
"Kali ini, Imbran memperoleh seratus miliar rupiah secara langsung. Bisa dibilang bahwa dia mendapatkan hasil yang cukup besar kali ini."
Setelah mendapatkan begitu banyak uang, Imbran tentu saja merasa bangga.
"Ayo, Gadis. Aku akan mentraktirmu makan di restoran bintang lima."
Salsa menutup mulutnya dan tertawa, lalu berkata, "Keterampilan memasakmu begitu bagus. Lebih baik, kamu mengundangku ke rumahmu untuk makan malam."
"Oke."
Kemudian, keduanya memutuskan untuk pergi ke pasar dan membeli sayur. Setelah itu, mereka langsung pergi ke rumah Imbran.
Kali ini, dia mendapatkan seratus miliar rupiah. Itu sudah cukup untuk mendirikan dermaga dan juga membuat bangunan di pulau Pasir putih.
Dia juga tidak perlu turun ke laut dan menangkap ikan dengan susah payah untuk menghasilkan uang.
Sekarang, Imbran sudah memiliki kekayaan sebesar seratus empat belas miliar rupiah.
* * *
Dua hari kemudian, pembangunan dermaga pun selesai. Imbran memandangi beberapa kapal yang berlabuh di Dermaga sambil tersenyum bahagia.
Akhirnya, pembangunan pulau sudah bisa dimulai.
Pembangunan dermaga ini menghabiskan biaya sebesar enam miliar rupiah. Imbran
langsung melunasinya kepada pekerja di tempat sehingga membuat kepala tim konstruksi tersenyum bahagia.
Bos ini terlalu lugas dalam melunasi biayanya.
Biasanya, ketika mereka mengambil proyek tertentu, terkadang bosnya akan menunda selama beberapa waktu sebelum melunasi biaya. Tidak ada yang selugas Imbran.
Setelah belasan ekskavator dan lima buldoser dinaikkan ke kapal, mereka pun bergerak menuju Pulau Pasir putih.
Grup Viktor
Toto bergegas masuk dan berkata dengan cemas, "Tuan Willy, gawat! Imbran dan yang lainnya telah berlayar ke laut dengan membawa tim konstruksi."
"Mustahil. Kita sudah memblokir radius
sekitar 200 kilometer dari dermaga. Apa
mereka mengambil jalan memutar dengan pergi ke dermaga di kota lain?"
Begitu Mendengar berita ini, Willy merasa sangat Kebingungan.
"Bukan Tuan, mereka membangun dermaga tepat di sebelah Kompleks Phoenix!"
"Luar biasa! Bisa-bisanya dia menggunakan trik seperti ini!"
Raut wajah Willy tampak sangat suram.
"Cepat cari beberapa preman. Bayar sejumlah uang dan suruh mereka untuk membuat masalah. Akan lebih baik kalau bisa menghancurkan dermaga itu."
"Baik, akan segera kukerjakan."
Sementara itu, di kediaman Keluarga Angkasa.
"Dickiano, lihatlah hal baik yang kamu
lakukan! Apa kamu tahu, berapa banyak uang yang kuhabiskan untuk menyelesaikan masalah kali ini?" Ayah Dickiano, Polin Angkasa, memaki dengan sangat emosi.
"Ada masalah apa?" Dickiano menatap ayahnya dengan kebingungan.
__ADS_1
"Lihat saja sendiri!"
Polin langsung menyalakan ponselnya dan memutar sebuah rekaman suara.
"Nathan, kerjakan hal ini dengan baik. Ini ada delapan miliar rupiah. Jangan sampai ada kecelakaan apa pun. Selain itu, jangan sampai ketahuan.. "
Begitu mendengar rekaman ini, keringat dingin Dickiano seketika bercucuran.
Kenapa rekaman ini bisa berada di tangan ayah? gumam nya penuh tanda tanya,
"Nathan selalu memegang kelemahanmu ini sebagai kartu trufnya. Kamu berpikir untuk memanfaatkan Nathan, tapi dia justru menyimpan kelemahanmu."
"Kamu jangan berulah lagi selama beberapa waktu ini. Kalau sampai rekaman ini tersebar, apa kamu kira inspektur polisi mudah untuk ditangani? Apa kamu bisa menghindarinya?"
Sementara itu, di kediaman Keluarga Grata. Begitu mendengar informasi tentang Imbran yang dilaporkan oleh anak buahnya, Lanar sontak menjadi murka.
"Bajingan! Orang rendahan seperti itu malah bisa bertindak dengan begitu cepat dan segera mencapai tujuannya?"
"Huh! Aku akan membuatmu tahu konsekuensi dari merebut wanitaku!"
Di Pulau Pasir putih, orang-orang sudah mulai bekerja dengan semangat.
Siren juga terus menginstruksikan semua pekerja untuk bekerja sesuai dengan desain gambar konstruksi. Dia juga bisa dianggap sebagai seorang supervisor.
Penduduk asli di Pulau itu juga keluar untuk membantu.
Dilihat dari kondisi ini, area pertama akan selesai dibangun dalam waktu kurang dari 20 hari.
Imbran melihat selama beberapa saat, lalu menyuruh pak Lingga untuk membawanya meninggalkan Pulau.
Sekarang, Imbran harus diantar dan dijemput oleh pak Lingga dengan kapal kargo. Lantaran merasa sedikit merepotkan, dia langsung pergi ke tepi pantai Stanfford, dan memesan sepuluh kapal pesiar kecil.
