Kekasihku Ayah Sahabatku

Kekasihku Ayah Sahabatku
BAB 51: Kehadiran Rendy dan Kolega


__ADS_3

Jam sudah menunjukkan pukul 05.00 sore, sudah waktunya ibu untuk mandi kemudian siap menerima tamu yang hendak menjenguknya, sebab sekarang adalah jam besuk.


Satu-satunya orang yang paling dinanti Ibu adalah Rendy, sudah pasti sebab sedari tadi siang hanya Rendy lah yang Ibu bahas terus-menerus. Ibu sangat menantikan kehadiran Rendy sehingga sedikit-sedikit menanyakan kenapa Rendy belum juga datang.


Akhirnya, yang ditunggu-tunggu datang juga. Ya, akhirnya Rendy datang membawa banyak sekali buah-buahan serta cemilan kesukaanku.


"Ibu, bagaimana keadaannya apakah sudah sehat?" Rendy lalu mencium kening ibu.


Ibu nampak sangat menantikan kehadiran Rendy, sehingga dapat kulihat dengan jelas ia menitikkan air matanya saat Rendy tiba.


"Kondisi Ibu sudah stabil tapi belum bisa dikatakan sehat dan masih belum boleh pulang." Aku menjelaskan pada Rendy.


"Semoga Ibu bisa segera pulang ya, oh iya Bu teman-teman dari resto sore ini mau datang juga. Rendy sengaja bikin shift hari ini supaya ada yang bergantian jaga di resto dan sebagian bisa datang jenguk ibu." Ibu nampak terharu mendengarnya sehingga ia hanya dapat menganggukkan kepalanya.


"Terima kasih ya Ren, sudah perhatian sekali sama Ibu." Aku mewakili Ibu mengucapkan terima kasih padanya.


"Ah bukan apa-apa kok Lia, aku justru nggak enak karena kemarin nggak bisa nolong ibu. Maaf ya Bu karena waktu ibu sakit Rendy sedang di luar kota." Aku dapat menyaksikan hangatnya pertemuan antara ibu dengan Rendy, betul yang Ibu katakan bahwa Rendy menganggapnya seperti ibu kandungnya sendiri.


"Ren, kamu mau aku kupaskan apel?" Aku menawarkan pada Rendy.


"Boleh, kalau begitu kita duduk yaa." Ia pun duduk di sofa yang memang sudah disediakan oleh pihak rumah sakit.


Aku membuat kasur Ibu agar dapat terduduk meski ibu sedang terbaring agar ibu dapat ikut mengobrol bersama aku dan Rendy.


"Ren, maaf ya baru kerja aku sudah izin-izin nih." Ucapku pada Rendy.


"Ngga apa-apa Lia karena aku paham kondisinya kecuali kamu bolos tanpa kabar." Rendy kemudian memakan apel yang sudah ku kupas dan ku potong-potong menjadi bagian kecil.


"Ibu mau?" Aku menawarkan pada ibu.


"Ngga Kia, ibu kan sudah makan tadi." Kulihat ibu nampak tersenyum.


"Ibu, dari tadi Rendy lihat senyum-senyum terus kenapa sih ibu senang ya lihat Rendy?" Rendy mencoba menghibur ibu.

__ADS_1


"Ibu senang lihat kalian berdua, cocok." Ibu lagi-lagi ingin membahas soal lamaran itu pastinya.


"Ah masa sih bu?" Rendy bercanda pada ibu.


"Ibu ngga sabar lihat kalian menikah."


"Uhuk... Uhuk..." Tiba-tiba Rendy tersedak dan batuk, sontak aku pun terkejut. Selain karena perkataan Ibu, juga karena Rendy tiba-tiba terbatuk.


"Kamu ngga apa-apa Ren?" Aku lalu mengambilkan Rendy minum.


"Ngga apa-apa, aku cuma tersedak aja." Aku lalu mengusap-usap punggung Rendy untuk meredakan batuknya.


"Tuh kan... Kalau mesra begitu tambah cocok jadi suami istri." Ibu kembali membahas soal itu.


"Astaga, ibu tolong jangan bahas itu terus dong Bu kasihan nih Rendy sampai kaget." Ucapku dengan nada sedikit tinggi pada ibu.


