KEHIDUPAN SEMPURNA

KEHIDUPAN SEMPURNA
Bertaruh II.


__ADS_3

"Mendengar perihal Uang,Imbran langsung berteriak, "Boleh, dua puluh miliar rupiah, ya!"


Kemudian, Imbran melihat bahwa Master Farel yang berdiri di samping Alicia tampak sedikit tergoda. Imbran pun menatap Master Farel dan berkata, "Hei, Master Farel, mau ikut taruhan Tidak?"


Mata Master Farel langsung berbinar saat mendengar ucapan Imbran.


Barusan, dia sangat ingin bertaruh, tetapi nominal taruhan Alicia adalah dua puluh miliar rupiah. Ditambah dengan beberapa miliar miliknya, Master Farel khawatir bahwa bocah ini tidak mau menerimanya.


Lantaran Imbran sendiri sudah berinisiatif, kebetulan hal ini juga sesuai dengan harapan Master Farel.


Master Farel sepertinya sangat yakin akan memenangkan judi kali ini. Jadi, dia pun berkata tanpa ragu, "Aku bertaruh sepuluh miliar rupiah. Ini adalah tabunganku selama bertahun-tahun. Sekarang, aku akan membuatnya berlipat ganda dengan mengandalkanmu. Hehehe."


"Baiklah, aku terima," ujar Imbran dengan murah hati.


"Hehe, Bu Alicia. Hari ini, ada yang akan mengantarkan uang," ujar Master Farel dengan bahagia.


"Imbran, apa kamu benar-benar yakin?" Salsa menatap Imbran dengan khawatir. Dia sendiri bahkan tidak berani memastikannya sekarang.


Bagaimanapun, tidak ada penjudi batu yang akan bersikap gegabah seperti Imbran.


"Aku adalah bos dari acara judi batu kali ini. Aku akan menjadi saksinya," ujar seorang pria paruh baya seraya berjalan keluar.


Bos di sini bahkan juga ikut berpartisipasi. Hal ini membuat Salsa merasa cukup pusing memikirkan nya.


Jika mereka merugi, mungkin ayahnya juga akan tahu. Kelihatannya, dia pasti akan mendapat teguran kali ini.


"Sudah, mulai potong saja batunya."


Pemotong batu buru-buru menyalakan tombol mesin, memilih batu yang relatif mudah dipotong terlebih dahulu, dan menempatkannya di atas meja gergaji.


Seiring dengan suara deru mesin yang terdengar, celah kecil mulai terlihat secara bertahap pada batu tersebut.


"Aku sudah melihatnya, kuning, bukan hijau! Hahaha!" ujar Master Farel sembari


bertepuk tangan dan tertawa Riang,


"Belum selsai dipotong. Kenapa kamu begitu terburu-buru?" tanya Imbran dengan datar.


Tiba-tiba, mesin berhenti berjalan. Batu mentah ini langsung terbelah menjadi dua bagian. Di atas bagian belahan, ada permukaan hijau seukuran kepalan tangan.


"Zamrud dataran tinggi. Harga untuk batu mentah ini adalah dua miliar rupiah. Setelah dipotong, diperkirakan harganya adalah empat miliar rupiah. Ini batu yang bernilai."


Raut wajah Alicia dan Master Farel tampak sedikit buruk.


"Huh, itu hanya keberuntungan sesaat, Ada begitu banyak batu mentah, aku gak percaya ada banyak batu berharga yang bisa dia dapatkan lagi," ujar Alicia sambil mencibir.


Kemudian, dia mengambil batu mentah kedua. Dalam dua menit, batu mentah itu sudah selesai dipotong. Akan tetapi, pada permukaan yang dipotong tidak ada warna hijau. Jelas, ini adalah sebuah batu limbah.


Namun, Imbran sejak awal sudah mengetahui hasil ini. Ini adalah batu limbah yang sengaja dia pilih. Jika setiap batu mentah yang dipotong adalah batu yang bernilai, itu akan terlalu menarik perhatian orang.


"Lihat, apa yang kukatakan? Bocah ini hanya sedikit beruntung saja."


"Kamu akan kalah kali ini!" ujar Master Farel sembari tersenyum.

__ADS_1


Salsa juga sangat gugup. Telapak tangannya yang kecil penuh dengan keringat panas dingin.


Begitu batu mentah ketiga dipotong, hasilnya langsung mengejutkan semua orang.


"Sialan! Yang benar saja? Itu adalah giok berbingkai emas! Bocah ini benar-benar akan kaya Raya!"


"Giok berbingkai emas sebesar ini setidaknya bisa bernilai lebih dari enam puluh miliar rupiah."


"Keberuntungannya benar-benar luar biasa."


Melihat hal ini, raut wajah Alicia dan Master Farel menjadi suram kembali.


Mereka memperkirakan bahwa total pendapatan Salsa kali ini hanya sekitar enam puluh miliar rupiah dan akan langsung merugi sebesar empat ratus miliar rupiah. Tidak disangka, satu batu mentah saja sudah bernilai enam puluh miliar rupiah.


"Irisan giok berbingkai emas, batu mentahnya bernilai sepuluh miliar rupiah. Diperkirakan nilainya bisa mencapai enam puluh miliar rupiah," ujar pemotong batu.


Setiap orang bersikap cukup rasional terhadap perkiraan harga ini.


