KEHIDUPAN SEMPURNA

KEHIDUPAN SEMPURNA
Kamu jangan Khawatir aku adalah Pebisnis hebat.


__ADS_3

Setelah mendapatkan ponsel baru, Murni langsung mengutak-atik ponsel barunya dengan sangat senang.


Selesai makan, Imbran hendak mengajak orang tuanya berkeliling di sekitar kota. Namun, teleponnya yang tiba-tiba berdering sehingga membuat dia mengurungkan rencana tersebut.


Si penelepon adalah Siren.


"Hallo;"


"Bos, dermaga melarang tim konstruksi dan ekskavator kita lewat. Kita Tidak bisa mengirim semuanya ke Pulau Pasir putih sekarang," ujar Siren bicara dengan nada panik.


"Apa yang mereka katakan?" tanya Imbran dengan segera.


"Mereka gak bilang apa-apa, hanya melarang kita lewat. Kami sedang berada


di Dermaga Enam Lingkaran sekarang."


"Oke, kamu tunggu di sana. Aku akan segera menyusul."


"Tutt...,


Setelah mengakhiri panggilan, Yoga yang melihat Imbran begitu panik segera bertanya, "Nak, apa ada masalah?"


"Oh, hanya masalah kecil yah, Namun aku harus Segera ke sana untuk menanganinya. Ini kunci rumah. Kalau kalian merasa bosan, kalian boleh keluar untuk jalan-jalan Dan membiasakan diri dengan lingkungan disini," jawab Imbran sambil mengeluarkan kunci cadangan, lalu menyerahkannya kepada kedua orang tuanya. Setelah itu, dia keluar dari vila.


Lalu menstarter Ferrarinya, Imbran langsung mengemudikan mobilnya ke Dermaga Enam Lingkaran.


Sesampainya di Dermaga Enam Lingkaran, Imbran melihat Siren yang membawa tim konstruksi, ekskavator, dan


barang-Barang bangunan lainnya sedang menunggu di sana. Di depan Siren, ada belasan pekerja dermaga yang menghalangi mereka. Mereka tidak memperbolehkan Siren memuat barang-barang tersebut ke kapal.


"Apa yang terjadi? Siapa kalian? Kenapa kalian menghalangi kami?" tanya Imbran Setibanya di sana, dan dengan wajah yang serius dia bertanya baik-baik,


"Percuma saja kamu bertanya kepada kami. Kamu seharusnya mencari pengurus dermaga. Mereka yang menyuruh kami untuk menghentikanmu disini," jawab seorang pekerja paruh baya di dermaga dengan nada pasrah.


"Jelas-jelas aku sudah membayar biaya kapal, kenapa kalian malah melarang kami? Tim konstruksi sudah ada di sini, mereka tinggal naik kapal dan berangkat. Apa maksud kalian?" sahut Siren yang kesal hingga matanya bahkan berkaca-kaca. Dia tampak sangat


dirugikan.


"Sudahlah, Siren. Ini bukan urusanmu. Biar aku yang bernegosiasi dengan mereka."


"Panggil pengurus dermaga kalian keluar. Aku akan meminta penjelasan darinya," perintah Imbran dengan dingin.


"Tidak perlu berteriak. Aku adalah pengurus di sini. Aku sudah datang."

__ADS_1


Terlihat tiga sosok yang menghampiri. Orang yang berbicara adalah pria paruh baya berjas. Dia berdiri di samping seorang pemuda.


Imbran tidak mengenali pemuda itu, tetapi dia mengenali orang di sampingnya.


Orang itu tidak lain adalah Toto yang ditipu ratusan juta rupiah oleh Imbran. Dia juga yang bersaing dengan Imbran untuk mendapatkan pulau pasir putih.


"Dermaga ini milik keluarga kami. Aku bisa mengatur siapa saja yang boleh memuat kapal dan tidak," sahut pria itu sembari tersenyum sinis.


"Apa mau kalian?" tanya Imbran dengan raut wajah yang kesal.


"Hehe. Namaku Willy, Tuan Muda Kedua Grup Viktor. Kusarankan agar kamu menyerahkan hak sewa Pulau. kepada Grup Viktor. Kalau Tidak, jangan harap kalian bisa memuat barang-barang di dermaga keluarga ku."


Setelah mendengar ucapan Willy, Imbran pun mengerti bahwa pihak lawan mengincar Pulau Yang kini ia miliki.


"Sepertinya, kamu yang meneleponku Beberapa waktu lalu, ya?" tanya Imbran sembari menatap Willy yang berdiri di hadapannya.


"Pintar sekali. Kuberi kamu waktu dua menit untuk berpikir. Kalau kamu menyerahkan Pulau Pasir putih, kepadaku , aku akan


membayar enam puluh miliar rupiah kepadamu. Awalnya, aku ingin membayar enam puluh lima miliar rupiah kepadamu. Sayang sekali, kamu sudah melewatkan kesempatan itu," ujar Willy dengan ekspresi wajah yang sangat sombong.


