
"Meski Imbran mengajarinya, kemungkinan Topan juga tidak mungkin bisa menguasainya.
"karna.. ini adalah teknik rahasia warisan keluarga..." Imbran tampak serbasalah.
"Lalu, bagaimana dengan pil-pil itu?"
"Maaf, itu juga warisan keluarga ku."ucap Imbran berbohong.
Topan sedikit kecewa setelah mendengar perkataan Imbran. Ini adalah teknik rahasia warisan keluarga Imbran, dan tentu Hal semacam ini tidak boleh disebarluaskan.
"Imbran, terima kasih banyak. Terima kasih sudah menyembuhkan penyakit Kakek." Salsa sontak menghamburkan diri memeluk Imbran dengan sangat semangat.
Imbran pun merasakan tubuhnya seperti melunak saat tubuh sorang wanita yang lembut ini memeluknya. Ditambah lagi, ada aroma harum khas yang menyebar dari tubuh Salsa. Imbran seketika merasa bahwa semua yang dia lakukan hari ini sepadan dengan rasa letih yang didapatinya.
"Haha..
"Baiklah. Ayo, kita keluar makan dulu. Nanti saja kalian bermesraan lagi," ujar Tuan Tua Lunar tertawa bahagia.
Wajah Salsa sontak memerah. Dia seketika melepaskan pelukan Imbran, lalu kembali ke perjamuan ulang tahun bersama semua orang.
Para tamu yang melihat wajah Tuan Tua Lunar merah merona dan tidak terlihat, sakit sama sekali segera maju untuk merayakan kesembuhan Tuan Tua Lunar sekaligus memuji Imbran.
Mereka tentu saja ingin berhubungan baik dengan dokter yang begitu hebat
seperti Imbran. Siapa yang bisa menjamin dirinya tidak akan sakit di masa depan? Jika mereka kenal dengan dokter hebat ini. mereka akan merasa telah mendapatkan jaminan tambahan di masa depan,
Saat melihat Imbran menjadi pusat perhatian, Dickiano pergi dengan wajah sedikit Suram.
"Imbran, terima kasih banyak, ya. Ayo, duduklah!"
Munaroh memperlakukan Imbran dengan ramah. Sikapnya kini berubah drastis dari sebelumnya.
"Kakek, ini kejutan yang aku siapkan khusus untuk Kakek."ujar Salsa yang berdiri di sebelah Imbran sambil berjalan mendekat dan menyingkap tudung saji yang menutupi lobster kukus di atas meja perjamuan.
Tuan Tua Lunar yang baru saja sembuh dari penyakit tentu sangat kelaparan,
dan dia memiliki nafsu makan yang besar. Kemudian, dia menyendok sepotong daging lobster sambil tersenyum.
Begitu daging lobster masuk ke dalam mulutnya, mata Tuan Tua Lunar berbinar-binar. Lobster itu memiliki aroma yang sangat lezat. Rasanya juga sangat nikmat.
"Lobster ini enak sekali. Ayo, semuanya cicipi."
Semua orang yang mendengar tawaran Tuan Tua Lunar pun masing-masing mengambil sepotong daging lobster.
Dalam sekejap, semua orang asyik makan. Daging lobster tersebut sangat lembut dan gurih. Setiap kali mereka mengunyah, ada aroma unik yang menyebar keluar.
Ini adalah kenikmatan duniawi.
Dalam sekejap, 3,4 kilogram lobster eropa itu disantap habis dan hanya menyisakan
cangkangnya.
"Salsa, ini bukan kamu yang masak, 'kan? Soalnya Kakek sudah pernah mencoba masakanmu. Kamu menemukan koki ini dari mana? Kakek belum pernah makan lobster seenak ini," tanya Tuan Tua Lunar sambil tersenyum.
__ADS_1
"Ini Imbran yang memasaknya. Aku hanya membantu," jawab Salsa dengan agak malu.
"Bibi tidak menyangka Imbran bisa memasak. Ke depannya, kamu harus sering-sering bertamu ke rumah Bibi, ya."
"supaya Nanti, Salsa bisa makan enak setiap hari."
Munaroh tersenyum. Seperti kata pepatah,
ibu mertua akan bertambah sayang pada menantu laki-laki setiap kali melihatnya.
melakukan sesuatu yang hebat.
Berbeda dengan pandangan ayah mertua pada menantu laki-lakinya. Saat ini, Arman menatap Imbran dengan kesal.
Putrinya telah direbut oleh Imbran. Meski pria itu memiliki beberapa keterampilan, putrinya juga tidak kalah hebat dan sangat berkuasa.
Imbran merasakan sedikit mengantuk seusai makan. Mungkin dia sedikit lelah setelah mengobati penyakit Tuan Tua Lunar.
Setelah mengobrol sebentar, Imbran mencari kesempatan untuk pamit. Dia ingin pulang untuk tidur.
Setelah dirasa sebagian Tamu sudah pulang kini dia Berinisiatif untuk berbasa-basi.
"kakek, paman dan Bibi ini sudah Lumayan Larut malam Saya Mohon diri Untuk Pamit Pulang,
"Tunggu dulu Biar Salsa mengantar mu Pulang,ucap tuan tua Lunar,
"Seakan sudah mendapati Lampu hijau Salsa Langsung berdiri dari kursi nya dan berkata.
