
"Salsa menggelengkan kepalanya dan menarik napas panjang. Lalu, dia berkata, "Aku baik-baik saja. Aku gak menyangka akan dijebak Patricia hari ini!"
Setelah bertanya-tanya, Imbran baru memahaminya sekarang. Ternyata, Master Farel adalah master terkenal di dunia judi batu. Beberapa hari yang lalu, Salsa sudah menghubunginya dan meminta bantuannya untuk datang memilih bahan batu mentah.
Tidak disangka, Master Farel diambil alih oleh kompetitor, Keluarga North, dan menyulitkan perusahaan Keluarga Lunar.
Keluarga North, ini juga merupakan salah satu dari empat keluarga besar di Stanfford,
Biasanya, banyak bisnis mereka yang persis dengan Keluarga Lunar, termasuk industri batu giok.
Hari ini adalah hari terpenting bagi berbagai perusahaan batu giok besar. Itu karena konferensi judi batu hari ini adalah kesempatan perusahaan batu giok untuk melakukan pemasokan setahun sekali.
Pada hari ini, batu mentah teratas dari berbagai wilayah akan diangkut ke pasar batu giok Stanfford. Jika melewatkan kesempatan memasok hari ini, takutnya akan sulit untuk menemukan bahan yang begitu bagus ke depannya.
Seketika Imbran teringat akan kemampuan khususnya. Dengan mengoleskan air spiritual ke mata, penglihatannya bisa langsung menembus benda dan melihat isi di dalamnya.
Sebelumnya, kemampuan inilah yang membuat dirinya bisa melihat emas batangan kecil di dalam batu tinta palsu di jalan barang antik waktu itu.
Tidak tahu apakah kemampuan khusus dirinya ini bisa digunakan pada batu mentah ini.
Imbran segera mengumpulkan setetes air spiritual. Lalu, dia mengoleskannya ke matanya.
Seketika itu Mata Imbran terasa sejuk dan sangat nyaman.
Imbran melihat ke arah batu mentah di atas rak dan langsung melihat semua batu giok di sini. Beberapa di antaranya memancarkan cahaya hijau samar di dalamnya.
Namun, beberapa batu mentah tidak bereaksi, sama sekali dan tidak terlihat berwarna hijau.
Seketika, Imbran menemukan bahwa sebuah batu giok seukuran kepalan tangan memancarkan cahaya hijau yang sangat pekat,
Batu giok ini pasti bagus! gumam Imbran pelan
"Ayo pergi ke depan dan Coba kita lihat. Mungkin saja kita berdua bisa mendapatkan sesuatu yang tidak terduga!" ujar Imbran seraya meraih tangan Salsa dan berjalan ke depan.
Sesampainya di depan rak tumpukan batu, Imbran hendak mengambil batu mentah dengan cahaya hijau yang Pekat itu, tapi batu itu tiba-tiba diambil oleh orang,
Orang ini tidak lain adalah Master Farel yang telah diambil alih oleh Alicia.
"Master Farel, bagaimana dengan batu giok ini? Bagus Tidak?" tanya Patricia.
Master Farel mengambil batu itu dan meneranginya dengan senter kecil yang
bercahaya ungu selama beberapa saat. Dia menggelengkan kepalanya dan berkata dengan pelan, "Batu ini terlalu kecil. Diperkirakan warna hijaunya sangat sedikit. Selain itu, teksturnya sudah retak. Takutnya, itu adalah batu tak berguna yang nilai jual nya kecil."
Usai berkata, Master Farel meletakkan batu itu.
Melihat ini, Imbran menghela napas lega dan segera melangkah maju untuk mengambil batu mentah itu.
"Aku akan membeli batu ini!"
__ADS_1
Melihat Imbran buru-buru mengambil batu itu, Alicia mengerutkan dahi lalu berkata sambil mencibir, "Salsa, pacarmu ini juga tahu cara melihat batu ya!"
Salsa yang mendengar nada ejekan dari Alicia dia menjawab dengan kesal, "Apa kamu kurang kerjaan? Sampai-sampai mengatur urusan orang lain."
"Jangan bilang aku Tidak mengingatkanmu. Sebuah batu tak berguna saja dianggap sebagai barang berharga. Benar-benar konyol!"
Salsa juga berbisik kepada Imbran, "Batu ini sangat kecil dan harganya empat ratus juta rupiah. Bagaimana kalau kita pilih yang lain saja."
Imbran menggelengkan kepalanya dan berkata sambil tersenyum, "Batu ini adalah barang berharga. Master Farel salah menilainya."
Mendengar kata-kata Imbran, yang mengguruinya Master Farel mendengkus dingin. "Aku sudah menilai batu selama puluhan tahun. Kamu hanya seorang bocah, kemaren sore berani-beraninya meragukan kemampuanku. Kalau Tidak tahu, jangan sok-sok tahu. Benar-benar konyol!"
"Aku rasa matamu sudah tua. Barang
berharga seperti ini berada tepat di depanmu, namun kamu malah Tidak menyadarinya. Sebaiknya kamu pensiun saja tidak layak lagi kamu menggeluti pekerjaan ini!" ujar Imbran sambil menyindir tanpa merasa sungkan.