Dengan begitu, kalau ada satu atau dua orang yang ingin keluar masuk, mereka tidak perlu memanggil Lingga lagi.
Keesokan paginya, sebuah panggilan telepon membangunkan Imbran dari tidurnya.
Siren?
"Hallo Kenapa kamu mencari ku sepagi ini?ujar Imbran.
Siren Langsung menjawab dengan Nada sedikit tergesa-gesa .
"Bos, gawat! Dermaga kita dihancurkan orang!"
"APAAA,?"Teriak Imbran
Dia langsung tersadar. Dan segera bangun lalu pergi ke dermaga yang baru saja dibangun belum lama ini.
Dermaga yang baru saja dibangun sudah menjadi reruntuhan. Bongkahan semen yang sudah dipasang pun dibongkar. Jalan yang dibuat untuk menaikkan mobil ke kapal juga sudah dihancurkan.
"Sialan! Siapa yang melakukan Hall keji seperti ini?"
Dermaga ini baru saja selsai dibangun selama tiga hari, tetapi sudah dihancurkan oleh orang lain.
Imbran menggertakan Gigi nya menahan emosi hingga memelototkan
matanya.
Sekelompok bajingan yang
menghancurkan dermagaku! Kalau kalian sampai tertangkap olehku, aku pasti akan memberi pelajaran kepada kalian!
Imbran langsung menelepon polisi. Setelah petugas polisi datang untuk menyelidiki, mereka tidak menemukan petunjuk apa pun.
__ADS_1
Lantaran tidak ada kamera pengawas di sekitar sini, penyelidikan menjadi relatif sulit untuk dilakukan.
Tidak bisa! Dia tidak bisa menerima amarah ini begitu saja Pasti ada Cara untuk mengetahui Pelaku nya! Gumam Imbran di benak nya.
Imbran pun melangkah menyusuri jalan Di sekitar Dermaga. Akhirnya, dia menemukan sebuah kamera pengawas.
Kamera ini adalah kamera di luar gerbang kompleks perumahannya. Ini adalah satu-satunya kamera yang bisa melihat jalan keluar dan masuk dermaga dengan jelas.
Dari kamera pengawas ini, orang yang menghancurkan dermaga seharusnya bisa terlihat dengan jelas.
Berhubung dermaganya berada di jalan buntu, biasanya tidak ada orang yang akan mengemudi di jalan ini saat malam hari.
Imbran Lalu membeli rokok dan memberikannya kepada petugas keamanan. Setelah itu, dia meminta ijin untuk langsung memutar rekaman kamera pengawas tadi malam.
Imbran mempercepat pemutaran sebanyak delapan kali dan terus melihat layar kamera pengawas.
Akhirnya, Imbran menemukan tersangkanya.
Sekelompok Pemuda membawa palu, palu goda, dan alat-alat Perkakas lain, lalu melaju melintasi jalan dengan sepeda motor.
Tanpa perlu dipikirkan lagi, mereka pasti pelaku yang melakukan hal keji itu.
Terdapat lima sepeda motor dengan jumlah anggota sebanyak sebelas orang.
Mereka semua adalah pemuda dengan rambut warna-warni. Hanya dengan melihat secara sekilas, sudah bisa diketahui bahwa mereka adalah berandalan.
Tidak disangka, di antara orang-orang ini juga terdapat dua orang wanita.
Mereka semua sepertinya adalah Siswa,Siswi yang berusia sekitar 16 sampai 17 tahun.
Kompleks Phoenix memang merupakan kompleks perumahan orang kaya Raya. Bahkan, tampang mereka juga bisa terlihat dengan sangat jelas.
"Dasar anak-anak nakal! Jika aku sampai menangkap kalian, aku pasti akan memberi kalian pelajaran. Kalian harus
tahu tentang kerja keras para paman pekerja itu!"
Melihat penampilan orang-orang ini, Imbran tidak berniat untuk memanggil polisi. Dia ingin menyelesaikannya sendiri.
Dia menduga bahwa anak-anak ini telah diperintah oleh seseorang. Jika tidak, kenapa mereka yang tidak punya dendam apa pun dengan dirinya malah ingin menghancurkan dermaganya?
Anak-anak nakal ini pasti mendapatkan banyak uang dari melakukan hal ini.
Mereka memiliki karakter yang buruk. Tanpa perlu dipikirkan, sekelompok anak nakal ini pasti akan pergi ke bar atau tempat karaoke setelah mendapatkan uang.
Kalau memang begitu, menemukan mereka bukanlah hal yang sulit.
Malam ini, Imbran berencana untuk mencari sekelompok anak nakal itu. Dia ingin mendidik mereka untuk menghargai hasil kerja keras orang lain.
Setelah kembali ke dermaga, Imbran menjadi kembali emosi begitu melihat Reruntuhan di lokasi.
Dia melihat Siren sedang mengatur orang untuk datang ke lokasi dan berencana untuk memperbaiki tempat yang sudah dihancurkan.
Melihat hal ini, Imbran segera menghentikannya. "Lalu berkata tunggu. Jangan buru-buru memanggil orang kemari. Akan ada pekerja gratis."
"Pekerja gratis apa Maksud mu Bos?"
Siren menatap Imbran dengan kebingungan.
"Kamu akan tahu besok."
"Setelah para pekerja konstruksi Pulau Pasir putih, pulang kerja hari ini, suruh Lingga untuk membawa mereka kemari. Malamnya, aku akan mengajak mereka ke bar untuk bersenang-senang."
(To Be Continued)
__ADS_1