KEHIDUPAN SEMPURNA

KEHIDUPAN SEMPURNA
Imbran Murka


__ADS_3

Imbran kemudian kembali ke vila. Sekarang, dia sudah memiliki sekretaris sehingga tidak perlu menjalankan semua tugas sendirian.


"Imbran berencana untuk pulang keesokan harinya, lalu mengajak adik dan kedua orang tuanya keluar untuk bersenang-senang.


Dia juga akan membawakan beberapa hasil laut untuk para tetangga mereka.


Kebetulan, dirinya mulai kangen dengan rasa menyelam karena tidak pernah melakukannya selama beberapa hari ini.


Imbran segera mengeluarkan satu set peralatan menyelam, lalu langsung datang ke tepi pantai di depan vilanya dan Kemudian Dia Terjun ke laut.


"Saat memasuki Air Laut, Imbran langsung merasakan sebuah perasaan hangat dan sangat akrab.


Imbran terus berkeliaran di dasar laut sambil mencari hasil laut.


Imbran terus bergerak menuju bagian dasar laut. Tak lama kemudian, dia pun sudah mencapai area laut dalam. Meskipun tempat ini sangat gelap, situasi laut dalam radius seratus meter dari dasar laut muncul di benak Imbran dengan sangat jelas.


Tiba-tiba, seekor makhluk besar muncul di penglihatan Imbran dan langsung mengejutkan Imbran.


Dilihat dari gigi tajam dan mulut yang ganas, jelas ini adalah seekor hiu besar.


Hiu besar ini langsung membuka mulutnya yang besar dan hendak menggigit ke arah Imbran.


"Imbran buru-buru menggunakan kemampuan khususnya. detik berikutnya, rasa permusuhan dari hiu itu menghilang. Hiu itu pun mengikuti di belakang Imbran seperti bayi yang patuh.


Sirip hiu juga merupakan makanan laut yang sangat berharga. Imbran mengeluarkan pisau lipat hendak memotong sirip hiu


Akan tetapi, Imbran tiba-tiba merasa tindakannya sedikit kejam. Setelah kehilangan siripnya, hiu ini akan segera mati.


Jadi, Imbran pun membiarkan hiu itu pergi.


Aksi melindungi lingkungan bisa dimulai dari diri sendiri, batin Imbran.


Kemudian, Imbran melihat sekelompok salmon-Salmon ini adalah barang bagus. Imbran buru-buru menggunakan kekuatan khusus lalu dia memasukkan salmon-salmon ini ke dalam jaring.


Setelah itu, dia menangkap beberapa lobster besar. Setelah jaringnya tidak muat lagi, Imbran baru berenang kembali ke permukaan.


Setelah dia Sampai di Villa Imbran lalu melemparkan semua makanan laut itu ke kolam renang.


Saat ini, Imbran mendapati seekor kura-kura sebesar semangka yang mendadak muncul di dalam kolam renangnya.


Buset! Kenapa jadi sebesar ini!


Kura-kura ini adalah produk uji coba untuk mengobati penyakit kanker yang dia temukan beberapa hari yang lalu.


Saat itu, kura-kura ini hanya seukuran telapak tangan. Tidak disangka, kura-kura ini akan tumbuh sebesar semangka sekarang.


Bukankah pertumbuhan kura-kura biasanya sangat lamban?


"Sekarang, kura-kura ini tiba-tiba menjadi begitu besar, padahal baru beberapa hari berlalu."


Jangan-jangan?


Ini disebabkan oleh air spiritualnya!

__ADS_1


Bagus, sepertinya dia sudah membuat pilihan tepat untuk membudidayakan hewan laut. Dengan adanya air spiritual ini, dia akan mendapatkan banyak uang.


Haha, sepertinya aku akan kaya raya di masa depan.


Keesokan harinya, Imbran mengemasi barang-barangnya dan bersiap untuk pulang kampung.


Kalau dia menjemput orang tuanya untuk tinggal di sini, akan ada banyak barang yang harus dibawa. Jadi, mobil pik-up ini adalah alat transportasi yang lebih tepat.


Imbran membawa makanan laut yang ditangkapnya kemarin ke mobil pik-up. Tepat saat akan berangkat, sebuah mobil sport tiba-tiba mampir ke vilanya.


"Hei, Imbran, kamu mau ke mana?"


Orang yang berbicara adalah Salsa. Dia berteriak sambil menjulurkan kepalanya dari dalam mobil sport dan menatap dalam kearah Imbran.


"Aku mau pulang kampung dulu. Maaf, Salsa. Aku Tidak punya waktu untuk menemanimu hari ini!"


Mendengar bahwa Imbran akan balik kampung, Salsa langsung merasa tertarik dan buru-buru berteriak, "Aku juga mau ikut kamu. Aku belum pernah ke kampung. Kebetulan, aku bisa ikut kamu ke sana."


Mendengar apa yang dikatakan Salsa, yang sangat Antusias Imbran merasa tidak enak hati untuk menolak. Bagaimanapun, dua hari yang lalu, dia telah banyak Merepotkan Salsa.


"Baiklah, masuk ke mobil!"


Salsa memarkir mobil mewahnya di halaman Vila Imbran, lalu langsung membuka pintu mobil pik-up dan duduk di atasnya.


