
Tut... Tut...
Sudah 5 kali berturut-turut aku menelepon 'Beby' tapi belum juga di angkat. Akhirnya aku pun mengirimkan chat pada 'Beby'.
'Aku mau telepon, penting.' Isi pesan chatku pada 'Beby'.
Sudah 30 menit sejak pesan chat dikirim, tapi belum juga ada balasan dari 'Beby'.
"Duh, kemana sih dia? Kalau lagi perlu susah banget dihubungin." Aku menggerutu sendiri.
Tiba-tiba terdengar suara telepon dari handphone ku, dan ternyata telepon dari 'Beby'.
"Halo, beby kemana aja? Aku nyariin kamu beby..." Suaraku jadi memanja saat mengangkat telepon dari orang yang aku tunggu-tunggu.
"Maaf cantik, aku lagi pergi sama teman-teman. Aku ngga lihat handphone yang ini, maaf ya. Kamu kenapa nyari aku?" Tanya 'Beby' dengan nada suara ikut memanja.
"Aku ngga bisa cerita di telepon, aku mau kita janjian ketemu aja beby, besok bisa?"
"Besok bukannya kamu ada jadwal presentasi kuliah?" Tanya 'Beby' menegaskan.
"Ada pagi, pokoknya besok jemput aku di kampus jam 2 siang ya beby... Penting banget soalnya."
"Siap. Yaudah aku tutup teleponnya ya. See you tomorrow."
Klik. Telepon pun di tutup.
Dengar suara 'Beby' buat aku jadi ngga bisa konsentrasi. Awalnya mau cerita malah tidak jadi, suara bass nya itu lho, kalau lagi lemah lembut begitu bikin aku klepek-klepek. Tadinya panik, sekarang malah jadi seneng, lupa semua masalah deh kalau lagi kasmaran.
Keesokan harinya tepat pukul 2 siang mobil 'Beby' sudah terparkir agak jauh dari kampusku. Aku pun menghampirinya, lalu masuk ke dalam mobil.
"Hai cantik, gimana presentasinya?" Ucap 'Beby' padaku sambil mengusap lembut kepalaku.
"Lancar aja sih. Ohya akhir-akhir ini sering banget panggil aku cantik, kenapa ngga dari dulu?" Tanyaku penasaran sekaligus senang.
__ADS_1
"Dulu juga mau panggil cantik, tapi takut kamu geli dipanggil cantik sama om-om." Candanya sambil tertawa.
"Emang geli sih, apalagi om-omnya genit." Timpalku sambil tertawa.
"Oke sekarang kita mau kemana? Mau lihat-lihat apartemen lagi?" Kali ini ajakannya sungguh penuh godaan, ia menatapku sambil mendekatkan wajahnya padaku.
"Selain genit, si om mesum juga yah." Celetukku sambil menjewer telinganya.
"Hehehe... Bukan begitu, kan di apart kita bisa leluasa ngobrol, ngga ada yang akan tahu kita bahas apa dan ngapain aja."
"Aku mau makan dulu aja deh, aku ceritain sambil jalan, yuk jalan sekarang." Ajakku pada 'Beby'.
"Oke kita makan di mall aja gimana, mau? Sekalian refreshing biar kamu ngga stress, kayanya obrolan kita bakalan berat banget nih."
Sepanjang perjalanan menuju mall, aku ceritakan semuanya pada 'Beby' soal kejadian history taxi online kemarin dengan Anita. 'Beby' terlihat sedikit bingung dan jadi pendiam sepanjang perjalanan menuju mall.
"Apa kita harus jaga jarak ya mulai sekarang? Maksudnya ngga cuma sama kamu, tapi sama Anita juga. Kayanya aku ngga boleh sering-sering main ke rumah kamu lagi." Aku mengutarakan pendapatku pada 'Beby'.
"Yaudah kalau itu solusi terbaik, aku ikut aja.
Kami pun akhirnya sampai di mall, kemudian langsung menuju tempat makan yang dipilih oleh 'Beby' karena tempatnya cukup privasi. Setelahnya 'Beby' mengajakku untuk belanja beberapa pakaian, karena katanya pakaianku kemarin terlalu terbuka dan memang aku pun ingin merubah penampilanku jadi lebih dewasa.
"Habis ini kita beli handphone ya, baru setelah itu kita pulang." Ucap 'Beby' padaku, aku pun hanya mengangguk tanda setuju padanya.
