Kekasihku Ayah Sahabatku

Kekasihku Ayah Sahabatku
BAB 37: Harus Menikah


__ADS_3

"Tante, maksud tante barusan itu apa?" Aku ingin mempertegas pendengaranku, apa benar tante Ira tahu kalau putrinya sedang hamil.


"Lho, bukannya kamu sudah tahu ya, Anita sedang hamil. Anita bilang kemarin dia sudah kasih tahu kamu soal kehamilannya." Ucap rante Ira dengan santainya.


"Kamu bilang aku orang pertama yang tahu soal kehamilan kamu, Nit." Aku kini ingin mempertegas ucapan Anita kemarin.


"Lia, ini bukan kali pertama Anita bilang hamil. Beberapa bulan lalu dia juga bilang kalau dia sedang hamil, anaknya Benjo. Tapi tante tahu Anita berbohong, lagi pula kalau memang benar hamil ya tinggal digugurkan saja kandungannya, dari pada harus nikah sama si 'begajulan' Benjo." Tante Ira berkata begitu padaku dengan suara yang pelan, namun dengan wajah tanpa empati sedikitpun pada putri semata wayangnya itu.


Aku menatap wajah Anita yang tertunduk lesu, lalu melihat wajah tante Ira yang justru sekarang sedang asik menatap layar handphone nya.


"Sayang, maaf mamah pamit dulu ya, ada urusan penting. Kalau sempat tante akan datang lagi, cepat sembuh ya, Lia." Tante Ira lalu meninggalkan aku dan Anita yang masih dengan wajah sendunya.


"Nit, bener kata mamah kamu barusan?" Aku masih belum percaya dengan apa yang tante Ira ucapkan tadi. Aku lihat Anita hanya mengangguk, masih dengan wajah sendunya.

__ADS_1


"Kenapa kamu berani banget bilang begitu sama tante Ira?" Tanyaku lagi padanya setengah tidak percaya.


"Ya apalagi kalau bukan agar mamah dan ayah mau menikah, Lia. Kamu tahu kan itu syarat dari Benjo dan ibunya." Anita nampak putus asa.


"Omong kosong! Benjo dan ibunya itu memang mau lepas dari tanggung jawab. Terus sekarang kamu bohong lagi kalau kamu sedang hamil?" Kali ini aku benar-benar sudah emosi. Apa Anita tidak sadar juga kalau Benjo dan ibunya tidak ingin Anita menjadi bagian dari keluarga mereka?!


"Kali ini betulan, Lia. Kali ini aku betulan hamil, aku sudah periksa ke dokter kandungan diam-diam. Aku juga sudah menghadap Benjo dan ibunya untuk minta tanggung jawab, tapi..."


"Kenapa kamu ngga menjauh aja dari Benjo sebelum semuanya beneran kejadian? Aku yakin kamu paham kalau Benjo ngga serius sama kamu. Kalau kamu paksa mamah dan ayah kamu menikah, apa bukan egois namanya? Kamu ngga mikirin perasaan ayahmu?" Aku memotong ucapan Anita, sebab Anita benar-benar keterlaluan dan bertindak konyol kalau sampai harus mengorbankan perasaan banyak orang hanya demi kepentingan dirinya sendiri.


"Nit, aku bisa nikah sama ayah kamu kalau alasan Benjo dan ibunya hanya ingin kamu punya orang tua yang lengkap." Tiba-tiba hal itu keluar dari bibirku. Astaga, aku cukup berani rupanya untuk mengatakan hal itu. Tapi anehnya Anita nampak tidak terkejut, ia masih dengan ekspresi sedih dan sendunya. Mungkin menurutnya masalahnya lebih besar dari maksud ucapanku.


"Lia, kamu ngga usah begitu berkorbannya untuk aku dan keluargaku, aku yakin Benjo akan bertanggung jawab. Aku juga yakin ayah dan mamah bisa segera menikah. Dan mereka memang harus menikah lagi, karena aku juga ingin ayah dan mamah kembali seperti dulu." Anita masih yakin dengan prinsipnya.

__ADS_1


Aku sangat jengkel dengan Anita dan mamahnya, seakan mereka tidak peduli dengan perasaan Beby. Aku juga menjadi sangat jengkel sebab Anita tidak menghiraukan ucapanku soal aku bersedia menikah dengan ayahnya. Aku rasa aku harus segera mengambil tindakan agar Beby segera menikahiku.


"Nit, tapi aku lihat mamah kamu sepertinya ngga tertarik dengan ide kamu untuk menikahkan dia dengan ayahmu." Aku berusaha semampuku untuk membujuk Anita.


"Mamah memang ngga pernah tertarik dengan pernikahan, aku sudah tahu kalau mamah hanya tertarik dengan uang dan kekayaan..." Anita berhenti dan tak melanjutkan perkataannya.


Dari dulu aku juga sudah tahu kalau tante Ira hanya peduli dengan dirinya sendiri, ia hanya peduli dengan harta dan kekayaan, ia tak pernah peduli dengan pernikahannya ataupun keluarganya.


"Nit..."


"Lia, sudah jangan lanjutkan lagi. Aku rasa kamu ngga perlu ikut campur soal urusan keluargaku, aku yang lebih mengenal orang tuaku." Apa?! Aku tidak boleh ikut campur katanya?! Hei, dia harus tahu kalau aku dan ayahnya sudah saling mencintai lebih dari apapun selama ini. Dan kami saling memiliki, jadi kalau Anita bersikeras dengan prinsip serta ambisinya pada Benjo, aku pun harus bertindak.


"Lia, aku pamit pulang ya. Aku mau istirahat, kehamilan membuat aku cepat lelah." Anita lalu memelukku dan meninggalkan aku sendirian di kamar rawat.

__ADS_1


Aku masih terus memikirkan cara agar Beby mengerti kalau Anita sedang tidak baik-baik saja dan hubungan kami terancam. Argh, aku kesal sekali karena tidak tahu harus berbuat apa untuk mempertahankan hubunganku dengan Beby, karena yang aku rasa sepertinya Beby tidak cukup berani ambil keputusan besar.


__ADS_2