"Imbran, kenapa kamu membeli mobil ini?" tanya Salsa dengan ragu-ragu sambil melihat interior mobil itu yang menurutnya sangat biasa saja.


"Mobil pik-up ini praktis dan serbaguna bisa digunakan untuk mengangkut barang," jawab Imbran tanpa pikir panjang.


Imbran kemudian duduk di kemudi lalu menyalakan mobil dan langsung melaju ke desanya.


"Aku akan membayarmu dua ratus juta per bulan. Kalau Tidak cukup, aku bisa menaikkan gajimu lagi."ujar Salsa memecahkan keheningan.


"Wah, dua ratus juta sebulan, berarti dua miliar empat ratus juta per tahun. Pekerjaan dengan gaji tahunan sampai miliaran langsung dijanjikan begitu saja oleh Salsa.


jika itu Imbran dahulu, Imbran mungkin dia akan langsung menyetujui penawaran Salsa tanpa berpikir panjang. Namun, sekarang Imbran tidak akan pergi bekerja di bawah telapak tangan orang lain. Dia ingin memulai bisnisnya sendiri.


Seperti nya aku tidak bisa deh,


Setelah mendengar penolakan Imbran, Salsa juga tidak mengatakan apa-apa. Lagi pula, dia hanya bercanda. Dia telah menyaksikan kecepatan Imbran dalam menghasilkan uang. Imbran tidak akan peduli dengan gaji miliaran setahun itu.


Dengan adanya Salsa sebagai teman mengobrol, perjalanan selama beberapa jam berlalu dengan sangat cepat.


Setelah keluar dari jalan raya, Imbran


langsung berbelok ke jalan pegunungan. di Pegunungan di sekitarnya juga makin banyak. Mobil melaju ke arah gunung.


Sekitar satu jam kemudian, mereka akhirnya hampir tiba di rumah keluarga Imbran


Rumah Imbran berada di atas gunung sehingga tidak bisa dicapai dengan mobil pik-up. Mereka hanya bisa turun dan berjalan ke atas gunung.


Imbran memegang dua ember besar yang


berisi makanan laut, lalu dia berjalan menuju gunung bersama Salsa.

__ADS_1


Salsa mengikuti di belakang Imbran. Matanya yang besar mengamati pemandangan sekitar dengan penuh rasa ingin tahu.


Segera, sebuah pintu rumah yang familier muncul di mata Imbran.


Namun, suasana di dalam rumah sepertinya sangat ramai. Banyak warga desa berkumpul di pintu rumahnya.


"Ya ampun! Entah siapa yang sudah disinggung Yoga. Orang-orang itu sampai memukulinya sampai sekejam ini."


Begitu Imbran mendekat kerumah,dia langsung mendengar suara adik ketiga dari kakeknya.


Imbran mendengar kata-kata adik kakeknya dan bergegas maju untuk


bertanya, "Kakek, apa yang terjadi dengan orang tuaku?"


"Imbran kamu sudah pulang, ya. Baguslah. Jangan banyak bicara dulu. Cepat masuk dan temui ayahmu untuk terakhir kalinya!" kata adik dari kakek Imbran dengan terburu-buru.


Ketika Imbran mendengar kalimat temui ayahmu untuk Terakhir kalinya.


"Degghh..


jantungnya bergoyang adrenalin dia tahu bahwa sesuatu telah menimpa ayahnya, dia langsung merasa pusing dan buru-buru melewati kerumunan untuk berlari ke dalam.


Salsa juga mengikuti Imbran masuk dengan gugup.


"Ibu, Ayah, apa yang terjadi?"


Begitu memasuki ruangan, Imbran melihat ayahnya sedang terbaring di tempat tidur. Tubuh ayahnya dipenuhi dengan luka dan darahnya menodai seprai menjadi warna merah tua. Sekarang, ayahnya sudah kesulitan bernapas.


Di sisi lain, ibunya terus-menerus menyeka air mata.


Ayu menengadah dan segera mendapati putranya yang telah kembali. Dia berteriak sembari terisak-isak, "Imbran,


A-ayah mu sudah sekarat!"


Imbran melihat wajah ayahnya yang berlumuran darah dan tubuhnya yang babak belur. Beberapa jejak kaki terlihat di pakaian ayahnya yang berantakan.


Mata yang keruh itu perlahan-lahan menjadi suram. Saat melihat Imbran kembali, mata Yoga sedikit bersinar. Dia ingin berbicara, tetapi tidak bisa mengatakan apa pun.


Terlihat jelas bahwa Yoga sudah sangat lemah.


"Siapa pelakunya! Orang itu harus membayarnya dengan nyawanya!"


Ayahnya memiliki kepribadian yang baik. lembut dan tidak akan memprovokasi orang lain. Sekarang, ayahnya malah dipukuli hingga seperti ini.


Tidak peduli siapa itu, Imbran harus membuat orang itu mendapatkan ganjaran yang setimpal


"Arrrrgghhhh...


Imbran berteriak dengan marah.


"Rrrraurrrrrrshh


Tiba-tiba, samar-samar terdengar raungan murka dari naga di benak Imbran. Sepertinya, muncul nyala api yang tak ada habisnya dan seolah-olah akan siap membakar seluruh isi di dunia.

__ADS_1


(To Be Continued)


__ADS_2