Kekasihku Ayah Sahabatku

Kekasihku Ayah Sahabatku
BAB 24: Terjadi Lagi


__ADS_3

Setelah satu minggu ibu dirawat, akhirnya ibu dibolehkan pulang oleh dokter. Kondisi ibu sudah membaik, ibu sudah dapat berbicara kembali meskipun belum banyak yang dapat ia katakan. Sebagian tubuh ibu tidak bisa digerakkan terlalu banyak, jadi ibu sangat membutuhkan bantuan untuk malakukan aktifitas sehari-harinya.


Rendy selalu menemaniku selama aku di rumah sakit. Paman dan Bibi juga sering datang untuk membawakan kami makanan serta pakaian ganti. Paman dan Bibi juga mengira kalau Rendy adalah pacarku. Padahal Beby juga termasuk orang yang cukup sering datang dan bertemu paman juga bibi.


Sesampainya di rumah, Rendy membantu aku menuntun ibu berjalan ke kamar. Ibu nampak senang karena ada Rendy yang selalu setia membantu dan menemaniku. Rendy juga baik hati sekali karena tetap akan menggaji ibu meskipun sekarang ibu sudah tidak bisa aktif bekerja.


"Terima kasih ya Ren, kamu udah baik banget sama aku dan ibu." Ucapku pada Rendy.


"Aku ikhlas Lia, karena seperti yang aku pernah bilang dan kamu juga tahu, kalau aku sayang sama kamu dan dengan ibu, dia udah aku anggep ibu aku sendiri." Aku dapat melihat ketulusan dari mata Rendy.


Jujur saja, seiring berjalannya waktu dan seringnya aku bertemu Rendy, membuat hatiku perlahan-lahan terbuka untuknya. Sikapnya yang acuh dan ucapannya yang terkadang jahat menurutku sebenarnya karena aku memang belum terbiasa dan belum membuka hatiku untuk Rendy.


Malam tiba dan ibu baru saja minum obat lalu tidur di kamarnya. Aku menutup pintu kamar ibu pelan-pelan agar tidak mengeluarkan suara berisik. Tiba-tiba aku dikejutkan dengan kehadiran Rendy yang muncul di belakangku.


"Astaga, Rendy. Kamu ngaggetin aku aja sih." Ucapku terkejut.


"Aku mau lihat ibu, dia udah minum obatnya?" Ucapnya berbisik seraya mengintip dari celah pintu yang belum sepenuhnya ku tutup. Aroma nafasnya berbau rokok mint persis seperti Bebyku. Dan parfum yang ia pakai mengeluarkan aroma segar, aku dapat mencium aromanya sebab jarak kami begitu dekat.


"Udah kok sekarang ibu lagi tidur, kamu mau pulang? Udah seharian kamu disini, nanti ada yang cariin ngga?" Tanyaku pada Rendy dengan jantung yang secara mendadak berdegup kencang sekali.


"Aku nginep disini aja, soalnya ibu kan baru pulang takut kalau ibu kenapa-kenapa." Ucapnya sambil menutup pintu kamar ibu. Tangannya menyentuh tanganku yang masih memegang gagang pintu.


Sekujur tubuhku meremang, bulu kudukku berdiri dan darahku berdesir saat ia menyentuh tanganku. Ada hasrat yang terbangun di dalam sana, entah mengapa semakin hari bersamanya membuatku semakin ingin lebih dekat dengannya.


Kini kami saling bertatapan, aku dapat melihatnya menelan ludahnya. Mataku turun melihat bibirnya, hingga akhirnya ia mencium bibirku. Ia merengkuh pinggangku, tangan lainnya menyibakkan rambutku dari bahuku. Ia menyentuh tubuhku dengan lembut, ia mengalungkan kedua tanganku di lehernya.

__ADS_1


Sentuhan bibirnya begitu manis, rasanya masih sama persis ketika pertama kali ia menciumku. Semuanya ia lakukan dengan sangat lambat, manis dan lembut. Kini ciuman itu menjalar ke tengkukku, kemudian terus ke seluruh bagian leher hingga dadaku.


Ia mengangkat tubuhku dan mendudukkan aku di meja makan, aku paham ini lah saatnya malam panas akan dimulai. Kami melakukannya nyaris tanpa suara, ia terus membungkam mulutku dengan ciuman darinya. Aku sadar bahwa yang kulakukan memang salah, aku telah berkhianat lagi dari kekasihku. Entah mengapa kini aku justru serakah karena menginginkan keduanya.


Setelah selesai kami pun membersihkan diri, aku lalu tidur di kamarku sementara Rendy tidur di ruang tamu. Ada perasaan aman saat Rendy bermalam dirumah, seperti ada yang akan selalu menjaga aku dan ibu.


Cling. Handphone khususku berbunyi, mungkin ada pesan dari Beby.


'Aku sudah transfer untuk kamu dan ibu, kalau ada apa-apa hubungi aku ya.' Ku baca pesan dari Beby.


'Ngga usah repot-repot, aku ngga enak sama kamu.' Terus terang aku jadi merasa tidak enak karena baru saja aku berkhianat darinya.


'Ngga apa-apa cantik, anything for you. Muach.'


Tak lama kemudian terdengar suara handphone ku yang lainnya. Kulihat layarnya ternyata telepon dari Anita, jujur aku gugup sekali mengangkat telepon darinya.


"Halo, Anita." Akhirnya ku putuskan untuk mengangkat teleponnya.


"Halo Lia, ibu sudah pulang ya? Gimana keadaanya?" Sahut Anita dari seberang telepon.


"Iya ibu sudah pulang, keadaanya baik. Kamu sendiri gimana, sudah sehat?" Tanyaku kembali padanya.


"Iya sudah sehat. Besok aku ke rumah ya, mau lihat ibu. Sekalian aku mau kasih kamu oleh-oleh dari ayah. Biasa si ayah kalau pergi kemana pun ngga lupa beli oleh-oleh buat kita "


"Oke, besok ku tunggu ya." Telepon ditutup.

__ADS_1


Aku harus segera tidur untuk menyiapkan mentalku bertemu Anita besok. Aku khawatir Anita akan menyerangku lagi.


***


Keesokan paginya aku bangun kebih awal dari yang lain. Aku menyiapkan sarapan untuk ibu dan juga Rendy. Aku juga menyiapkan air hangat untuk ibu mandi.


"Rajin banget sih, calon istri idaman banget deh." Terdengar suara Rendy menyapa aku yang baru saja selesai membantu ibu mandi dan sarapan.


"Jangan godain aku deh. Mandi dulu gih terus sarapan." Ucapku pada Rendy.


"Aku mau juga dong dibantuin mandi kaya ibu." Ucapnya asal.


"Ngaco, kalau mau aku bantu mandi kamu harus sakit dulu kaya ibu, mau?"


"Eh jangan dong, sembarangan nih kamu." Ia lalu memelukku dari belakang.


"Apa sih pagi-pagi udah peluk- peluk." Ucapku seraya berusaha melepaskan pelukannya.


"Sst... Jangan berisik, aku cuma mau bilang kalau semalam kamu hot banget. Boleh juga pengalamannya." Rendy berbisik di telingaku.


"Eh kamu sembarangan ya!" Teriakku.


"Ehem... Duh udah kaya pengantin baru nih." Emosiku terhenti melihat kehadiran Anita bersama ayahnya.


Iya, ayahnya Anita yang tentunya kekasihku itu. Sejak kapan mereka disana? Mereka pasti sudah melihatku dan Rendy peluk-pelukan dari tadi. Astaga!!

__ADS_1


__ADS_2