Perkataan Imbran yang tajam membuat wajah Master Farel memerah karena Marah.
Alicia segera berkata, "Dasar gak tahu diri kamu ya, Master Farel adalah master penilai batu yang terkenal di Stanfford,"
Wajah Imbran menyunggingkan senyuman. "Kalau Tidak, mari kita bertaruh. Kalau nilai batu mentah ini naik setelah dipotong, kamu beri aku dua miliar rupiah. Kalau nilainya jatuh, aku yang akan memberimu dua miliar rupiah."
"Baik, aku ingin melihat apa isi dari batu mentah ini setelah dipotong."
Kemudian, kedua orang itu bergegas menuju ke sisi mesin pemotong batu.
Sementara itu, Salsa hanya merasa cemas ketika mendengar taruhan mereka.
Salsa hanya bisa mengikuti mereka tanpa daya.
Alicia takut Imbran akan berubah pikiran. Dia segera mencari seorang staf untuk menjadi saksi.
"Kali ini, aku membuat taruhan dengan tuan ini. Nilai batu mentahnya empat ratus juta rupiah dan nilai taruhannya dua miliar rupiah. Kalau nilainya naik, aku kalah. Kalau nilainya turun, aku menang."
Dalam konferensi judi batu, pertaruhan semacam ini sering terjadi. Mereka yang bisa naik ke lantai dua untuk berjudi batu pada dasarnya adalah orang kaya yang terkenal. Jadi, pada dasarnya mereka
tidak akan menyangkalnya.
Taruhan Alicia dan Imbran juga menarik perhatian banyak orang.
Ketika orang-orang melihat batu mentah di tangan Imbran, mereka mulai berdebat.
"Apa yang dipikirkan pemuda ini? Dia bahkan mengambil batu yang jelek seperti itu untuk bertaruh. Aku juga sempat melihat batu mentah itu. kemaren jelas-jelas ada retakan dan Tidak punya nilai besar menurut ku."
"Takutnya, bocah ini akan kalah!"
"Kalaupun batu mentah itu hanya bernilai empat puluh juta rupiah, aku juga Tidak bakal membelinya. Apa yang dia pikirkan?"
Mendengar perdebatan orang-orang, ekspresi wajah Alicia tampak sangat puas. Jelas-jelas Imbran tidak mengerti apa-apa dan hanya sengaja membela wanita disamping nya.
__ADS_1
Pemuda gegabah seperti ini pasti akan mempermalukan dirinya sendiri.
"Jangan berbasa-basi lagi, potong batunya!" ucap Imbran dengan spontan.
Staf pemotong batu itu menerima batu mentah dan menempatkannya dengan baik. Lalu, dia langsung menyalakan mesin.
"Imbran, seharusnya kamu gak bertaruh. Semua orang menilai rendah batu mentah ini!" ujar Salsa sambil Menghela napas.
"Jangan khawatir, aku cukup yakin dengan batu ini!" Imbran sangat percaya diri. Tadinya, dia sudah melihat cahaya hijau yang Pekat di dalam batu. Semestinya, dia tidak akan rugi.
Mesin berputar dengan sangat cepat dan mulai memotong batu mentah itu perlahan.
Awalnya, lapisan batu masih berwarna hitam keabuan. Namun, setelah 15 menit berlalu terlihat Potongan batu mentah itu mengandung sedikit warna hijau.
"Menghijau..."
Warna hijau terus menyebar mengikuti sayatan dan tidak terputus sama sekali.
Tanpa ragu, nilai batu mentah ini telah naik!
Semua orang merasa sangat terkejut. Tidak disangka, batu yang dianggap semua orang tidak berguna Bisa menghijau.
Selain itu, warnanya juga terlihat makin murni.
Melihat ini, ekspresi wajah Alicia
tampak sangat suram.
Salsa melompat dengan gembira. "Imbran, kamu sangat hebat. Nilai batu mentah ini benar-benar naik!"
"Semuanya, coba lihat!"
Salah satu dari mereka berseru. Dia menunjuk batu mentah di depan mereka dan berkata, "i-ini, warna ini adalah hijau zamrud kelas atas."
"Penglihatannya terlalu hebat. Batu mentah senilai empat ratus juta bahkan mengandung hijau zamrud."
Perlu diketahui, hijau zamrud yang begitu besar minimal bernilai tiga puluh miliar
rupiah.
"anak muda
Ini terlalu hebat!"
Semua orang membelalakkan matanya dengan tidak percaya. Rahang mereka pun hampir terlepas.
"Batu mentah senilai empat ratus juta rupiah mengandung hijau zamrud setelah dipotong. Keuntungannya mencapai ratusan kali lipat!"
"Ya ampun, aku juga melihat batu ini tadinya. Aku melewatkan kesempatan bagus untuk kaya begitu saja," ujar seseorang disamping dengan sangat menyesal.
__ADS_1
(To Be Continued)