Dunia orang kaya memang aneh Gumam satpam lirih
Setelah memasuki pusat pelelangan real estat, Imbran langsung menemukan seorang staf dan bertanya, "Di mana lokasi penawaran kontraktor Pulau pasir putih?"
Staf itu mengamati Imbran sekilas dan langsung berkata, "Untuk penawaran Pulau Pasir putih, kamu harus membayar uang muka dua miliar rupiah dulu untuk mendapatkan kualifikasi pemberian penawaran."
"Tidak masalah. Di mana aku bisa membayar uang muka nya?"
"Ikut aku."
ok disini,
Imbran membayar uang muka tersebut dan mendapatkan kualifikasi untuk memberikan penawaran. Dia langsung pergi ke lantai delapan dan tiba di depan pintu sebuah ruang rapat.
benar di sini. Imbran melirik catatan kecil yang berisikan nomor kamar VVIP, Nomor 202 dan kemudian dia langsung membuka pintu ruangan itu dan berjalan masuk.
Ternyata didalam,
Sudah ada banyak bos yang menunggu untuk melakukan penawaran di sini. Ketika melihat Imbran berjalan masuk, orang-orang itu menunjukkan ekspresi tidak senang. Mereka mungkin merasa bahwa wajah ini terlihat asing, tetapi mereka juga tidak mengatakan apa-apa.
Ruang rapat ini berukuran standar dengan luas sekitar 80 meter persegi. Terdapat 60 sampai 80 kursi di sana. Di depan tempat duduk orang-orang itu, terdapat sebuah podium.
Sekarang, total ada 20 sampai 30 orang yang sedang duduk di bawah podium. Sementara melihat sana-sini Imbran mencari sebuah tempat duduk kosong dan duduk di sana.
"Kenapa orang ini juga datang ke sini?"
"Oh, Sekretaris Ren, kamu mengenal orang ini? Seperti apa latar belakangnya?" tanya pria di samping sekretaris itu.
Sekretaris Ren lalu menggelengkan kepalanya dan berkata dengan datar, "Pak toto, aku tidak mengenal orang itu. Tadi, aku melihatnya di lantai bawah. Dia sedang membuat masalah dengan satpam karna mengendarai mobil pik-up seharga puluhan juta rupiah."
"Oh. Kalau begitu, bocah ini bukan saingan Grup Viktor kita."
Grup Viktor yang cukup terkenal di Starffod bergerak di bidang real,estat. Kali ini, mereka menargetkan lingkungan geografis Starfford dan berencana untuk melakukan penawaran pengembangan daerah pariwisata di Pulau pasir putih.
Tidak berselang lama, seorang wanita cantik masuk dengan membawa be-berapa map dokumen akta Sewa pulau, dan dia langsung berjalan ke atas podium.
"Penawaran hak kontrak Pulau pasir putih untuk jangka waktu sepuluh tahun akan dimulai. Penawar dengan harga tertinggi yang akan menang."
"Harga terendah untuk penawaran kali ini tidak boleh di bawah dua miliar rupiah."
Setelah dia selesai berbicara, seseorang di bawah podium langsung memulai penawaran. "Dua puluh empat miliar rupiah!"
"Dua puluh enam miliar rupiah!"
"Dua puluh delapan miliar rupiah!"
Kemudian, ada banyak orang yang terus menawarkan harga. Dalam sekejap, harga
penawaran langsung meningkat sampai tiga puluh miliar rupiah.
Namun, Yusran tidak bergerak dan masih terus mengamati.
__ADS_1
Ketika harganya mencapai empat puluh
miliar rupiah, orang yang melakukan penawaran perlahan-lahan berkurang.
Pada saat ini, Manajer Toto pun bertindak..
"Empat puluh empat miliar rupiah!"
Kali ini,Pak toto sangat percaya diri untuk, memenangkan penawaran Pulau Pasir putih. karna Ini adalah tugas yang diserahkan secara langsung oleh bosnya.
Imbran juga akhirnya bertindak dan langsung menaikkan empat puluh lima miliar lima ratus juta rupiah.
"Empat puluh enam miliar rupiah!" Yanto tidak ragu-ragu dan menambahkan
dua miliar rupiah lagi.
Namun, Imbran langsung menambahkan dua miliar rupiah lagi tanpa pikir panjang.
Harga penawaran sudah mencapai lima puluh miliar rupiah.
Sekarang, sudah tidak ada yang melakukan penawaran lagi. Hanya Toto dan Imbran yang masih bersaing "Harga"
Raut wajah toto tampak sangat suram. Perusahaan hanya memberinya dana lima puluh lima miliar rupiah. Berdasarkan situasi saat ini, dia pasti tidak bisa memenangkan penawaran Pulau pasir putih.
"Lima puluh lima miliar," kata Imbran.
"Bajingan, sebenarnya bagaimana latar belakang orang itu? Bisa-bisanya dia mengeluarkan harga setinggi itu untuk menawar sebuah pulau terpencil," ujar toto sambil menggertakkan giginya dengan geram.
Tiba-tiba, toto seperti teringat akan sesuatu. Dia segera bertanya kepada Sekretaris Ren yang ada di sampingnya, "Katamu, bocah ini datang dengan mengendarai mobil pik-up?"
"Ya, aku juga melihat perselisihannya dengan satpam di depan," ujar Sekretaris Ren dengan sangat yakin.
"Menurutmu, mungkinkah orang ini sebenarnya tidak punya uang sebanyak itu dan hanya ingin mengacaukan harga pulau itu agar orang-orang enggan membeli nya?" ujar toto dengan suram.
Sekretaris Ren menatap Imbran, lalu berkata, "Mungkin saja. Aku belum pernah mendengar tentang orang ini di Lingkaran orang kaya. Apalagi, pakaiannya juga sangat murahan. Itu mungkin hanya barang yang dijual dikios biasa."
"Kurasa, dia penduduk asli Pulau Pasir putih dan hanya datang untuk membuat masalah."
"Nona Dinda, aku meminta agar aset orang ini diselidiki dan proses penawaran diulangi lagi. Aku curiga bahwa dia adalah seorang penipu yang datang untuk membuat kekacauan dengan asal menawarkan harga!" kata toto dengan lantang sambil berdiri dan menunjuk Inbran,
Begitu kata-kata ini dilontarkan, semua orang pun melihat ke arahnya.
"Benar. Menurutku, bocah ini sepertinya tidak punya uang sebanyak itu. Aku belum pernah mendengar tentang orang ini di Starfford."
"Lihatlah pakaian bocah itu. Dia tidak mungkin punya lima puluh lima miliar rupiah."
Mendengar diskusi semua orang, Imbran menunjukkan ekspresi ingin tertawa di wajahnya.
Dia tentu bisa mengeluarkan lima puluh lima miliar rupiah.
Sementara itu, staf yang membantunya melakukan pendaftaran kualifikasi pemberian penawaran tadi menjelaskan peraturan penawaran.
Jika seseorang meminta penyelidikan
menyeluruh terhadap kualifikasi orang lainnya dan tidak ditemukan adanya kecurangan, tiga ratus juta rupiah akan dipotong dari deposit dan dijadikan sebagai kompensasi untuk orang yang diselidiki.
__ADS_1
(To Be Continued)