"Oke, jawab imbran.tanpa sungkan karna dia memang sudah sangat mengantuk.
Tidak lama kemudian,Salsa sudah tiba di depan Vila Imbran.
Seusai turun dari mobil, Salsa berkata,
"Imbran, terima kasih untuk hari ini karena sudah menyembuhkan penyakit kakekku,."dan Wajah salsa tampak memerah Tanpa Imbran sadari.
"Mungkin-kah Imbran dan Salsa akan Jatuh....."
"Hanya bantuan kecil, kok. tidak masalah," kata Imbran sambil tersenyum dan melambaikan tangan.
"Pokoknya, terima kasih. Aku akan menemuimu lagi besok lusa." Salsa lalu masuk ke mobil dan segera melaju pergi.
Saat ini, ada notifikasi yang masuk ke ponsel Imbran.
"Anda menerima transfer sebesar enam puluh miliar rupiah."
Selain itu, ada pesan WhatsApp dari Salsa : " enam puluh miliar ini sebagai biaya pengobatan kakekku dan jangan menolak."
Ternyata Salsa buru-buru pergi karena takut Imbran menolak uang itu.
Setelah itu, Imbran kembali ke kamarnya.
dan langsung tertidur dengan sangat nyenyak.
__ADS_1
Keesokan harinya, Imbran keluar pagi-pagi sekali. Besok adalah hari pertemuan penawaran pulau.
Awalnya, Imbran memiliki lebih dari dua puluh miliar rupiah.
Sekarang, Imbran memiliki lebih dari Delapan puluh miliar rupiah setelah ditambah dengan empat puluh miliar rupiah yang ditransfer Salsa kepadanya kemarin.
Dengan begini, dia yakin bisa mendapatkan hak mengelola pulau.
Imbran berencana untuk membudidayakan hewan laut langka. Jadi, dia pergi ke toko buku di kota dan membeli beberapa buku tentang budi daya hewan laut untuk menambah pengetahuannya.
Imbran Lalu membeli hampir semua buku yang berhubungan dengan budi daya hewan laut di toko buku. Totalnya ada dua kotak buku besar. Buku-buku itu memenuhi satu mobil Ferrarinya.
Setelah menyeduh teh, Imbran bersiap untuk membaca buku-buku ini dengan baik. Namun, ponselnya tiba-tiba berdering.
Imbran melirik nomor telepon yang memanggilnya. Ternyata itu adalah nomor keluarganya sehingga dia segera menjawab panggilan tersebut.
Begitu panggilannya tersambung, terdengar suara gembira ibunya. "Imbran, Ibu ada kabar baik. Adikmu diterima di Universitas Starfford"
"Bagus sekali. Aku akan pulang dan menjemput kalian semua ke kota beberapa hari lagi."
"Aduh, tidak usah seperti itu. Kamu kerja saja dengan baik. Kamu masih harus menikah dan membeli rumah di kota. Banyak uang yang harus kamu keluarkan kelak."
"Kamu juga tidak perlu khawatirkan uang kuliah adikmu. Meski harus menjual semua yang kami punya, Ayah dan Ibumu ini masih bisa membiayai adikmu sampai tamat kuliah. Kamu tidak usah khawatir tentang masalah keluarga."
"Itu saja yang mau Ibu Katakan go. Kamu bekerja keraslah. Sudah, ya. Pulsa mahal. Ibu tutup dulu teleponnya."
Mata Imbran menjadi basah setelah mendengar suara panggilan terputus. Orang tuanya telah bekerja keras di Kampung sepanjang hidup mereka dan Sekarang, sudah waktunya bagi mereka untuk keluar bersenang-senang dan Menikmati masa Tua,
Imbran memutuskan untuk segera pulang ke desa dan mengajak orang tua beserta adiknya pindah ke kota setelah menyelesaikan urusan Lelang Pulau,
Keesokan harinya, setelah mandi, Imbran bersiap-siap untuk pergi ke pusat perdagangan real-estat terbesar di Starfford.
Penawaran hak mengelola Pulau Pasir Putih akan dilaksanakan di sana.
Imbran menyalakan mobil, Namun dia baru sadar bahwa Ferrarinya kehabisan bahan bakar.
Sial, sepertinya aku lupa mengisi bahan
bakar kemarin.
Tidak ada pilihan lain. Imbran melirik mobil pik-up di sebelahnya. Sekarang, dia hanya bisa mengendarai mobil pik-up itu.
"penawaran lelang dimulai pada pukul 09.00. Waktu yang tersisa kurang dari satu jam lagi. Jika dia pergi untuk mengisi bahan bakar dulu, dia mungkin akan terlambat sampai disana
Dengan raungan keras Mobil, Imbran mengendarai pik-up dan langsung pergi ke pusat perdagangan real-estat di Starfford.
Lebih dari setengah jam kemudian, Imbran tiba di depan sebuah bangunan besar. Saat dia selesai memarkirkan mobil, tiba-tiba terdengar suara orang marah.
"Hei, cepat bawa mobil Rongsokan ini pergi dari sini. Di sini tidak boleh parkir sembarangan."
Imbran menoleh dan melihat seorang pria dengan seragam satpam dan tatapan nya yang Tajam bergegas menghampirinya.
(To Be Continued)
__ADS_1