
"Melihat punggung Siren yang kian menjauh, Imbran tiba-tiba merasa bahwa Kini dia juga harus mencari sekretaris. Perasaan jadwall yang diatur oleh seseorang terlalu nyaman Menurutnya.
Bagaimana Jika aku menawarkan gaji yang lebih tinggi dan merekrut Siren dari kantor lamanya untuk menjadi sekretarisku, Gumam Imbran dalam Pikiranya.
Bagus juga ide ini. Setelah Siren kembali nanti, aku akan coba menanyakan ketersediaan Siren untuk menjadi sekretaris.
Sambil menunggu Siren, Imbran mulai mengobrol dengan para warga di sini.
Akhirnya, dia mulai mengenal
nelayan-nelayan di sini.
Total ada 12 keluarga nelayan dan hanya ada 50 hingga 60 orang di pulau ini. Sementara itu, ada lebih dari 20 orang yang berusia antara 18 hingga 56 tahun.
Imbran masih sanggup untuk membayar gaji dua puluhan orang ini. Pengeluarannya dalam sebulan paling-paling hanya sekitar dua ratus juta rupiah.
Bagi Imbran yang sekarang Sudah mulai Bisa mengatur keuangan nya, dua ratus juta rupiah bukanlah apa-apa.
Kemudian, para nelayan mengundang Imbran ke rumah mereka dengan ramah. Sekarang, hanya tersisa satu orang di tempat yang bertugas untuk menunggu Siren kembali.
Imbran pun mengunjungi rumah para nelayan. Meski disebut sebagai rumah, sebenarnya belasan kepala keluarga dan tempat tinggal para,
Nelayan Ini hanya dibangun dari kayu dan daun alang-alang yang sangat sederhana.
Para nelayan ini mengeluarkan makanan terbaik yang mereka miliki saat ini untuk menjamu Imbran. Makanan-makanan ini sangat sederhana.
Melihat situasi ini, Imbran pun berencana membangun beberapa gedung kantor untuk stafnya ketika menemukan tim konstruksi yang bertugas membangun pulau. Dengan demikian, para stafnya dapat tinggal di dalam gedung.
Sekitar satu jam kemudian, Siren kembali dengan setumpuk kontrak kerja dan formulir biodata karyawan di tangannya.
Siren benar-benar teliti, bahkan formulir biodata karyawan pun sudah dia siapkan.
"Paman Jon, suruh semua orang berbaris. dan Minta mereka siap-siap untuk menandatangani kontrak kerja dan menerima dana kompensasi," kata Imbran kepada seorang pria paruh baya di sampingnya.
Paman Jon yang berusia hampir 60 tahun. Dan dia adalah satu-satunya orang yang bisa membaca di pulau ini, sehingga dia lumayan dihormati di antara para nelayan disini.
"Cepat berbaris. Satu per satu, ya. Asalkan berusia di atas 18 dan di bawah 55, semuanya bisa kerja."
Kedua belas keluarga nelayan di sini masing-masing memiliki anggota keluarga yang memenuhi persyaratan Imbran. Jadi, persyaratan ini masih bisa dibilang adil dan mereka pun tidak ada yang keberatan.
Sekitar setengah jam kemudian, Imbran langsung menandatangani kontrak kerja dengan para nelayan ini. Siren juga mengajari beberapa nelayan untuk
mengisi formulir dan biodata karyawan.
Melihat bahwa Siren sangat sabar, Imbran sangat menghargainya dan makin ingin merekrut Siren menjadi sekretarisnya.
__ADS_1
"Kak, aku boleh ikut kerja gak? Aku juga mau dapat uang banyak!" gumam Seorang gadis kecil berlari lalu mendekat sambil menatap Imbran dengan mata besarnya yang terlihat sangat polos.
"Dek, kamu masih terlalu kecil. Kamu baru bisa kerja kalau sudah gede, ya. Tugasmu sekarang adalah belajar dengan giat. Setelah kamu gede nanti, kamu bisa pergi bekerja!" ujar Siren sembari memeluk gadis kecil itu dan mengusap hidungnya.
"huh!"
Paman Jon menghela napas panjang sembari menunjukkan raut wajah sedih. "Tidak ada sekolah di pulau ini, dan sejujur nya Kami para orang tua juga Tidak mampu untuk membayar biaya. Bersekolah Di asrama Stanfford. Bagaimana caranya anak-anak ini bisa belajar?"
"Tidak bisa, aku Tidak akan membiarkan anak-anak karyawanku Tidak Bersekolah. Anak-anak ini adalah Masa depan negara kita.
"Ke depannya, biar aku yang menanggung semua biaya sekolah anak-anak ini."
Para penduduk sontak bersemangat ketika mendengar ucapan Imbran. dan ada juga yang menangis terharu.
Jika bisa membaca dan menulis, anak-anak mereka tidak harus terjebak di pulau kecil ini dan menjadi nelayan. Paling tidak, mereka bisa bekerja di luar pulau untuk mencari nafkah yang lebih baik.
"Terima kasih, Pak Imbran. Kamu terlalu baik!"
Andai semua orang kaya berpikiran seperti kamu, maka kemiskinan akan Musnah, Ucap warga di sudut kiri Imbran.
"Pak Imbran, aku pasti akan bekerja keras untuk membalas kebaikanmu!"
"Paman Jon, kamu adalah satu-satunya orang yang bisa membaca di sini. Apakah kamu mau datang untuk bekerja di tempat tambak ikan ku?"
