Kekasihku Ayah Sahabatku

Kekasihku Ayah Sahabatku
BAB 41: Menjauh


__ADS_3

"Anita, aku bisa jelaskan semuanya tapi ngga disini. Aku mau jelaskan semuanya bersama ayahmu." Aku terus meneteskan air mataku.


Plak!


Tiba-tiba Anita melayangkan tamparannya di pipi kiriku. Seketika suasana menjadi sunyi, semua mata memandang ke arahku dengan berbagai prasangka. Aku melihat sekelilingku dibalik rambut yang tersibak menutupi sebagian wajahku, dan tak satu pun wajah yang terlihat sangat marah selain wajah Anita. Tak ada yang membantuku, tak ada yang berusaha melerai kami, apalagi saat Anita mulai menyerangku dengan kata-kata tak pantas dan berulang kali menyebutku wanita penggoda.


"Lia, Anita, cukup!" Tiba-tiba ku dengar suara Beby yang kemudian menghampiriku dan memelukku.


"Ayah! Ayah kenapa lebih membela perempuan penggoda itu?!" Teriak Anita.


"Diam kamu! Ayah ngga pernah ajarkan kamu jadi orang yang anarkis begini, ayah ngga pernah berteriak sama kamu apa pun kesalahanmu, ayah bisa jelaskan semuanya tapi ngga sekarang. Sekarang sebaiknya kamu dan mamahmu pulang, dan jangan tunggu ayah." Beby kemudian menggiringku keluar resto menuju mobilnya. Aku masih terus tertunduk sebab aku merasa sangat malu dan tak ada kalimat apa pun yang sanggup aku ucapkan sekarang.


"Lia, aku antar kamu pulang. Kamu jangan khawatir, aku akan selalu jaga kamu. Aku minta maaf sebab perlakuan Anita sudah keterlaluan, aku janji akan ku buat Anita minta maaf sama kamu." Beby lalu memasangkan sabuk pengaman dan merapikan rambutku, sejenak ia menatap ke arahku lalu lanjut melajukan mobilnya.


Aku hanya bisa terdiam, kepalaku sakit begitu pun dengan hatiku. Entah apa aku berada di posisi yang salah atau tidak, tapi aku merasa aku pun wanita single dan Beby juga pria single, apa salahnya kami menjalin hubungan. Salah mungkin karena Beby adalah ayah dari sahabatku, tapi apakah caranya harus sekeji ini mempermalukan harga diriku.


Sesampainya di rumah aku langsung turun dari mobil lalu masuk ke dalam rumah, Beby mengantarku sampai depan pintu dan aku meninggalkannya tanpa sepatah katapun. Aku menangis lagi di dalam kamarku, menangis tanpa suara karena takut ibu mendengarnya. Bukan hanya kejadian di resto tadi yang mengusik sedihku, tapi kebimbanganku selama ini juga membuatku sedih, aku ingin sekali menikah dengan Beby tapi ia belum menunjukkan keseriusannya denganku, sementara ada Rendy yang begitu serius denganku tapi aku justru belum yakin dengan hatiku.

__ADS_1


Aku menangis sampai tertidur dan mengabaikan banyak panggilan telepon dari Beby, Anita dan juga Rendy. Aku ingin menyendiri dan menjauh dari mereka semua untuk sementara waktu.


Tok. Tok. Tok.


Pagi-pagi sekali pintu kamarku diketuk.


"Siapa?" Aku masih berusaha membuka mataku yang sembab setelah menangis semalaman.


"Non, ibu jatuh non." Suara bu Emi mengejutkan aku dan membuatku langsung tersadar, aku langsung beranjak dari kamarku.


"Jatuh dimana?" Aku bergegas menghampiri ibu di kamarnya.


"Ibu ngga apa-apa?" Aku bertanya pada ibu yang sedang kesakitan tapi masih tersenyum.


"Ibu ngga apa-apa, cuma sedang coba berjalan ke pintu, eh tiba-tiba kaki ibu ngga kuat." Ibu menjelaskan padaku dengan wajah tersenyum.


"Ibu hati-hati dong, kalau mau apa-apa minta tolong sama bu Emi." Aku cemas sekali dengan ibu.

__ADS_1


"Ibu harus berusaha sendiri juga dong Lia. Mau sampai kapan ibu bergantung dengan bu Emi. Ibu juga ngga mau bergantung dengan siapa-siapa."


"Non, bu, saya permisi ya mau lanjut ke belakang." Bu Emi lalu meninggalkan aku dan ibu setelah kami mengangguk tanda memberi izin.


"Lia, kenapa matamu sembab? Semalam kamu jadi pergi dengan Anita dan ayahnya? Apa yang mereka katakan sampai kamu menangis?" Rupanya ibu sudah tahu kalau aku menangis semalam. Mata sembabku memang terlihat jelas dan tidak bisa ditutupi.


"Lia, kalau memang Anita ngga setuju kamu dan ayahnya menjalin hubungan, mengapa masih kalian lanjutkan hubungan itu?" Ibu membelai rambutku dengan penuh kasih sayang. Tanpa kuceritakan panjang lebar, ibu sudah tahu soal Anita yang tidak setuju dengan hubungan aku dan ayahnya.


"Lalu Lia harus apa bu? Lia terlanjur cinta dengan ayahnya Anita." Tak kuasa aku menahan air mataku yang akhirnya jatuh juga.


"Sejujurnya, selain karena cinta, Lia juga ngga bisa putuskan hubungan Lia dengan ayahnya Anita sebab Lia butuh biaya bu. Ibu jangan marah ya, ayahnya Anita banyak sekali belikan Lia barang-barang mewah yang belum pernah Lia duga bisa memilikinya. Bahkan selama ini hidup Lia banyak ditanggung oleh ayahnya Anita, bu." Aku malu sekali sebenarnya mengatakan hal itu pada ibu.


"Lia, mungkin sah-sah saja kalau barang-barang itu dibelikan untuk kamu asalkan tidak mengganggu pengeluaran penting keluarganya. Tapi, alangkah baiknya kalau kamu tidak bergantung begitu pada ayahnya Anita. Dia memang pria yang baik, tapi kamu harus mandiri, Lia." Ibu masih membelai lembut rambutku, kata-katanya memang benar namun sangat menenangkan aku.


"Iya bu, sekarang Lia sudah berencana untuk mencari pekerjaan, sepertinya Lia juga akan menjauh sementara dari Anita dan ayahnya." Aku memang berencana mencari pekerjaan agar tak bergantung lagi dengan Beby atau pun Rendy. Aku ingin menyendiri sementara waktu demi mentralisir hati dan pikiranku agar aku lebih memahami kebutuhan hatiku sendiri.


"Yasudah, ibu do'akan yang terbaik untuk hidupmu. Ibu ngga bisa menyetir arah hidup Lia, tapi ibu hanya bisa menasehati Lia agar sebaiknya memilih Rendy saja yang sudah jelas menyayangimu dan ibu pastikan hubungan kamu dan nak Rendy berjalan mulus tanpa hambatan restu." Ibu mengecup keningku, aku merasa seperti anak kecil lagi yang sedang mengadukan kesusahannya pada ibu.

__ADS_1


Mulai hari ini, aku ingin membenahi hidupku yang kurasa sudah berantakan. Aku bertekad untuk mencari pekerjaan dan tak lagi bergantung pada Beby atau pun Rendy. Meskipun kini hatiku masih berharap besar pada cinta Beby untukku, namun untuk saat ini ku rasa sebaiknya aku mentralisir hatiku, agar jika ternyata Beby harus meninggalkanku, aku sudah siap dan tak lagi menangis.


__ADS_2