
"Semua orang tampak iri. Jika potongan batu giok ini di jadikan perhiasan, pasti bisa menghasilkan lima liontin giok kelas atas.
Raut wajah Alicia dan Master Farel terlihat sangat suram. Mereka tidak menyangka bahwa Imbran bisa meningkatkan harganya hampir 100 kali lipat hanya dengan mengandalkan batu mentah yang menurut mereka jelek.
"Bu Alicia, terimalah kekalahanmu. Kurasa, kamu Tidak akan mengingkari janjimu, 'kan?" ujar Imbran sembari tersenyum.
Alicia mengerutkan dahinya, "Aku tentu bisa membayar uang dua miliar rupiah itu. Kamu hanya beruntung saja. Aku gak percaya kamu bisa beruntung setiap saat."
Kemudian, Alicia langsung mentransfer uang dua miliar rupiah kepada Imbran. Imbran pun menerimanya dengan senang hati sembari tersenyum.
Salsa menatap Imbran dengan heran dan berkata dengan kaget, "Bagus sekali, Imbran. Kenapa aku gak tahu kamu punya kemampuan seperti ini?"
"Ketika masih kecil, aku sering pergi ke pegunungan. dan aku cukup menyukai bebatuan. Jadi, ada sedikit pembelajaran."
Tiba-tiba, seorang pria paruh baya masuk dan langsung berkata kepada Imbran, "Nak, apakah kamu mau menjual batu giok zamrud ini? Aku bersedia membelinya dengan harga delapan belas miliar rupiah."
"Sialan! tua bangka, tawaranmu ini terlalu rendah. Aku akan bayar dua puluh enam miliar rupiah."
"Aku akan membayar tiga puluh miliar rupiah."
Ada banyak orang yang bergegas menawar. Mereka menatap batu giok di tangan Imbran dengan tatapan serakah. Mereka semua sangat ingin membeli batu giok zamrud kelas atas ini.
Imbran tidak menyangka bahwa batu mentah ini bisa bernilai sampai tiga puluh miliar rupiah. Begitu mendengar tawaran dari beberapa bos tersebut, dia pun merasa sangat terkejut.
Imbran langsung bertanya pada Salsa yang berdiri di samping nya, "Salsa, apakah perusahaanmu membutuhkan batu giok ini?"
"Tentu saja. Setiap perusahaan giok akan berbondong-bondong membeli giok kelas atas semacam ini."
"Baiklah, aku akan memberikan giok ini kepadamu. Anggap saja sebagai bayaran
untuk tanah yang kubeli di dermaga mu itu." Imbran langsung menyerahkan batu itu kepada Salsa.
"i-ini... enggak boleh. Harga giok ini jauh melebihi harga sebidang tanah itu. Bagaimana kalau aku mentransfer dua puluh miliar rupiah kepadamu?" Salsa bergegas mengeluarkan ponselnya dan langsung mengirimkan dua puluh miliar rupiah kepada Imbran.
"Ini hanya keberuntungan semata. Apa yang perlu dibanggakan?" ujar Alicia sambil mencibir di samping.
Mendengar bantahan Alicia, Imbran yang berada di samping pun berkata dengan nada mengejek, "Hehe, keberuntungan sesaat Tidak terlalu memalukan. Yang lebih memalukan adalah orang yang sudah rabun mata nya menganggap benda pusaka sebagai batu limbah."
"Huh, kalian jangan bangga dulu. Sekalipun keberuntunganmu bagus kali ini, kalian juga sudah ditakdirkan gak akan mendapat hasil yang besar dalam acara judi batu kali ini. Keluarga aku pasti akan memenangkan bisnis batu giok kalian kali ini." Alicia pun membawa Master Farel pergi dan memilih berbagai macam batu mentah.
"Salsa, bagaimana kalau aku membantumu memilih batu mentah? Percayalah padaku. Kali ini, aku pasti Tidak akan membuatmu merugi," ujar Imbran seraya memohon,
"Oke, aku akan meminta staf untuk mendorong gerobaknya kemari. gak ada master sebagai konsultan kami. Jadi, kita bisa memilih batu mentah sendiri."
__ADS_1
Kemudian, Salsa memanggil seorang staf acara judi batu untuk mendorong sebuah gerobak kecil kemari.
Setelah itu, Imbran menemukan beberapa batu mentah yang memancarkan cahaya berwarna hijau dengan mengandalkan mata yang telah diseka dengan air spiritual dan dia menaruhnya di atas gerobak.
"Yang ini bagus. Harga batu mentah ini memang sekitar empat miliar rupiah, tapi seharusnya masih bisa meningkat."
"Yang ini juga boleh. Bentuknya memang aneh, tapi bahannya bagus."
Tidak lama kemudian, Imbran langsung memilih sekitar 20 bongkah batu mentah.
Dia sudah menghabiskan hampir empat ratus miliar rupiah.
"Imbran, seharusnya sudah cukup. Semua batu mentah ini sudah cukup. Kalau beli lagi, harganya akan melebihi anggaran," ujar Salsa yang takut melihat kegilaan Imbran lalu dia buru-buru menghentikannya.
Salsa belum pernah mencoba memilih batu mentah seperti memilih semangka di pasar, lalu dipindahkan ke gerobak satu per satu seperti ini.