"Tentu saja aku bersedia. Tapi, aku sudah berusia 60 tahun sekarang. Aku Tidak bisa melakukan pekerjaan berat," ucap Paman Jon sambil menghela napas.
"Imbran lalu mengambil kontrak kerja dan menyerahkannya kepada Paman Jon.
"wow"Benarkah. Aku akan mengelola tambakmu dengan sepenuh hati." tampak Wajah Jon sangat Berseri mendengar pengaturan Imbra.
Lalu Paman Jon mengambil kontrak kerja di tangan Imbran dan menandatangani namanya dengan sangat semangat.
Saat ini, Imbran juga mengeluarkan selembar kontrak kerja dan menyerahkannya kepada Siren. Dia berkata, "Nona Siren, apa kamu bersedia menjadi sekretarisku? Aku akan memberimu gaji seratus juta rupiah sebulan."
Ketika mendengar bahwa Imbran memberi Siren gaji senilai seratus juta sebulan, semua orang di pulau langsung merasa terkejut dan memandang Siren dengan rasa iri.
Seratus juta sebulan untuk menjadi sekretaris pribadinya?
"Dengan gaji setinggi itu, apa dia ingin menjadikanku sebagai wanita simpanan?ucap siren dihati"
Memikirkan hal ini, Siren langsung menjadi marah. Dia berkata dengan Lantang, "Pak Imbran, tadinya aku pikir kamu adalah orang yang sangat baik, Namun kini Tidak kusangka kamu begitu berengsek."
"Aku kasih tahu kamu, sekalipun kamu menggajiku dua ratus Hingga empat ratus juta sebulan aku Tidak akan mau Cam kan itu!"
Imbran tidak paham kenapa dirinya dimarahi oleh Siren. Dia hanya meminta Siren menjadi sekretarisnya dan menawarkan gaji yang begitu tinggi. bukan nya berterima kasih. malah Sebaliknya, dia pun dimarahi.
__ADS_1
Tiba-tiba, Imbran teringat dengan sesuatu. Dia pun tertawa dan berkata, "Nona Siren, kamu salah paham. Aku benar-benar mau mempekerjakan kamu sebagai sekretaris benaran, bukan sekretaris yang sering menyenangkan bos seperti yang kamu pikirkan."
hahaha,..!!!
Wajah Siren memerah. Dia baru tahu bahwa kini dirinya telah salah paham.
Gaji sebesar seratus juta sebulan merupakan lima kali lipat dari gajinya yang sekarang.
"Kamu benar-benar bersedia mempekerjakan aku sebagai sekretaris?" tanya Siren dengan nada tidak percaya.
"Ya, aku Tidak bohong!"
",Oke kalau begitu,
Siren segera menelepon. Dia langsung mengundurkan diri dari perusahaan tempatnya bekerja dan kemudian mengambil pena untuk menandatangani kontrak kerja,
"Pak, aku sudah menandatangani kontrak. Kamu Tidak bisa menarik kembali kata-katamu. Kamu juga Tidak boleh menunggak gaji karyawan mu."
"Jurusan yang aku ambil di universitas adalah jurusan hukum."
"Tenang saja. Aku Tidak akan menunggak gaji jika aku menunggak gaji kamu sebagai Sekretaries harus Mengingatkan ku karna hall semacam ini lah aku memperkerja kan mu!"
"oke siap bos,ucap Siren dengan suara Centil Yang sangat senang Membayang kan seratus juta akan dia dapatkan setiap bulan, Cukup untuknya, Membanggakan itu Di akun Sosmed nya,
"Omong-omong, berikan juga kontrak kerja pada nelayan yang mengemudikan kapal. Tanyakan juga apakah dia bersedia menjadi tukang perahuku. Dia akan kugaji dua belas juta sebulan!"
Siren menatap Imbran dengan bingung. "Pak, kamu benar-benar berkantong tebal. Bisa-bisanya kamu menggaji setiap orang yang kamu temui dengan nilai yang sangat fantastis"
Imbran lalu tertawa, dan bangkit berdiri dari kursi nya lalu dia berkata kepada Paman Jon, "Tambakku belum selesai dibangun, tapi pembangunannya akan segera dimulai dalam beberapa hari lagi. Jangan khawatir, aku akan tetap membayar gaji kalian. Sekarang, kami akan pergi dulu."
"Baik, baik! Pak, hati-hati di jalan."
Imbran dan Siren naik kembali ke kapal. Ketika mendengar akan digaji dua belas juta per bulan, nelayan yang mengemudikan kapal segera menandatangani kontrak tersebut.
"Oh ya, setelah kita kembali nanti, carikan seorang desainer untuk membantuku merancang pulau, menggambar peta, dan kemudian menemukan tim konstruksi untuk memulai pembangunan. Selain itu, tim konstruksi ini juga akan bertugas merenovasi rumah para pekerja menjadi sebuah gedung," kata Imbran kepada Siren.
Siren mengulurkan tangannya dan langsung berkata, "Pak, mana uangnya?"
Imbran pun langsung mentransfer dua miliar rupiah ke Rekening Siren.
"Pakai saja dulu. Katakan padaku Jika itu
kurang."
Sekarang, Imbran masih memiliki sisa uang sebanyak delapan belas miliar rupiah. Uang sebanyak itu seharusnya cukup untuk membangun pulau pasir Putih,
__ADS_1
(To Be Continued)