"Maaf ya nak Rendy, jadi kesedak gara-gara ibu." Ibu tersenyum pada Rendy, yang dibalas dengan senyuman canggung oleh Rendy.


"Ren, Rendy! Tunggu aku ikut." Aku berlari kecil mengejar Rendy.


"Loh, kenapa ikut emang nggak apa-apa Ibu sendirian di kamar?" Tanyanya.


"Ngga apa-apa kok, aku udah kasih tahu ibu untuk pencet tombol emergency kalau dibutuhkan. Lagian kalau sore begini biasanya banyak suster yang berkunjung." Jelasku pada Rendy agar dia tidak cemas.


"Oke baiklah."


"Ren, maaf ya ibu singgung soal tadi." Ucapku padanya canggung.


"Soal apa sih? Soal kita cocok jadi suami istri? Ya kan emang itu fakta. Hehe..." Rendy seperti biasa masih terus bercanda dengan gaya santainya.


"Iya, tapi kan..."


"Udah lah Lia, biar aja ibu seneng. Lagian kan ucapan baik itu doa, apalagi yang bilang ibu kamu." Rendy mengucapkannya sambil terus berjalan dan kini ia menggandeng tanganku.

__ADS_1


"Eh itu mereka!" Dari kejauhan aku melihat para pegawai resto berjalan ke arah kami. Rendy melambaikan tangan kiri nya pada mereka sementara tangan kanannya masih terus menggandeng tangan kiriku.


"Eh , Ren, lepas dulu. Ngga enak mereka lihat." Ucapku pada Rendy seraya berusaha melepas gandengan tangannya.


"Ngga apa-apa, mereka juga tahunya kamu sama aku tuh pacaran." Bisik Rendy padaku.


"Hah? Masa sih? Emang boleh?" Aku terkejut kalau di tempatnya bekerja boleh berpacaran.


"Memang siapa yang larang? Asalkan, jangan bawa emosi kalau lagi bertengkar ke pekerjaan, aku paling marah soal itu." Terang Rendy padaku.


Tak butuh waktu lama untuk para pegawai itu menghampiri kami, kami semua lalu naik ke lantai atas menuju kamar Ibu dirawat.


Ibu nampak senang sekali melihat mantan koleganya menjenguknya, banyak sekali hal yang mereka bicarakan dan mereka tertawakan bersama. Para pegawai itu bilang kalau Ibu adalah orang yang paling bijaksana dan yang membuat mereka terus solid sampai dengan hari ini.


Tanpa terasa waktu sudah menunjukkan pukul 07.00 malam itu artinya jam besuk akan segera ditutup, satu persatu dari mereka semua berpamitan untuk pulang. Ibu juga nampak kelelahan karena terus berbicara dan tertawa bersama mereka semua.


"Terima kasih sudah datang ya semua." Ucapku kepada mereka semua sambil mengantar mereka keluar kamar rawat ibu.


"Haaahh... Senangnya ibu bertemu mereka semua. Rasanya Ibu jadi lebih sehat sekarang tapi Ibu jadi lebih capek." Aku dapat melihat dengan jelas bahwa ibu senang sekali sekarang.


Aku lalu merapikan kasur Ibu kembali agar ibu dapat berbaring kembali dan tidur untuk beristirahat.


"Sebentar lagi jadwal ibu minum obat, setelah itu ibu harus tidur ya. Nanti bu Emi datang untuk temenin ibu malam ini." Jelasku pada ibu.


"Beres." Jawab Ibu.


"Bu, Rendy pamit sebentar yaa mau cari udara segar. Ibu biar istirahat dulu ya." Rendy berpamitan untuk keluar kamar rawat Ibu sejenak.


Ibu menjawab dengan anggukan kepala kemudian meliriku sesaat.


"Lia nemenin ibu aja di sini lagian kan sebentar lagi jadwal Ibu minum obat." Aku paham maksud ibu melirikku adalah agar aku ikut Rendy keluar kamar rawat ibu.


Setelah minum obat Ibu lalu tertidur, tak lama kemudian Bu Emi datang untuk menggantikan aku menjaga Ibu di rumah sakit. Sementara aku kemudian mencari Rendy untuk minta tolong diantarkan pulang.

__ADS_1


__ADS_2