Kekasihku Ayah Sahabatku

Kekasihku Ayah Sahabatku
BAB 39: Pembicaraan Serius


__ADS_3

Aku mengetuk pintu rumah, kemudian seorang wanita yang mungkin usianya sekitar tiga puluhan membukakan pintu untukku.


"Selamat malam, pasti mba Lia ya? Mari masuk mba, saya bu Emi orang yang jaga ibu selama mba Lia di rawat di rumah sakit." Ucapnya menyambutku dengan senyum ramahnya.


"Selamat malam,  iya saya Lia. Terima kasih sudah jaga ibu selama saya dirawat ya." Aku pun memberikan senyum terbaikku untuknya sebagai penghargaan juga karena sudah merawat dan menjaga ibu selama aku di rumah sakit.


"Ibu ada di dalam kamar mba." Aku pun lalu masuk dan mencari ibu di kamarnya.


"Ibu!! Lia pulang!" Aku langsung memeluk ibu, melepas rindu karena sudah seminggu tidak bertemu. Meskipun hampir setiap saat kami video call tapi tetap tidak semerta merta mengobati rasa rinduku sama ibu.


"Anak ibu sudah sehat?" Ibu nampak meneteskan air matanya.


"Sudah bu, Lia janji akan jaga kesehatan Lia demi ibu." Aku pun jadi ikutan terharu dan menitikkan air mataku.


"Lia, ibu khawatir sekali selama kamu di rumah sakit, ibu minta maaf karena sekarang kondisi ibu sangat terbatas dalam gerak." Ibu lalu mencium keningku.


"Ngga apa-apa bu, justru Lia yang harusnya khawatir sama ibu karena ibu sendirian di rumah."


"Ibu ngga sendiri, ada bu Emi yang nemenin ibu. Orangnya baik, cekatan dan pekerjaanya rapih sekali. Ibu juga nyaman bicara sama dia. Tapi Lia, ibu Emi itu kan di beri upah sama ayahnya Anita, ibu jadi ngga enak kalau dia lama-lama kerja sama kita." Wajah ibu jadi muram saat mengatakan itu.


"Yasudah, sekarang kan ada Lia di rumah, jadi bu Emi sudah bisa kembali ke rumahnya mulai besok."

__ADS_1


"Bu Emi di upah untuk kerja sama kita selama sebulan ini Lia. Maksud ibu, sebetulnya ibu nyaman dan senang karena kehadirannya sangat membantu ibu dan ibu jadi ngga khawatir sama kuliah kamu yang sering terganggu sama ibu. Tapi bulan berikutnya ibu harus sendiri lagi tanpa bantuan bu Emi, ibu jadi bingung Lia." Aku paham maksud ucapan ibu, pasti ibu tidak enak hati kalau Beby terus yang harus membayar upahnya bu Emi, tapi di lain sisi ibu juga membutuhkan tenaganya dan begitu pun aku.


"Yasudah, kalau begitu akan Lia usahakan supaya bu Emi tetap disini bantu ibu, sekarang ibu jangan pikirin hal yang berat-berat dulu ya." Aku mulai mencoba menenangkan hati ibu, padahal sekarang dalam hati dan pikiranku justru mulai tidak tenang dan kalut.


Aku baru saja beranjak dari dudukku dan pergi meninggalkan ibu di kamar, tapi kemudian ibu memanggilku lagi.


"Lia, ada yang ibu mau bicarakan sebentar, boleh ngga? Atau besok saja kalau Lia sudah enakan." Ibu pasti ingin membicarakan hal penting denganku.


"Sekarang juga ngga apa-apa kok bu. Ibu mau bicara spal apa?" Aku lalu duduk kembali di sisi ranajng ibu.


"Begini Lia, beberapa hari lalu ayahnya Anita datang ke sini. Singkat cerita ia bilang sudah berikan kamu sejumlah uang untuk biaya kuliahmu sampai selesai. Lalu dia berikan ibu amplop yang ternyata isinya uang, kalau tidak salah nilainya puluhan juta. Katanya untuk biaya kebutuhan hidup kita berdua, nanti kalau kurang kita hubungi dia lagi." Ibu bicara dengan sangat hati-hati dan aku mendengarkan ibu dengan seksama.


"Ibu menolak uang yang ia berikan Lia. Ibu tidak enak hati menerimanya, sebab dia kan orang lain meskipun statusnya memang dia pacarmu. Dan ibu juga masih tidak menyangka kamu terima begitu saja uang dari dia untuk biaya kuliahmu. Biaya kuliahmu kan cukup besar Lia, dan masih dua semester lagi sekarang. Apa uang tabungan dari warisan ayah itu ngga kamu pakai selama ini untuk kuliah kamu?" Ibu nampak serius menanyakan hal itu padaku.


Aku bingung jawaban apa yang tepat aku sampaikan pada ibu, sebab pada kenyataanya memang uang tabungan dari warisan ayah memang tidak lagi cukup untuk membiayai kuliahku, ditambah lagi ibu yang sudah tidak lagi bekerja dan belakangan ini kami mengeluarkan biaya cukup besar untuk terapi dan pengobatan ibu.


"Lia, kenapa diam saja? Semenjak ibu sakit, ibu sudah tidak lagi perhatikan sisa tabungan itu. Kalau memang tidak cukup, apa sebaiknya kita buka usaha saja untuk kebutuhan kita sehari-hari?" Ibu masih menegaskan soal tabungan itu padaku.


