
Aku mengenakan gaun merah maroon yang sedikit terbuka dibagian punggung, aku pun memakai semua perhiasan yang Beby berikan padaku. Malam ini aku bertekad untuk mendapatkan kepastian dari Beby, aku tidak mau terombang ambing hingga akhirnya aku jatuh sendirian. Setelah beberapa hari aku terusik dengan ucapan Rendy dan ibu, aku menjadi yakin harus segera mengambil tindakan. Aku tidak mau kehilangan semuanya, aku tidak mau kehilangan cinta Beby dan juga Rendy.
"Malam cantik." Beby menyapaku saat turun dari mobilnya untuk menjemputku.
"Malam Beby sayang. Ayo kita langsung berangkat, ibu sudah tidur. Aku juga sudah izin, dan ia sudah tahu aku akan pergi dengan kamu." Setelah menutup pintu, aku lalu berjalan ke arahnya.
"Yakin kita langsung jalan? Apa ngga sebaiknya aku bicara dulu sama ibumu?" Ia masih berdiri dan cekingukan melihat ke arah rumahku.
"It's fine. Lagi pula ibu sudah tidur. Dan aku bohong sedikit, aku bilang kita pergi bersama Anita juga." Aku berbisik.
"Hmm... Oke kalau begitu, ayo kita langsung pergi." Ia pun akhirnya mengikutiku, lalu membukakan pintu mobil untukku.
Selama dalam perjalanan ia terus melirik ke arahku lalu tersenyum. Aku pun melihat ke arahnya, lalu tersenyum juga. Jantungku berdegup kencang, sebab aku sangat gugup. Aku khawatir malam ini akan jadi malam terakhir kami menjadi sepasang kekasih, aku takut kecewa kalau ia lebih memilih mewujudkan keinginan Anita dari pada aku.
Akhirnya kami sampai di sebuah restauran yang terbilang cukup mewah, Beby sudah memesankan meja untuk kami berdua. Kami pun memilih menu andalan di restauran tersebut. Setelah makanan yang kami pesan datang, tak lama terdengar seseorang memainkan piano dan mulai menyanyikan lagu Endless Love - Lionel Richie.
"Suaranya merdu ya..." Aku cukup terkesan dengan suara merdu penyanyinya.
"Aku yang me-request lagu itu untuk dinyanyikan, lagu itu untukmu." Beby lalu mengedipkan matanya padaku, senyumnya begitu manis.
__ADS_1
Tiba-tiba hatiku jadi sedih, aku semakin takut kehilangannya. Aku takut sekali ia lebih memilih untuk menikah dengan mantan istrinya hanya untuk menyenangkan Anita dan mewujudkan ide konyolnya itu. Sementara aku pun merasa sudah memberikan segalanya untuk Beby, aku mencintainya dengan tulus dan begitu pun sebaliknya. Aku bisa merasakan cinta Beby yang tulus padaku, hanya saja kurasa ia masih terus dibebani dengan tuntutan untuk membahagiakan putrinya, Anita.
"Terima kasih ya, aku ngga sangka kamu romantis begini." Aku membalas senyumnya.
"Ngomong-ngomong ada hal serius apa yang mau kamu sampaikan?" Pertanyaan Beby membuat jantungku berdegup kencang tak karuan.
Aku gugup sekali, apakah aku harus menanyakannya sekarang juga apa dia bersedia menikah denganku atau dengan mantan istrinya itu. Atau aku harus memancingnya dengan sebuah obrolan yang nantinya akan mengarah kesana? Kata-kata yang sudah aku siapkan buyar semua sekarang.
"Kenapa jadi ngelamun? Kamu gugup ya? Tenang aja, aku ngga akan bereaksi berlebihan kok." Beby lalu menggenggam tanganku.
"Hm... Jujur, setelah Anita bilang soal rencananya untuk menjodohkan kembali tante Ira dan kamu, aku jadi takut kehilangan kamu. Aku takut kamu betulan akan menikah dengan tante Ira." Aku tak berani menatap mata Beby.
"Kamu jangan takut, aku akan berusaha untuk bicara dengan Ira dan juga Anita kalau aku tidak bersedia dengan pernikahan itu." Aku spontan menatap mata Beby untuk memastikan ucapannya bukan omong kosong belaka.
"Aku seneng banget dengarnya, tapi Beb, begini... Masalahnya Anita sekarang itu..."
"Lia!" Deg! Aku sangat mengenal suara itu. Aku menoleh ke arah suara yang memanggilku, betapa terkejutnya aku menemukan Anita dan tante Ira sudah berdiri di dekat kami.
"Apa-apaan kamu?! Kamu goda ayah aku?! Kamu segitunya butuh uang ya sampai harus goda ayahku?" Anita langsung menarik lenganku dan menyeretku dari duduk hingga aku berdiri dan hampir jatuh.
__ADS_1
"Aw! Anita sakit." Aku merasakan jemarinya menggenggam lenganku begitu kencang dan menarikku dengan sangat kasar.
"Anita lepas, kamu jangan kasar begitu sama Lia." Suara Beby membuat Anita melepas genggamannya dan menoleh ke arah Beby.
"Ayah, apa ayah ngga malu jalan berdua, mesra-mesraan dengan sahabatku sendiri? Ayah pasti sudah termakan godaan dan rayuan perempuan gatal ini." Anita begitu lantang mengucapkan hal itu hingga semua orang di restauran dapat mendengar dengan jelas.
"Anita, ayah bisa jelaskan, tapi kamu jangan teriak-teriak dan marah-marah begini. Kamu ngga sopan sekali Anita." Beby nampak menahan emosinya.
"Ayah marah sama aku karena mau belain si gatal ini? Kamu pasti goda ayah aku kan? Kamu perlu uang berapa sih? Kenapa goda ayah aku? Kenapa ngga cari om-om lain aja, kenapa harus ayah?" Anita berteriak lagi ke arahku, aku betul-betul malu sekali. Rasanya air mataku sebentar lagi akan jatuh.
"Ikut aku! Aku harus bicara sama kamu!" Anita menarikku dan meneriaki aku.
"Anita lepaskan Lia, berhenti Anita!" Beby memerintahkan Anita, tapi Anita tak menggubrisnya sama sekali dan masih terus menyeretku keluar restauran.
"Mas, biar Anita bicara dengan Lia. Dan kita juga harus bicara." Tante Ira menahan Beby untuk menyusulku keluar.
Sementara itu di luar restauran aku melihat banyak orang melihat ke arah kami dan memandangku dengan tatapan sinis.
"Anita aku bisa jelasin semuanya." Aku lalu menarik lenganku yang sudah sangat sakit karena genggamannya yang begitu kencang.
__ADS_1
"Oke, jelasin sekarang kenapa kamu bisa-bisanya pakai baju yang sangat terbuka ini lalu pergi dinner dengan ayahku? Ayo jelaskan! Jelaskan bagaimana cara kamu goda ayahku sampai ayahku bisa-bisanya kehilangan akalnya." Anita masih meneriaki aku sampai-sampai orang-orang disekitar kami pasti bisa mendengar setiap ucapannya.
Aku masih menahan tangisku, aku merasa bersalah sekali pada Anita. Aku juga merasa sangat malu dan ingin sekali marah karena Anita mempermalukan aku di depan umum seperti ini. Aku merasa seperti gadis tak punya harga diri disini.