Kekasihku Ayah Sahabatku

Kekasihku Ayah Sahabatku
BAB 18: Bingung


__ADS_3

Rendy langsung roboh di atas tubuhku dengan nafas kami masih tersengal-sengal. Aku memejamkan mata, masih merasakan sensasi nikmat setelah bercinta. Tiba-tiba aku teringat ibu, aku cemas ibu segera pulang dan melihat apa yang aku lakukan dengan Rendy.


"Ren bangun. Cepetan bangun terus bersihin diri kamu. Aku takut ibu pulang sebentar lagi." Ucapku seraya mendorong tubuhnya untuk bangun.


"Aduh, aku baru aja nge-fly, ngantuk nih. Sebentar yaa, 5 menit." Ucapnya dengan mata terpejam dan masih rebahan di kasur. Dapat kulihat dengan jelas tubuhnya tergeletak di ranjangku tanpa sehelai benang pun.


Ya Tuhan! Apa yang sudah aku lakukan?! Kenapa aku melakukan hal ini dengannya?! Apa aku sudah kecanduan s*x?! Aku benar-benar sudah gila!


"Rendy!! Kamu mau ibu lihat kita begini? Cepetan bangun! Bersihin diri kamu terus ambil pakaian kamu di luar, cepet!" Perintahku padanya yang membuat ia segera sadar dan melakukan perintahku.


Aku pun langsung membersihkan diri dan segera merapihkan kamar serta ranjangku. Ku lihat Rendy sedang duduk sambil merokok di halaman belakang, dia benar-benar bisa sesantai itu.


"Eh, kamu bisa ya asik ngerokok disini, kamu ngga takut ibu tahu ya?" Aku kesal sekali padanya.


"Tahu apa? Emang kita habis ngapain?" Ucapnya dengan nada bercanda dan tingkah sok cool nya itu.


"Eh Rendy, denger ya kalau sampai ibu tahu, habislah kita. Ngerti?! Dan satu hal lagi, jangan ceritakan hal ini sama siapapun, jaga rahasia kita terutama jangan sampai pacarku si Beby tahu." Aku sungguh-sungguh kasih peringatan padanya.


Ia langsung bangun dari kursinya lalu mendekatkan wajahnya padaku. "Oke, akan aku jaga rahasia kita dengan satu syarat."


Sial! Syarat apa lagi sih?! Yang kemarin saja belum selesai. Gumamku dalam hati.


"Syarat apa lagi? Jangan yang aneh-aneh, aku ngga mau."

__ADS_1


"Syaratnya, aku mau kita pacaran. Ngga apa-apa kalau kamu ngga mau ketahuan pacarmu si om-om itu, dia juga ngga perlu tahu soal hubungan kita. Yang terpenting, aku mau kita lebih dari sekedar teman." Ucapnya penuh penekanan.


"Pacar? Apa-apaan sih? Kamu kan tahu kalau aku sudah punya pacar. Kalau aku pacaran sama kamu juga, itu artinya aku selingkuh. Aku ngga mau selingkuh." Ucapku dengan nada sedikit tinggi.


"Kenapa? Bukankah yang kita lakukan tadi itu sudah mengartikan kalau kita ini lebih dari sekedar teman?"


Aku sungguh-sungguh menyesali perbuatanku barusan. Aku benar-benar bodoh dan tidak memikirkan resiko besar yang akan aku terima. Aku mudah sekali terbuai oleh sentuhan dan ciuman maut laki-laki.


"Kamu bilang Beby pacarku cuma manfaatin aku, terus apa bedanya sama kamu?!" Teriakku padanya.


Seketika ia terdiam, ia seperti memikirkan sesuatu. Aku tahu, pasti saat ini wajahku sudah terlihat akan menangis. Aku benar-benar menahan tangisku.


"Bukan begitu maksudku Lia. Aku minta maaf, tapi sungguh aku akui kalau aku ini memang egois. Aku sangat berharap kamu mau jadi milikku dan meninggalkan laki-laki itu. Karena hubunganmu dengannya tidak akan berjalan baik, kalian pasti akan berpisah."


