KEHIDUPAN SEMPURNA

KEHIDUPAN SEMPURNA
Lanar yang tidak tahu malu.


__ADS_3

Tidak lama setelah kerumunan bubar, Salsa datang bersama seorang pria paruh baya.


"Imbran, ini Pak Fariz Barnas, insinyur di perusahaan kami. Dia Secara khusus merancang berbagai jenis proyek konstruksi di tempat kami"


"Baguslah. Aku ingin membangun Dermaga sederhana di sini. Kira-kira butuh berapa lama sebelum dermaganya selesai, ya?" tanya Imbran Terus terang.


"Kapan kapalnya bisa berangkat? Aku ingin secepat mungkin."


Saat ini, Siren juga akhirnya mengerti apa yang ingin dilakukan bosnya.


Ternyata, bosnya ini ingin membangun dermaga sendiri.


"Kalau hanya membangun dermaga kapal yang sederhana, mungkin tim konstruksi hanya perlu beberapa hari untuk menyelesaikannya."


"Tempat ini Tidak ada terumbu karang, kedalaman airnya juga mencapai puluhan meter, dan lokasinya strategis.


Berdasarkan situasi sekarang, seharusnya hanya membutuhkan lima hari."


Begitu mendengar jawaban Fariz, Imbran langsung menunjukkan ekspresi bahagia.


"Baguslah kalau begitu. Pak Fariz, tolong bantu aku membuat desainnya."


Jika mereka bisa membangun dermaga pribadi dalam waktu lima hari, Willy tidak akan bisa bertindak semena-mena terhadap mereka.


Salsa tiba-tiba melihat Siren yang berdiri di belakang Imbran.


Siren memiliki postur tubuh tinggi yang


semampai dan paras yang sangat cantik. Begitu melihatnya, sorot mata Salsa seketika memancarkan sedikit aura permusuhan.


"Imbran, siapa wanita cantik di belakangmu itu?" tanya Salsa dengan kesal.


"Namanya Siren, dia sekretaris baruku," jawab Imbran dengan santai.


"Hebat sekali kamu. Baru beberapa hari tidak bertemu, kamu sudah mempekerjakan seorang wanita cantik sebagai sekretarismu. Pintar sekali kamu menikmati hidup!"


Salsa berkata demikian dengan nada sarkastis.


"Aku mempekerjakannya bukan karena dia cantik, tapi karena kemampuannya yang luar biasa. Dia banyak membantuku," sahut Imbran seraya tersenyum.


Saat ini, ekspresi Salsa menjadi sedikit


lebih baik.


"Oh ya Siren, bukankah kamu akan membawa perancang ke Pulau Pasir putih untuk merevisi rancangan? Suruh Pak Lingga kemudikan kapalnya ke tempat ini saja. Kalian berangkat dari sini."


Lingga adalah nahkoda tua yang dipekerjakan oleh Imbran.


Kemudian, Imbran mentransfer dana. sebesar dua miliar rupiah kepada Siren. Setelah menerimanya, Siren langsung pergi untuk menjemput perancang itu.


Imbran hanya memiliki dua belas miliar rupiah sekarang. Sepertinya, uang itu tidak akan bertahan terlalu lama.

__ADS_1


Tampaknya, dia harus memikirkan cara untuk segera menghasilkan uang.


Di sisi lain, Pak Fariz juga ingin segera pulang untuk menyelesaikan rancangannya.


Berhubung dia tidak Membawa Mobil, Salsa pun mengantarnya kembali.


Setelah semua orang pergi, Imbran juga mengemudikan mobilnya untuk segera pulang.


Keluarganya baru tiba di Stanfford. Dia ingin membawa mereka berkeliling untuk mengenal lingkungan di sekitar.


Setibanya di rumah, Imbran hendak membawa mereka keluar untuk berkeliling. Dia juga ingin membeli beberapa pakaian untuk keluarganya.


Di Kediaman Keluarga Dickiano...


dia yang baru menjawab panggilan telepon seketika wajah nya menjadi murung.


Nathan tertangkap. Dia dituduh sebagai pelaku utama perampokan.


"Dasar Bajingan Tidak berguna! Dia bahkan Tidak berhasil membereskan Imbran. Segera putuskan semua kontak dengan Nathan. Jangan sampai pihak polisi tahu


bahwa aku terlibat dalam masalah ini."


Keesokan harinya, Imbran mengemudikan mobil pik-up nya setelah selesai sarapan. Dia datang ke lokasi pembangunan dermaga dan mendapati pekerjaan sudah dimulai.


Sepertinya, pembangunan dermaga ini akan selesai dalam beberapa hari lagi.


Saat ini, Siren sedang sibuk menginstruksikan para pekerja. Dia tampak cukup lelah.


Setelah mengamati mereka sesaat, Imbran pun pergi dan datang ke tepi pantai yang sepi. Dia mengeluarkan peralatan menyelamnya, lalu melompat ke laut.


