
Terdengar suara mesin mobil yang berhenti di depan rumahku. Aku mengintip dari balik jendela dan betapa terkejutnya aku melihat Beby datang menghampiriku.
Tok. Tok. Tok.
"Permisi, Lia... Lia!" Suara Beby terdengar begitu khas ditelingaku. Suara itu begitu kurindukan, namun aku harus menahan diri agar tak terlena lagi dengannya.
Setelah aku yakin dapat menahan diriku untuk bersikap biasa saja padanya, aku pun membukakan pintu untuknya.
"Beby, ada apa kesini? Mari masuk..." Aku mempersilakan ia masuk dan duduk di sofa ruang tamu.
"Lia, aku butuh bantuanmu, aku stress sekali Lia, tolong tenangkan aku." Robby duduk di sofa ruang tamu dengan wajah yang nampak lusuh dan tak bertenaga.
"Aku buatkan minum dulu ya, kamu tunggu disini." Saat aku hendak beranjak membuatkan Beby minuman, tiba-tiba muncul bu Emi yang kemudian bersedia menggantikanku membuatkan minum.
"Biar saya saja yang buatkan minum mba Lia. Mba Lia temenin tamunya saja." Ucap bu Emi padaku.
"Terima kasih bu Emi. Kamu kenapa tiba-tiba kesini tanpa bilang dulu Beb?" Aku berterima kasih pada bu Emi lalu melanjutkan pembicaraan dengan Beby.
"Aku bingung Lia, siapa lagi yang bisa dengar ceritaku ini selain kamu. Cuma kamu yang bisa ngertiin aku dan bisa menenangkan aku." Beby membuka satu kancing kemejanya bagian paling atas, kemudian menghela nafas panjang.
"Ada masalah apa sih Beby?" Aku menjadi penasaran dengan sikap Bebyku ini, hingga aku kupa diri terus-terusan memanggilnya dengan panggilan sayangku untuknya.
"Benjo dan Anita, mereka ngga akan pernah menikah, Lia. Orang tua Benjo bersikeras kalau Anita dan Benjo menikah, maka aku dan Ira harus kembali menjadi orang tua yang utuh untuk Anita." Robby, kekasih yang kerap aku sapa Beby itu nampak frustasi.
"Lalu? Apa kamu akan menikah dengan mantan istrimu?" Dalam tanya, aku menyimpan perasaan terluka namun aku berusaha untuk pasrah menerima kenyataan pahit nantinya.
__ADS_1
"Ngga mungkin Lia. Aku ngga pernah mencintai Ira, asal kamu tahu, dahulu Ira menjebakku agar aku menikahinya. Selama menikah aku ngga pernah bahagia dengannya, aku selalu berusaha menjadi suami yang baik untuknya namun keluarganya kerap menghinaku yang dirasa kurang cukup kaya untuk memenuhi kebutuhan mereka." Aku mendengarkan Beby dengan seksama.
"Lantas apa rencanamu selanjutnya?" Aku semakin penasaran.
"Aku akan bicara pada Anita soal ini. Dia mungkin akan sangat kecewa, namun aku berjanji akan merawat anak yang dilahirkannya nanti dengan baik seperti aku merawat Anita." Robby menjelaskan padaku namun sepertinya aku kurang begitu tertarik tentang cerita Anita, sahabatku yang sudah keterlaluan itu. Aku justru lebih tertarik dengan bagaimana kelangsungan hubungan Beby dan aku nantinya.
"Jadi kamu ngga akan menikah dengan mantan istrimu itu kan? Lalu, mengapa kita ngga menikah saja, supaya Anita tetap menikah dengan didampingi orang tua yang lengkap, memang itu kan syarat dari keluarga Benjo?" Aku penasaran sekali dengan jawaban Beby.
"Ngga semudah itu Lia, kondisinya sulit sebab Ibunya Benjo itu... Dia..." Beby nampak bingung menjelaskannya padaku.
"Iya, dia kenapa? Itu kan syarat dari ibunya, kalau mau Benjo menikah dengan Anita maka Anita harus didampingi oleh orang tua yang lengkap. Aku paham sih, sebab ayah Benjo itu kan pejabat penting dan cukup terkenal ya di negri ini, mungkin mereka merasa malu kalau..."
"Bukan begitu Lia." Beby memotong ucapanku.
"Masalahnya Ibunya Benjo itu teman lama Ira dan aku, dan kami bertiga punya konflik dulu. Jadi, sebenarnya ini merupakan cara dia untuk balas dendam dengan kami. Sehingga ia bersikeras membuat syarat konyol itu pada Anita." Beby nampak berusaha menyembunyikan sesuatu.