"Tuh kan, kamu ngomong macem-macem lagi soal aku dan pacarku. Aku sedang berusaha memperbaiki hubungan kita. Dan Beby sudah janji sama aku kalau dia pasti akan bilang ke semuanya kalau kita pacaran." Aku mulai menitikkan air mataku.


"Lalu setelah kalian umumkan, apa yang akan terjadi? Apa kalian yakin masih bisa berhubungan baik? Apa kalian yakin kalau kalian akan terus bersama? Sampai kapan pun Anita dan ibu pasti tidak akan setuju." Rendy memang benar, tapi apa salahnya mencoba berpikir positif dan menjalani dengan sungguh-sungguh? Aku yakin suatu hari nanti Anita dan ibu bisa menerima kami.


"Terserah kamu mau bilang apa." Ucapku singkat.


"Lia, kalau kamu ngga mau jadi pacarku ngga apa-apa, asal izinkan aku tetap sedekat ini denganmu. Izinkan aku tetap jadi pendengar curhatmu, izinkan aku tetap berpura-pura jadi pacarmu di depan ibu." Ia lalu memelukku.


Entah mengapa aku malah menangis tersedu-sedu. Aku merasa kasihan padanya karena aku menolaknya, aku kasihan pada ibu karena aku selalu membohonginya, dan aku juga kasihan pada diriku sendiri karena sudah berharap pada sesuatu yang nampak jelas akhirnya.

__ADS_1


Beberapa minggu setelahnya aku bertemu Beby di mall, ada festival musik disana dan sangat ramai, jadi kalau aku berduaan dengan Beby dan sangat dekat, tak banyak orang yang akan memperhatikan keberadaan kami.


Sepanjang malam kami bergandengan tangan, mencicipi aneka jenis kuliner, dan ikut bernyanyi bersama pengunjung lain. Aku benar-benar bahagia dan menikmati waktu bersamanya.


Dalam satu kesempatan aku bertanya padanya mengapa ia tak bahas soal Rendy. Tapi katanya dia yakin kalau aku dan Rendy hanya pura-pura. Dan ia merasa posisinya diuntungkan oleh keberadaan Rendy, sehingga Anita kini tak begitu mencurigainya lagi.


"Beb, boleh tahu ngga kenapa Anita tiba-tiba jadi curiga?" Tanyaku pada Beby sambil makan es krim cokelat kesukaanku.


"Entah, mungkin karena dia lihat history perjalanan taxi online mu waktu itu. Tapi sekarang ia terlihat tenang." Beby menjelaskan padaku.


Saat sedang asik makan es krim, tiba-tiba saja aku merasa mual dan pusing. Aku segera berlari mencari toilet dan memuntahkan isi perutku. Aku lemas sekali, rasanya tidak bisa melanjutkan acara malam ini sampai habis.


"Aku mau pulang, Beb. Ngga apa-apa kan kalau pulang sekarang?" Tanyaku dengan tubuh lemas.


"Oke ngga apa-apa. Kamu kenapa? Sakit ya? Kenapa tiba-tiba?" Tanyanya terlihat cemas.


"Entahlah mungkin karena terlalu banyak makan atau terlau banyak orang disini."


"Yasudah aku antar pulang." Ia pun mengantarku pulang dan sepanjang jalan kami mendengarkan radio dari dalam mobilnya.


Tiba-tiba aku teringat kalau sudah satu minggu aku belum juga mens. Aku sudah telat dan sekarang aku mual-mual. Aku jadi panik dan cemas, jangan-jangan aku...


*****

__ADS_1


Hai semua, terima kasih sudah baca karyaku. Apa kalian suka? Beri aku saran serta kritik membangun ya, supaya aku bisa terus nulis dan belajar bikin cerita yang lebih menarik lagi.


__ADS_2