Selama tiga hari berturut-turut, Imbran selalu menyelam untuk mencari hewan laut langka,


Hanya dalam tiga hari, dia telah menghasilkan uang sekitar empat miliar rupiah.


Ketika Imbran hendak melaut hari ini, ponselnya tiba-tiba berdering.


Imbran Pun mengeluarkan ponselnya, lalu mendapati bahwa si penelepon adalah Salsa.


(Hallo,"


"Imbran, ada pameran di perusahaan Keluarga Lunar hari ini. Apa kamu bisa menemaniku ke sana?" tanya Salsa dari ujung telepon.]


[Oke, di mana? Aku akan segera membawa mobil ke sana."]


"Di pusat Pasar Batu Giok Stanfford"


Imbran pun lalu membuka navigasi ponselnya, dan langsung melaju ke pusat Pasar Batu Giok Stanfford.


Sesampainya di pintu masuk, Imbran memarkir mobilnya. Dia langsung melihat Salsa yang mengenakan gaun biru yang tampak mewah.


Salsa kamu tampak sangat cantik hari ini. Imbran bahkan sontak memujinya.

__ADS_1


"Imbran, aku yang merancang pameran hari ini."


Keduanya pun langsung memasuki Pasar Batu Giok.


Pasar ini sangat besar. Banyak pebisnis Asing yang telah mendirikan kios di tempat ini. Sementara itu, pameran yang digelar salsa ada di depan sana.


Luas tempat pameran ini kira-kira mencapai 300 meter. Ada banyak sekali batu giok mahal yang tergantung di atasnya, dan ada juga barang-barang yang terbuat dari batu giok Murni,


"Pasar Batu Giok ini adalah pasar terbesar di wilayah Tenggara barat. Hampir


semua pedagang di wilayah tenggara akan datang ke sini untuk melihat barang."


"Perusahaan kami juga memiliki saham di pasar giok. Semua barang di pameran kali ini adalah produk perusahaan kami."


Setelah mendengarkan penjelasan Salsa, Imbran melihat giok yang ada di dalam sana. Semua batu giok itu memang sangat indah.


Namun, harganya juga sangat mahal, Yang paling murah saja mencapai dua puluh juta rupiah.


"Oh, ya. Biar kuperkenalkan kepadamu, ini Pak Bongki, juru ukir nomor satu di perusahaan batu giok kami."


"Keterampilan Pak Bongki sangat luar biasa. Batu giok gak berharga sekalipun bisa menjadi harta karun setelah diukir olehnya. Harganya bisa mencapai Ratusan juta rupiah."


Imbran menengadah, lalu melihat seorang


pria paruh baya yang kira-kira berusia 50 tahunan itu.


Tangan Bongki tampak sangat kasar. Mungkin karena terlalu sering mengukir sehingga tangannya menjadi kapalan.


"Halo, Anak Muda, kudengar kamu adalah pacar Salsa. Bagus, kalian sangat cocok!" sapa Bongki pada Imbran sambil tersenyum.


Saat ini, seorang pemuda datang ke pameran Keluarga Lunar, Begitu melihat Salsa, pemuda itu langsung menghampiri dengan perasaan gembira.


"Salsa, Apa kabar? sudah lama kita Tidak ketemu. Aku baru kembali dari luar negeri. Aku buru-buru datang kemari karena dengar kamu juga ada di sini," ujar pemuda tersebut seraya tersenyum.


Namun, Salsa justru tampak agak kesal setelah melihat pemuda ini.


Nama pemuda ini adalah Lanar, pewaris Keluarga Grata. Sama seperti Keluarga Lunar, Keluarga Grata juga merupakan keluarga terbesar di Stanfford.


"Berhubung kamu gak menggangguku selama dua tahun ini, hidupku jadi tenang sekali," sahut Salsa dengan jawaban sinis. Ekspresinya tampak sedikit jengkel setelah melihat pria itu.


Lanar tidak terlihat canggung meskipun dirinya dikritik demikian rupa oleh salsa. Dia masih bisa tersenyum lebar.


Detik berikut nya raut wajahnya sedikit berubah ketika melihat Imbran yang berdiri di sebelah kanan Salsa.


Sejak kecil, Lanar selalu membuntuti Salsa. Mereka bahkan bersekolah di sekolah yang sama.


Apalagi, ketika masa sekolah, Lanar yang tidak tahu malu ini menyatakan bahwa dirinya adalah kekasih Salsa. Setiap ada pria yang mencoba mendekati Salsa, Lanar, akan menghalalkan segala cara untuk mengusir'


mereka agar Salsa tidak terganggu.


Setelah Berkuliah, perilaku Lanar ini pun makin menjadi-jadi.

__ADS_1


Untungnya, Lanar pindah ke luar negeri untuk berkuliah sehingga Salsa bisa hidup tenang selama dua tahun ini.


(To Be Continued)


__ADS_2