"Jangan mimpi! Aku Tidak akan menyerahkan Pulau itu kepadamu!" tolak Imbran tanpa rasa ragu sedikit pun.


"Kalau begitu, aku Tidak akan sungkan-sungkan lagi. Dermaga ini milik keluargaku. Aku juga sudah mengembalikan uang yang dibayar oleh sekretarismu."


Siren, di mana dermaga yang terdekat dari sini?" tanya Imbran yang menoleh kepada Siren.


"Haha. Jangan berharap terlalu banyak. Kedelapan dermaga yang berada 200 kilometer sepanjang garis pantai di daerah ini adalah milik Grup Viktor," jawab Willy setelah tertawa terbahak-bahak.


"Aku yakin timku masih bisa pergi ke Pulau Pasir putih tanpa dermaga milikmu!"


Imbran tiba-tiba teringat bahwa ada sebuah tanah kosong di sebelah Kompleks Phoenix Kebetulan sekali, tanah itu milik keluarga Salsa.


Imbran sudah pernah menjelajahi laut di sana. Tempat itu sangat cocok untuk dijadikan dermaga. Dia bisa langsung membangun dermaga di sana. Lagi pula, tempat itu lebih dekat dengan Pulau Pasir putih daripada Dermaga Enam,


Lingkaran.


Setelah memikirkan hal ini, Imbran segera menelepon Salsa.


Salsa pun langsung menyetujuinya setelah mengetahui Niatan Imbran ingin


membangun dermaga di sana.


"Berapa harga tanah itu? Aku akan mentransfer uangnya kepadamu nanti."

__ADS_1


"gak perlu, tanah itu juga Tidak


berguna. Jaraknya dua kilometer dari kompleks dan luasnya hanya ratusan meter persegi. Kalau kamu mau, aku bisa langsung memberikannya kepadamu."


"Omong-omong, perusahaan kami juga punya beberapa insinyur yang membangun dermaga. Bagaimana kalau aku meminta mereka merancangnya untukmu?"


Setelah mendengar ucapan Salsa, ekspresi Imbran langsung terlihat berseri-seri. Dia pun menanggapi, "Wah, bagus sekali. Terima kasih banyak ya."


Salsa tidak berbasa-basi lagi. Dia langsung menyuruh insinyur perusahaannya untuk pergi ke tanah kosong di sebelah Kompleks Phoenix.


Setelah menutup telepon Imbran lalu berkata kepada Siren, "Suruh semua tim konstruksi ini ikut Aku. ada pekerjaan untuk mereka."


"Haha. Kalian Tidak punya pilihan lain, 'kan? Kusarankan kalian agar segera menyerahkan Pulau itu, Meskipun memiliki Pulau yang indah, kalian Tidak akan mendapatkan keuntungan apa pun karena ditahan oleh dermagaku," ujar Willy setelah tertawa kencang.


"Hahaha....


Tidak akan. Aku yakin kalian Tidak akan Bisa menahan kami terlalu lama."


setelah mengatakan itu,


Kemudian, Imbran Lalu membawa Siren dan tim konstruksi pergi meninggalkan tempat itu. Mereka semua mengikuti mobil Imbran.


"Tuan Muda Willy, bagaimana sekarang? Bocah itu masih menolak menyerahkan Pulau Pasir putih"


"Huh! Dia hanya keras kepala. gak ada gunanya dia memiliki Pulau itu, kalau dermaga kita terus menahannya. Beberapa hari lagi, dia pasti akan datang untuk Memohon," jawab Willy seraya tersenyum sinis. Setelah itu, dia langsung meninggalkan dermaga.


Sesampainya di tanah kosong Kompleks Phoenix, Imbran menyuruh semua orang untuk berhenti.


"Bos, kenapa kamu membawa kami ke sini?" tanya Siren dengan heran. Dia sama sekali tidak tahu rencana Imbran.


"Berhubung dermaga mereka menahan kita, Maka kita Harus membangun dermaga sendiri," sahut Imbran dengan sombong.


"Letakkan dulu mesinnya di sini, lalu kalian semua sudah boleh pulang. Aku janji besok kalian akan punya kerjaan. Tenang saja, aku tetap akan membayar gaji kalian hari ini," ujar Imbran dengan lantang. Kemudian, dia menyuruh semua orang untuk pulang terlebih dahulu.


Setelah semua orang pulang, hanya tersisa


Siren yang menatap Imbran dengan Ekspresi kesal.


"Bos, kamu ini sedang bersedekah, ya? gak peduli berapa pun banyaknya uangmu, kamu Tidak seharusnya menghamburkannya seperti ini."


Melihat ekspresi Siren, Imbran sontak tertawa.hahaha,..


"Tenang saja, aku adalah pebisnis hebat. Aku pasti sanggup membayar gajimu."

__ADS_1


(To Be Continued)


__ADS_2