Biasanya, setelah memilih dua atau tiga bongkah, mereka akan memotongnya untuk melihat apakah bernilai atau tidak.
Bahkan, konsultan terhebat sekalipun juga hanya akan memilih lima hingga enam bongkah, lalu pergi untuk memotong batunya.
Batu mentah yang perlahan-lahan menumpuk di belakang Salsa dan Imbran juga sudah menarik perhatian banyak orang.
"Hahaha, bocah ini benar-benar mengira bahwa dia bisa seberuntung ini setiap kali? Bisa-bisanya dia memilih 20-an batu mentah sekaligus!"
yang begitu sombong di acara judi batu. Kali ini, kurasa perusahaan giok Keluarga Lunar akan menderita kerugian yang sangat besar."
"Haha, Keluarga Lunar begitu kaya raya. Sekalipun merugi, itu juga Tidak
akan berpengaruh pada mereka."
Mendengar diskusi semua orang, Salsa juga seketika merasa bimbang. "Imbran, apakah kita benar-benar mau mengambil semua batu mentah ini?"
"Apa Tidak terlalu berisiko?"
"Percayalah pada penglihatanku. Kamu akan menghasilkan banyak uang kali ini."
Mendengar Imbran berbicara serius seperti ini, Salsa hanya bisa membayarkan uangnya.
Staf yang mengikuti mereka dari belakang sudah tercengang dari batu ke sepuluh hingga sekarang. Dia belum pernah melihat orang sehebat ini sebelumnya. Bisa-bisanya dia langsung membeli lebih dari 20 batu mentah sekaligus!
Dia melakukannya seolah-olah sedang membeli sayuran lobak di pasar.
"Haha, Salsa, kamu benar-benar mendengarkannya. Kali ini, kalau kamu gak menderita kerugian besar, aku akan menulis namaku secara terbalik."
__ADS_1
"Sudah kubilang, bocah ini Tidak mengerti, tapi pura-pura mengerti. Dia sangat sombong. Setelah memotong batu asal-asal saja gaya nya sudah setinggi lamgit.
lihat bagaimana dia akan mempermalukan dirinya sendiri." Master Farel juga ikut tertawa. Barusan, dia dipermalukan habis-habisan. Kali ini, Master Farel memutuskan untuk mengejek Imbran dengan kejam.
"Kamu hanya perlu mengurus dirimu sendiri. Sekalipun merugi, Keluarga Lunar juga masih sanggup membayarnya," balas Salsa dengan raut wajah kesal.
"Hehehe, benar-benar anak perempuan yang Tidak berguna bisa nya menghabiskan harta keluarga, Entah berapa banyak aset milik Keluarga Lunar yang bisa kamu hambur-hamburkan seperti ini."
Salsa tidak menggubris ejekan Alicia. Sebaliknya, dia datang ke samping mesin pemotong batu dan bersiap untuk menyuruh staf memotong batu.
"Hei, hei, kudengar seseorang membeli lebih dari 20 batu mentah sekaligus. Sekarang, mereka sedang bersiap untuk memotong batu-batu itu."
"Ayo, kita pergi tonton pertunjukan bagus."
"Benar-benar hebat. Ayo, kita lihat juga."
Salsa dan Imbran memilih lebih dari 20 batu mentah sehingga membuat banyak orang datang untuk menonton kesenangan.
Bagaimanapun, bahkan seorang master batu ulung juga tidak berani membeli lebih dari 20 batu mentah untuk dipotong bersama-sama.
Ketika staf pemotong batu melihat tumpukan batu mentah itu, mereka sontak merasa kesulitan.
Beban kerja ini setidaknya membutuhkan
waktu selama beberapa jam untuk segera diselesaikan.
Orang-orang yang menyaksikan hiruk-pikuk mengelilingi mesin pemotong batu tersebut dengan rapat.
"Hehe, ternyata dua anak muda yang bodoh. Kali ini, mereka mungkin akan rugi besar. Tidak akan mudah untuk berjudi batu seperti ini."
"Benar, bagaimana kamu bisa melakukannya tanpa penglihatan yang bagus? Kedua anak muda ini mungkin hanya membelinya dengan asal-asalan."
Imbran sama sekali tidak peduli dengan sindiran orang-orang di samping. Dia hanya membuat garis, lalu menyuruh staf untuk memotong sesuai dengan garisnya.
"Pria kecil milik Salsa, apa kamu berani bertaruh lagi kali ini?" Alicia menghampiri mereka dan kembali
mencibir.
Ketika Imbran mendengar Alicia berbicara seperti itu, matanya sedikit menyipit sembari tersenyum. Ada lagi orang yang datang memberikan uang kepada ku untuk membangun pulau.
"Boleh, kenapa aku Tidak berani? Tapi sebelum itu, berapa banyak taruhan kali ini? Aku Tidak mau Taruhan terlalu sedikit."
Melihat tampang Imbran, yang mata duitan Alicia berpikir bahwa dia hanya sok hebat dan tidak berani bertaruh. Jadi, Alicia pun berkata, "Dua puluh miliar rupiah. Apa kamu mau bertaruh?"
__ADS_1
(To Be Continued)