"Hmm.. Bu, kalau beneran ibu mau tahu, Lia akan jujur. Sebenarnya sisa tabungan itu sudah ngga cukup untuk biaya kuliah Lia. Sebab, Lia pakai uang itu untuk biaya pengobatan ibu dan terapi ibu. Lia rencana mau kerja magang, tapi sampai sekarang masih tertunda bu, dan selama ini kita memang di bantu ayahnya Anita serta Rendy dalam mencukupi kebutuhan sehari-hari, bahkan untuk biaya pengobatan Lia kemarin..."


"Lia, kenapa ngga cerita sama ibu?" Ibu memotong pembicaraanku.

__ADS_1


"Hmm.. Lia..." Aku mulai panik dan ikutan bingung seperti ibu.


"Ibu jadi ngga enak dengan nak Rendy dan ayahnya Anita. Kita harus segera cari cara supaya tidak bergantung dengan orang lain Lia." Wajah ibu nampak cemas sekali.


"Ibu jangan bingung, biar Lia yang usaha ya, biar Lia aja yang cari kerjaan jadi ibu fokus aja sama kesehatan ibu." Aku berusaha memberikan solusi terbaik untuk ibu.


"Iya tapi cari kerja hari gini ngga mudah kan Lia. Lagi pula selama kamu belum dapat kerjaan apa iya kita akan bergantung terus pada orang-orang baik itu? Mereka kan orang lain Lia, mereka bukan anak ibu dan mereka juga bukan suami kamu, mungkin kalau salah satu dari mereka itu suamimu, ibu masih bisa terima bantuan dari mereka meskipun hati ini rasanya tidak seenak pakai uang hasil kerja sendiri." Perkataan ibu memang benar, dan seharusnya aku juga tahu diri sebab sampai sekarang terus bergantung hidup dengan Beby dan Rendy yang sangat baik. Apa mungkin karena aku tidak pernah merasakan bekerja dan mencari uang sendiri sehingga aku begitu terlena dan dengan mudahnya menerima bantuan dari mereka?


"Maksud ibu begini Lia, kalau memang kamu dan ayahnya Anita itu serius, alangkah baiknya kalian segera menikah. Ibu ngga masalah kalau kamu belum selesaikan kuliahmu, sebab kondisi ibu sekarang juga sedang sakit-sakitan. Ibu sudah tidak bisa bekerja lagi untuk mencukupi hidup kita berdua." Akhirnya aku mengerti arah pembicaraan ini, selain karena memang kita sudah harus mencari cara untuk menghasilkan uang, ibu juga pasti risih kalau terus menerima bantuan dari orang lain sehingga memintaku untuk segera menikah.


"Kemarin nak Rendy datang kesini juga, dia menyampaikan maksud untuk menikahi kamu kalau kamu sudah siap. Tapi dengan berat hati ibu sampaikan bahwa kamu sudah punya hubungan dengan ayahnya Anita. Dan rupanya dia juga sudah tahu." Aku sangat terkejut mendengarnya, jadi Rendy sudah menemui ibu dan meminta untuk menikahiku.


"Benar Rendy sudah bilang sama ibu kalau dia mau nikahin aku bu? Tadi dia juga bilang begitu sama aku, tapi aku belum kasih jawaban sama dia. Karena buat aku pernikahan bukan hal sepele bu, aku ngga mau salah langkah." Aku mencoba menjelaskan sudut pandangku pada ibu, lagi pula aku belum mendapat kepastian dari Beby apakah dia akan menikahi mantan istrinya atau aku.


"Dia bilang sama ibu sebab ibu juga ceritakan sama nak Rendy perihal ayahnya Anita yang berikan ibu uang tapi ibu tolak. Lalu akhirnya dia bilang mau menikahi kamu agar dia bisa jadi kepala rumah tangga dan mencukupi hidup kita." Ibu menjelaskan padaku.


"Lalu ibu jawab apa sama Rendy? Lagian kenapa ibu cerita soal ayahnya Anita sama dia?" Aku sedikit kecewa ibu ceritakan soal Beby pada Rendy perihal uang yang ditolak itu, karena menurutku seharusnya Rendy tidak perlu tahu terlalu banyak soal kami.


"Ibu cerita sebab sejujurnya ibu takut ayahnya Anita tersinggung, Lia. Tapi dengan begitu ibu jadi tahu dengan jelas bahwa ada Rendy yang berniat serius sama kamu, lagi pula ibu lihat kamu juga sepertinya suka dengan Rendy." Ibu benar memang aku menyukai Rendy, tapi hatiku belum yakin dengannya.


"Ibu, jujur aku masih belum yakin dengan perasaanku pada Rendy. Aku juga sudah ada rencana untuk meminta kepastian dari ayahnya Anita apakah dia serius sama aku atau ngga. Jadi aku minta doanya aja dari ibu, supaya aku di berikan jodoh yang baik ya bu." Tekadku untuk mendapatkan kepastian dari Beby jadi semakin kuat, aku harus mendapatkan jawaban apakah dia serius denganku atau tidak. Dan aku pun harus memikirkan masa depanku bersama ibu, seperti yang ibu sampaikan aku tidak boleh bergantung terus pada orang lain.

__ADS_1


__ADS_2