Batu mentah pertama adalah dua miliar rupiah, batu kedua adalah tiga miliar rupiah, dan batu ketiga bernilai sepuluh miliar rupiah. Dengan kata lain, Salsa sudah memperoleh peningkatan nilai enam puluh empat miliar rupiah dari modal sebesar lima belas miliar rupiah.


"Imbran, bagus sekali! Bisa-bisanya kita sangat beruntung hari ini mendapat giok berbingkai emas!" ujar Salsa dengan senyum bahagia.


Batu keempat mulai dipotong dan kembali terlihat warna hijau. Tanpa perlu diragukan lagi, nilainya terus meningkat.


Potongan batu kelima juga merupakan batu yang bernilai.


Semua orang terkejut. Tampaknya, bocah


sembarangan. Nilai beberapa batu mentah


ini sudah meningkat hampir mendekati


seratus empat puluh miliar rupiah.


Saat ini, Alicia dan Master Farel sudah mulai gugup. Jika kondisi seperti ini terus mereka pasti akan kalah taruhan dengan Imbran.


Akan tetapi, untungnya, batu keenam bukanlah batu yang bernilai.


Ini juga batu yang sengaja diambil oleh Imbran.


Waktu berlalu dengan perlahan, ada 15 batu mentah yang telah dipotong.


"Giok es kelas atas, harga untuk batu mentah delapan miliar rupiah, perkiraan nilainya mencapai delapan belas miliar rupiah."


Harganya naik lagi.


Semua orang langsung melongo dan menatap Imbran dengan ekspresi kaget.


Dari 25 batu mentah, hanya ada lima yang merupakan batu limbah. Sisanya adalah batu yang bernilai.


Rasio kenaikan nilainya hampir mencapai sepertiga dari modal, dia benar-benar master di antara para master!


Sekarang, batu mentah yang sudah dipotong sejak awal sudah melampaui harga dari seluruh batu mentah.

__ADS_1


Perkiraan nilainya sudah lebih dari satu triliun rupiah.


Tanpa perlu diragukan lagi, Alicia dan Master Farel sudah kalah taruhan.


Raut wajah Alicia menjadi sangat suram, sedangkan wajah Master Farel memerah karena emosi.


Sepuluh miliar rupiah ini merupakan hampir seluruh tabungannya. Sekarang.


dia harus kehilangan semuanya dalam sekejap. Dia benar-benar ingin menangis.


"Imbran, kamu luar biasa sekali. Bagaimana cara kamu melakukannya?" tanya Salsa dengan gembira.


"Sudah kubilang, aku punya sedikit pemahaman terhadap batu," ujar Imbran seraya berpura-pura hebat.


Sedikit pemahaman?


Ketika semua orang mendengar Imbran mengatakan ini, mereka semua menjadi malu dan seakan siap muntah dar*h.


"Sudah, kalian berdua, cepat transfer uangnya. Apa kalian mau mengingkari janji?"


Alicia yang mendengar cibiran Imbran langsung mentransfer uang dua puluh miliar rupiah dengan sangat enggan kepada Imbran, sedangkan Master Farel lebih merasa tidak rela.


Dia bukan bos besar. Uang sepuluh miliar


rupiah itu sudah merupakan hampir seluruh tabungan miliknya saat ini.


Tabungan yang dia kumpulkan setelah bekerja keras selama sebagian besar hidupnya ini malah ludes dalam sekejap.


"Selamat, Nona Salsa. Kali ini, kamu menghasilkan banyak uang. Oh iya, apa kamu Tidak mau mengenalkan teman yang berdiri di sampingmu ini?" Bos dari acara judi batu ini menyapa sembari tersenyum.


"Bos Janas, ini temanku, Imbran Baskara. Oh iya, tolong segel batu mentah ini dan kirimkan ke pabrik kami,ya" ujar Salsa sembari tersenyum.


"Oke. Kawan, bolehkah aku meminta informasi kontakmu?" tanya Bos Janas sembari tersenyum.


Kemudian, Imbran memberikan informasi kontaknya dan Bos Janas pun pergi untuk merapikan serta membungkus semua batu Mentah itu.


Kali ini,Salsa berhasil menyelesaikan tugas dan memperoleh lebih dari empat ratus miliar rupiah.


Semua ini berkat Imbran. Kalau tidak, tugas ini pasti tidak akan bisa terselesaikan.


"Imbran, terima kasih karena sudah banyak membantuku kali ini. Komisi aslinya adalah 5%. Bagaimana kalau aku memberimu 10%?" tanya Salsa.


"Tidak perlu sungkan, Aku sudah mendapatkan lebih dari empat puluh miliar rupiah kali ini. Itu sudah cukup," jawab Imbran sambil tertawa memikirkan kesialan Alicia dan Farel.


"gak bisa gitu, ini aturan dalam berbisnis. Kalau Tidak diberikan, orang lain akan mentertawakan Keluarga Lunar."


Pada akhirnya, Imbran yang merasa tidak berdaya hanya meminta komisi sebesar


5%.


Namun, komisi 5% juga tidak terlalu sedikit. Totalnya lebih dari lima puluh miliar rupiah. Jika menghitung nominal yang Imbran dapatkan, hari ini dia mengantongi sembilan puluh miliar rupiah atau bahkan lebih,


(To Be Continued)

__ADS_1


__ADS_2