Kekasihku Ayah Sahabatku

Kekasihku Ayah Sahabatku
BAB 10: Ketahuan


__ADS_3

"Lia, kamu tunggu di lobby pintu utama aja ya. Aku aja yang ke parkiran, jangan kabur sama si om ya." Ucap Rendy sambil mengedipkan sebelah matanya padaku lalu pergi ke arah berlawanan dari lobby utama.


Aku tidak habis pikir, kenapa ada orang yang sok asyik seperti Rendy?! Tingkahnya itu bikin sebel, belum lagi mulutnya sudah kaya perempuan. Aku segera menghubungi 'Beby' untuk memastikan keberadaannya dan menginfokan kalau aku akan pulang bersama Rendy.


"Halo." Terdengar suara berat seorang pria yang khas dari seberang telepon.


"Beby, kamu dimana? Aku di lobby utama." Jelasku segera pada 'Beby'.


"Aku udah di mobil. Kayanya kita ngga bisa pulang bareng, mau aku pesankan taxi?"


"Ngga usah, aku pulang sama Rendy." Jawabku pada 'Beby', dan aku yakin dia pasti belum tahu siapa Rendy.


"Rendy? Cowok tengil yang tadi ngomong sama kamu?" Tanyanya dengan nada sedikit tinggi, nada bicara yang tidak biasa aku dengar darinya.


"Iya. Barusan itu Rendy, dia bos nya ibu di tempat kerja ibu sekarang. Dia anak yang punya laundry tempat ibu kerja dulu." Jelasku pada 'Beby', entah dia paham atau tidak dengan penjelasanku barusan.


"Aku ngga ngerti, tapi yaudah kalau kamu pulang sama dia, pastikan aman dan langsung pulang ke rumah ya. Aku pamit pulang juga ya cantik."


Aku pun berpamitan dengannya di telepon, tak lama setelah itu sebuah mobil berwarna putih berhenti di depanku. Kaca mobilnya diturunkan dan ternyata ada Rendy di dalamnya.


"Sayang, maaf nunggu lama ya." Teriaknya dari dalam mobil dan kurasa hampir semua orang disekitarku bisa dengar.

__ADS_1


Aku langsung masuk ke dalam mobil putih miliknya. Ia terlihat sedang tersenyum lebar waktu lihat wajahku kesal.


"Berisik banget. Pakai sayang-sayang segala lagi!" Ucapku padanya penuh emosi.


"Sayang, ini belanjaan kamu banyak banget, kamu beli apa aja sih?! Ini barang bermerk semua lho, mahal nih pasti." Aku tahu pertanyaan Rendy barusan adalah pertanyaan sarkas untukku.


"Aku kerja part time. Aku kumpulin semua uangku buat beli ini semua, jadi ngga usah banyak tanya ya, bawel banget sih." Ucapku ketus padanya dan selalu akan ketus kalau bicara dengannya, soalnya aku kesel banget sama dia. Cowok lho, tapi mulutnya ngelebihin perempuan.


"Kerja part time dimana? Ngerjain apa? Kamu tega ya, ibu kerja buat kamu, eh kamu kerja malah buat shopping sendirian." Mulutnya benar-benar se- enteng itu ya buat ngomong hal-hal yang bikin kesel hati. Kali ini aku cuma diam, aku sudah capek balas omongan Rendy yang kalau diladeni malah semakin menjadi-jadi.


Ia pun mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang. Ia seringkali menatapku lalu menggodaku dengan kata-kata sok romantisnya, bilang hari ini aku cantik lah, bilang aku kalau marah tambah gemesin lah, dan masih banyak lagi. Tapi aku benar-benar malas ngomong sama dia, jadi aku cuma memandangi jalanan dari jendela kaca mobilnya.


"Lia, aku yakin kamu kenal sama si om tadi." Ucapnya tiba-tiba padaku sambil terus menatap lurus ke depan jalan.


"Kamu harus hati-hati sama dia, Lia. Cowok yang udah usia kaya dia itu biasanya deketin ABG kaya kamu karena cuma butuh s*x. Dia pasti udah berumur, bisa jadi dia udah punya istri."


"Eh kalau ngomong jangan sembarangan ya, kamu ngga tahu siapa dia." Ucapku kesal.


"Tuh, bener kan. Kamu pasti kenal sama si om tadi. Aku udah perhatikan gelagat kalian dari awal kalian masuk toko. Aku ngomong begini karena aku kasihan sama ibu kamu. Gimana perasaannya coba, kalau dia tahu kamu main sama om-om."


"Duh, Rendy pikiran kamu tuh ya, kotor dan negatif. Dia itu ayahnya Anita, sahabat aku. Inget Anita kan? Nah, jadi dia ngga akan punya niat jahat sama aku." Aku semakin kesal dan emosi dengan Rendy yang sok tahu.

__ADS_1


"Ayahnya Anita? Ngapain kamu jalan sama ayahnya dia? Dibelanjain segala sama dia, itu mah udah pasti modus, Liaaa!" Dia bicara dengan nada tinggi dan agak 'sewot' sama aku. Aku juga merasa salah ngomong sama Rendy, harusnya aku tidak perlu jelaskan siapa 'Beby'.


"Bukan urusan kamu. Udah, pokoknya kamu jaga rahasia aja, ngga usah bilang macem-macem sama ibu. Katanya kamu kasihan sama ibu."


"Aku sih bisa jaga rahasia, cuma ada syaratnya."


"Paling males kalau begini. Apa syaratnya? Awas macem-macem ya!"


"Syaratnya kamu harus mau jadi temen aku, temen beneran lho ya. Paham kan definisi temen?"


"Pahamlah! Aku juga kan punya temen." Jawabku 'sewot'.


"Definisi temen buat aku tuh, kamu harus mau temenin aku jalan, temenin aku chatting, temenin aku teleponan, temenin aku makan, temenin aku..."


"Ish banyak banget sih syaratnya. Berapa lama harus kaya gitu?"


"Hm... 3 bulanan aja. Deal ngga nih? Kalau ngga deal, aku bakalan bilang sama ibu, supaya kamu dipingit dan ngga boleh ketemu sama si om lagi."


"Yaudah, deal. Tapi kalau kamu sampai cerita sama ibu, kita bakalan jadi musuh dan kamu harus bayar gaji ibu 3 kali lipat selama ibu kerja dan 10 kali lipat kalau ibu resign atau kamu pecat." Aku ngga mau kalah kasih syarat ke Rendy yang sok paling bener ini dan jaga-jaga kalau dia batalalin perjanjian kita.


"Oke, deal." Kami pun berjabat tangan tanda setuju.

__ADS_1


"Ngomong-ngomong syarat kamu tuh isinya duit semua ya. Kecil-kecil udah ngerti duit." Dia pun kembali meledek dan menggodaku.


Aku harap Rendy bisa pegang janjinya buat jaga rahasia soal aku dan 'Beby'. Aku juga berusaha buat penuhin persyaratan dari dia meskipun males banget bakalan harus jadi temennya yang harus nemenin dia ngapa-ngapain kemana-mana.


__ADS_2