Selama jalan-jalan di mall, aku dan 'Beby' tidak jalan beriringan. Aku selalu berada di belakang 'Beby' sementara ia di depanku. Tentu karena kami takut ada orang yang mengenali kami, meskipun mall yang kami pilih cukup jauh dari lokasi kami tinggal.
Di dalam toko handphone, 'Beby' memilihkan aku handphone sementara aku jaga jarak dengannya sambil melihat-lihat pernik handphone lainnya. Kalau ada yang ingin ditanya, ia hanya melihat ke arahku, lalu akan ku jawab dengan anggukan tanda setuju atau gelengan kepala tanda tidak setuju.
Tak kusangka tiba-tiba ada suara yang aku kenali menyapaku.
"Lia. Kamu disini juga?" Aku pun menoleh ke arah suara yang menyapaku, dan ternyata itu Rendy. Aduh, bagaimana bisa ada Rendy juga disini. Aku langsung panik, bingung harus bagaimana.
"Kamu sama siapa kesini?" Lanjutnya bertanya padaku. Dan aku tidak tahu harus jawab apa, aku hanya melirik ke arah 'Beby', sementara ia tidak melihatku seakan tidak mengenaliku.
__ADS_1
"Oh, iya aku sendiri. Kamu ngapain disini?" Jawabku gugup dan masih berusaha melihat ke arah 'Beby', entah apa yang aku harapkan darinya. Aku hanya berpikir bagaimana aku bisa keluar dari situasi sulit ini.
"Aku service handphone tapi ternyata udah rusak, ngga bisa dibenerin lagi. Jadi aku kesini deh beli lagi yang baru. Kalau kamu?" Tanyanya lagi sambil ikutan melihat ke arah 'Beby', arah dimana mataku celingukan lihat 'Beby'.
"Kak, ini handphone nya, katanya tadi ini kakak yang bawa. Ohya, data-data lamanya sudah di copy ke handphone yang baru ya." Seorang SPG mendatangiku dan memberikan handphone barunya padaku.
Sungguh hatiku jadi tidak enak, aku lihat ke arah 'Beby', ia sudah keluar toko tanpa melihat ke arahku. Aku yakin dia sudah tahu situasi yang kacau ini, makanya dia seakan tidak mengenaliku dan pergi begitu saja.
"Kamu beli handphone juga? Sama dong, kita bisa tukeran nomor handphone juga dong kalau gitu, sini aku masukin nomor handphone ku." Ucap Rendy seraya mengambil handphone dari tanganku dan mengetik nomor handphone nya, kemudian ia menghubungi nomornya dari handphone ku.
"Nih, udah aku simpan nomorku. Mulai sekarang aku bisa dong hubungin kamu. Ngga ada yang marah kan kalau aku hubungin kamu?" Godanya sambil mengembalikan handphone milikku.
"Pertanyaan buaya, semua cowok sama aja." Jawabku menanggapi godaanya dengan sedikit ketus.
"Kamu sama siapa kesini? Sendiri? Atau sama si om?"
"Eh, ngomong jangan sembarangan ya! Si om, si om, kalau ada yang denger gimana?" Aku sangat marah dengan pertanyaan Rendy, sekaligus cemas takut kalau Rendy bilang macam-macam sama ibu.
"Habis kamu lirik-lirik om-om yang tadi terus, kamu ngga sama dia kan?!" Rendy tanya sambil senyum-senyum padaku, sementara aku semakin manampakkan muka jutekku padanya.
"Apa sih?! Om-om mana?! Aku sendirian." Kataku ketus padanya.
"Ooh... Sendiri. Kalau gitu bisa dong aku ajak pulang bareng." Rendy semakin bikin aku kesal, godaanya sama sekali ngga bikin hatiku senang, aku justru makin panas mau marah-marah.
"Ngga usah, aku bisa pulang sendiri." Jawabku menolak ajakannya.
"Yakin? Pulang sendiri atau pulang sama si om?"
Aku langsung menoleh ke arah Rendy, aku sangat kesal dan ingin sekali teriak di depan wajahnya. Tapi aku tahan, aku takut Rendy ngomong macam-macam sama ibu, lagi pula Rendy ini kan bos nya ibu jadi aku harus jaga sikap supaya ibu ngga kehilangan pekerjaannya.
"Yaudah, ayo pulang. Parkir dimana?" Ucapku dengan nada sedikit tinggi padanya.
"Asyik! Gandeng dulu dong." Ia pun menyodorkan lengannya untuk aku gandeng. Tentu saja aku tolak dan langsung nyelonong jalan mendahuluinya.
__ADS_1