"Aku masih ngga paham sama semua ini. Aku mengerti maksud dari syaratnya, tapi apakah ibunya Benjo spesifik meminta kamu dan mantan istrimu menikah lagi? Apa tidak bisa jika kamu menikah dengan wanita lain?" Rasanya aku mulai terpancing emosi.
"Permisi mba, pak, maaf mengganggu... Ini minumannya, saya buatkan es jus sebab suasananya sedang panas." Bu Emi mengantarkan kami minuman sambil sedikit mencairkan suasana, lalu pamit pergi.
Emosiku memang sedikit mereda, begitu pun Beby yang nampak lebih rilex setelah meneguk es jus buatan bu Emi. Sejenak kami terdiam, aku masih menyimpan amarahku dan Beby nampak masih berpikir keras mencari solusi.
"Aku rasa kamu salah pergi kesini untuk menenangkan pikiran. Sebab rasanya justru aku menambah beban pikiranmu." Tiba-tiba aku menyesal sudah mengajak Beby berdebat.
"It's oke. Aku justru lebih lega sekarang, seakan semua unek-unek di dalam hatiku sudah keluar. Lia, dari pembicaraan kita ini aku bisa simpulkan bahwa kamu ingin cepat menikah denganku, benar?" Aneh sekali, mengapa tiba-tiba dia menanyakan hal itu padaku.
__ADS_1
Aku malas menjawab pertanyaannya, aku hanya terdiam dan enggan melihat matanya yang kini sedang menatapku.
"Kalau kamu mau kita menikah, tolong beri aku waktu untuk menyelesaikan masalahku dengan Anita lebih dulu. Setidaknya sampai calon cucukku lahir, kemudian kita akan segera melangsungkan pernikahan. Bagaimana?" Kata-kata itu seakan terdengar bagai dongeng di telingaku.
"Kamu yakin akan semudah itu? Kalau aku sih ngga yakin ya, sebab anakmu itu pasti mati-matian menentang hubungan kita. Kamu ngga ingat gimana dia dengan arogannya mempermalukan aku didepan umum, bahkan dia menghinaku dengan bilang kalau aku perempuan penggoda ayahnya yang sama saja dengan pel**ur." Aku masih ingat jelas kata-katanya yang menyayat hatiku.
"Lia, aku janji akan cari jalan terbaik agar kita bisa menikah." Beby nampak berusaha keras meyakinkanku.
"Sampai kapan aku harus menunggu kamu mencari jalan terbaik itu? Sementara ibuku disini juga sudah sakit-sakitan, ibu selalu khawatir putri semata wayangnya ini akan sendirian kalau dia ngga ada. Jujur saja, ibu ingin aku segera menikah." Akhirnya kalimat itu terlontarkan juga setelah sekian lama terpendam.
"Kamu jangan khawatir, aku tetap akan ada untuk kamu sekali pun hal buruk itu terjadi. Aku janji, aku akan selalu ada untuk membantu segala kebutuhan kamu." Beby mendekat denganku, ia genggam tanganku dan tatapan matanya seakan memohon padaku untuk mempercayai setiap ucapannya.
Bukan itu jawaban yang aku inginkan, aku butuh kepastian sekarang juga. Aku ingin hati ibu lebih tenang mendengar putri semata wayangnya akhirnya resmi dilamar dan akan dijaga pria pilihan hatinya.
"Aku ngga bisa nunggu terlalu lama." Aku menarik genggaman tanganku darinya.
"Aku tunggu sampai pergantian tahun ini. Kalau kamu masih belum menemukan jalan agar kita bisa segera menikah dan putrimu itu masih menentang hubungan kita, sebaiknya kita sudahi hubungan kita." Ucapanku begitu jelas dan tegas, namun di dasar hatiku paling dalam tergores luka begitu besar saat mengatakannya.
"Lia, aku minta waktu sampai Anita melahirkan anaknya. Bukankah sudah aku katakan tadi? Setelah anak itu lahir, kita akan segera menikah apa pun yang terjadi." Beby berusaha menggenggam tanganku lagi yang langsung aku tepis.
"Oke, aku akan pertimbangkan. Tapi selama belum ada jawaban apa pun itu, aku harap kamu bisa memberikan aku kesempatan untuk bertemu pria lain yang siap menikahiku. Aku dan ibu ngga mau menunggu sesuatu yang ngga pasti." Beby nampak terkejut mendengarnya, namun ia seakan tidak bisa berbuat apa-apa.
"Oke kalau itu mau kamu dan ibu, aku juga ngga bisa menahan kamu bertemu pria yang tepat sementara aku belum punya kepastian untukmu." Beby nampak pasrah, namun lagi-lagi bukan itu jawaban yang kuinginkan.
"Kalau sudah selesai kamu bisa pergi. Aku harus mengurus ibu lagi." Aku kesal sekali sebab Beby nampak tidak berniat mempertahankanku.
__ADS_1