
"Lia, tadi siapa? Ayahnya Anita datang ya?" Ibu bertanya padaku saat aku hendak membereskan kamarnya.
"Hm... Iya bu, tadi ayahnya Anita datang." Perasaan hatiku sedang tidak baik, sebetulnya aku enggan menjawab ibu karena pasti ia akan menanyakan kelanjutan hubungan kami.
"Apa yang kalian bicarakan? Ibu dengar ribut-ribut tadi. Kamu bertengkar?"
"Ngga bu, kami baik-baik aja. Cuma berdebat sedikit, sudah ibu jangan berpikir yang aneh-aneh yaa." Aku berusaha menghindari pertanyaan-pertanyaan dari ibu selanjutnya, karena jujur aku sedang malas sekali membahas soal pernikahan dan lainnya itu dengan ibu.
"Lia, sebentar ibu mau bicara." Ibu memanggilku kembali ke kamar saat aku hendak keluar.
"Kenapa bu? Ibu mau bicara soal apa? Kalau soal pernikahan Lia lagi malas bahasnya ya bu." Baru kali ini aku bersikap tidak mengenakan pada ibu, tapi aku betul-betul sedang enggan membahas pernikahan.
"Bukan, ini soal bu Emi. Tempo hari dia bilang kalau gajinya sudah dibayar, tapi yang bayar bukan ayahnya Anita." Ibu menjelaskan padaku dengan suara dipelankan.
__ADS_1
"Lho? Terus yang bayar gajinya bu Emi siapa bu?" Tanyaku penasaran.
"Nak Rendy yang bayarkan. Bahkan tagihan listrik dan tagihan lainnya juga sudah ia bayarkan." Aku terkejut mendengarnya, entah apa yang Rendy pikirkan sampai bersedia membayar segala tagihan kami.
"Astaga, Rendy! Kenapa dia harus bayar semuanya sih bu? Aku kan jadi ngga enak, mana telepon dan pesan dia ngga pernah aku balas." Aku jadi sedikit merasa bersalah pada Rendy.
"Kemarin nak Rendy hubungin ibu, katanya supervisor yang ganti ibu bekerja sudah berhenti bekerja karena kurang cocok dengan lingkungan pekerjaannya, padahal anak-anak resto itu baik semua lho, heran kenapa bisa ngga cocok. Lalu, nak Rendy menawarkan pekerjaan itu untuk kamu. Kamu mau ngga?" Sebetulnya aku memang sedang sangat membutuhkan pekerjaan, tapi apa iya harus direstauran Rendy dan menjadi anak buahnya juga.
"Lho, emang ngga apa-apa bu? Aku takut ada kesenjangan gitu, dan seolah olah kita ini kepingin ambil alih pekerjaan itu, dari ibu turun ke anaknya." Aku masih ragu menerima pekerjaan itu meskipun sangat butuh.
"Beneran nih bu, ngga apa-apa?" Aku ingin menegaskan kembali.
"Yakin, ngga akan kenapa-kenapa. Rendy juga pasti senang kamu mau bekerja membantu dia di resto. Gimana? Kalau Lia bersedia, nanti ibu ajarkan." Ibu nampak menunggu jawabanku.
__ADS_1
"Tapi bu, aku boleh minta syarat? Aku ngga mau Rendy memperlakukan istimewa dan aku ngga mau pekerjaan ini jadikan aku beban untuk mengiyakan lamarannya waktu itu." Aku masih belum yakin dengan perasaanku pada Rendy jadi aku tidak mau hanya karena aku sudah bekerja padanya, lantas ia menganggap aku pasti menerima lamarannya.
"Ibu akan bilang itu ke Rendy nanti. Lalu, kamu bisa bilang langsung pada Rendy ya. Jadi pekerjaan ini kamu ambil betul-betul bukan karena embel-embel perasaan dan lamarannya, tapi karena anak ibu memang ingin bekerja." Aku begitu senang mendengarnya dari ibu, memang ibu adalah orang yang paling bisa menenangkan hatiku, ibu adalah orang yang paling mengerti aku.
"Bu, nanti kalau Lia sudah punya gaji, Lia janji ajak ibu makan enak di luar, tapi makananya makanan sehat, cocok buat ibu. Terus Lia ajak ibu belanja beli semua yang ibu mau." Belum mulai bekerja aku sudah senang sekali membayangkan menerima gajinya nanti.
Ibu hanya tertawa kecil mendengarku, sama halnya dengan aku. Kata ibu, kerja saja dulu baru membayangkan gajinya. Mungkin ini kali pertama aku bekerja, jadi rasanya senang sekali dan sangat bersemangat. Hati yang sebelumnya sedang tidak baik karena perdebatanku dengan Beby, langsung berubah jadi bahagia.
"Kamu siapkan saja dulu semua yang dibutuhkan untuk bekerja, ibu akan segera hubungi nak Rendy." Ibu memberi komando padaku untuk segera mempersiapkan apa saja yang aku butuhkan untuk bekerja."
"Memang kapan aku mulai bekerja bu? Terus apa saja yang perlu aku siapkan untuk bekerja?" Aku sedang bersemangat sekali sekarang.
"Ibu rasa besok kamu sudah bisa langsung bekerja, sebab nak Rendy bilang sedang membutuhkan orang segera untuk mengisi posisi itu. Bahkan nak Rendy minta sesegera mungkin untuk hubungi dia lagi. Kalau persiapannya, kamu perlu siapkan sepatu kets serta baju yang nyaman dipakai sebab kamu pasti butuh leluasa untuk bergerak." Ibu nampak tersenyum sambil memberitahu aku segala keperluanku.
__ADS_1
Jadi ini rasanya membuat hati ibu bahagia, melihat ibu senang dan tersenyum rasanya aku jadi ingin membahagiakan ibu terus menerus. Ada perasaan bahagia yang sulit diungkapkan dengan kata-kata.