
Aku berjalan cepat hingga setengah berlari menyusuri lorong rumah sakit yang terasa sangat panjang. Lagi-lagi aku menyesali perbuatan kotorku, perbuatan yang seharusnya tak aku lakukan karena aku dan Beby belum menikah. Aku menahan tangisku, dengan hati hancur dan penuh penyesalan aku mencari kamar dimana ibu di rawat.
"Lia!! Lia!! Kesini!" Rendy memanggilku dari kejauhan karena aku bingung sekali mencari dimana ibu.
"Ren, ibu dimana? Ibu gimana keadaannya?" Aku menghampiri Rendy dan sangat cemas ingin mengetahui keadaan ibu.
"Kamu duduk dulu, jangan panik ya. Ibu sekarang udah dalam pengawasan dokter. Sekarang ibu masih di IGD dan kita harus menunggu disini sampai ada kabar terbaru soal keadaan ibu." Rendy pelan-pelan menjelaskan padaku yang sedang sangat panik sampai rasanya jantungku lemas sekali.
"Aku nyesel Ren, aku nyesel ninggalin ibu sendiri." Tangisku pun pecah tak terbendung lagi
Rendy duduk di sampingku, ia genggam jemari tanganku yang dingin dan pucat, aku benamkan wajahku di lengan kirinya.
"Kalau ibu kenapa-kenapa aku gimana Ren? Aku mau ibu sehat lagi." Lanjutku seraya menitikkan air mata.
"Makanya jangan suka ninggalin ibu, apalagi sampai bohongin ibu." Timpalnya.
"Maksudnya?" Aku belum paham maksud perkataan Rendy.
"Sebenernya aku tahu kamu bohongin ibu. Kamu ngga pergi sama temen-temen kamu kan?!." Ucap Rendy yang sontak membuat tangisku terhenti.
"Maksud... Kamu.." Aku menegakkan kepalaku lalu melihat wajahnya yang sekarang sangat serius.
"Seminggu yang lalu ibu bilang kamu mau pergi outing sama teman-teman kampusmu. Rencananya aku mau ikut datang ke tempat kamu berlibur sama teman-teman kamu. Terus aku datangi kampusmu, aku gali informasi outing dari hampir semua teman kampusmu tapi tak ada satu pun yang tahu soal itu." Nada bicaranya seolah mengintimidasiku.
"Aku nyesel Ren, iya aku salah." Jawabku tertunduk lemas.
"Kamu pasti pergi sama om-om itu kan?!" Tanyanya tiba-tiba.
__ADS_1
"Dia bukan om-om, dia pacarku." Jawabku pelan.
"Terserah deh, yang jelas kamu pergi sama dia sampai kulit kamu gosong gini. Kamu ke pantai?" Jawabnya acuh seraya berdiri merapikan kemejanya.
"Hmm..." Aku mengangguk.
"Aku ngga tahu apa yang akan buat kamu berhenti bohongin ibu kamu. Saranku lebih baik kamu jujur sama ibu soal hubungan kamu sama dia. Tapi, nanti kalau ibu sudah sembuh." Ia menasehatiku.
"Maafin aku Ren." Ucapku sedih.
"Minta maafnya sama ibu kamu, bukan sama aku. Kalau aku sih terus terang udah kecewa sama kamu." Ia lalu memberikanku sebotol air mineral, yang langsung kusambut lalu ku minum.
"Kalau kamu mau enak-enakan sama si om, paling ngga kamu hubungin ibu kamu lah, tanya gimana kabarnya, udah makan belum, lagi apa. Segitu enaknya ya liburan berdua sama si om sampe lupa sama ibu." Lanjut Rendy menumpahkan kekesalannya padaku.
Aku tidak membantahnya, karena aku mengakui kalau aku salah. Aku memang pergi bersama Beby dan enak-enakan berlibur sementara ibu sedang sakit.
"Kamu udah hubungin keluarga kamu?" Tanya Rendy.
"Buat apa hubungi ayahnya Anita? Memang dia peduli sama kamu? Dia itu..."
"Stop Rendy! Aku lagi cemas sama keadaan ibu, kamu ngga usah nambahin perasaan ngga nyaman aku dengan jelek-jelekin pacarku." Suaraku jadi meninggi.
Tiba-tiba suara seseorang yang sangat aku kenal memanggil namaku.
"Lia... " Ternyata Beby datang.
"Beby! Beb, aku masih belum tahu keadaan ibu gimana, aku khawatir banget." Aku langsung memeluk Beby.
__ADS_1
"Lia, kamu baik-baik aja?" Astaga! Itu suara Anita.
"Anita... Kamu... Dari kapan disitu?" Aku menoleh ke belakangku dan sangat terkejut dengan kehadiran Anita. Aku langsung melepaskan pelukanku dari Beby. Aku khawatir sekali apakah ia mendengar aku memanggil ayahnya 'Beby'. Pantas saja Beby tidak menyambut pelukanku dengan hangat dan terlihat gugup.
"Baru aja aku sampai. Kata ayah ibu kamu sakit, jadi aku kesini." Ucapnya dengan suara lemah.
"Anita, maaf aku dan ayah barusan..." Entah mengapa aku malah ingin menjelaskan mengapa aku memeluk ayahnya
"Ngga apa-apa Lia, ayahku ayah kamu juga. Aku paham kamu butuh sosok ayah untuk nguatin kamu." Anita tersenyum padaku, sementara Rendy nampak menahan tawanya. Bisa-bisanya dia tertawa di saat seperti ini.
"Terima kasih Anita. Kamu bukannya lagi sakit juga?" Tanyaku padanya gugup.
"Iya, makanya aku sekalian ketemu dokter tadi. Ibu dari kapan masuk rumah sakit?" Pertanyaan Anita sungguh membuatku bingung, aku melirik ke arah Rendy dan wajah tengilnya itu menunjukkan seolah-olah ia sedang menikmati rasa bersalahku.
"Kemarin malam, Anita. Rendy yang bantu bawa ibu ke sini." Ucapku pelan-pelan.
"Rendy pacar yang siaga ya. Mudah-mudahan kalian jodoh ya
"Aamiin... Rencananya kalau ibu sembuh kita mau nikah." Rendy mengatakannya sambil bercanda. Aku hanya melirik tajam ke arah Rendy sementara dia sedang senyum-senyum mengejekku.
Tak lama kemudian seorang suster menemui kami dan bilang kalau ibu sudah boleh di jenguk oleh satu orang saja dan sebentar lagi dokter juga ingin bertemu denganku sebagai anak pasien.
Aku pun masuk ke ruangan dimana ibu di rawat, aku lihat ibu menggunakan alat bantu pernapasan. Hatiku hancur sekali melihat ibu lemah tak berdaya, tanpa sadar aku pun meneteskan air mataku.
"Ibu gimana keadaan ibu? Lia sedih lihat ibu sakit, ibu cepet sembuh ya." Ucapku seraya menggenggam tangan ibu erat.
Ibu hanya melihatku dan menitikkan air matanya tanpa berucap satu kata pun. Tak lama seorang dokter menemuiku dan bilang kalau ibu terkena stroke ringan, ibu harus banyak istirahat dan rutin minum obat yang diberikan. Ibu juga harus banyak dibantu untuk melakukan aktifitas sehari-hari nya.
__ADS_1
Aku semakin menangis sejadi-jadinya, aku sedih dan merasa sangat menyesal sudah berbohong oada ibu dan meninggalkannya sendirian. Terlintas sejenak di pikiranku tentang bagaimana aku akan melanjutkan hidupku dengan kondisi fisik ibu yang lemah seperti sekarang.
Aku menelepon Rendy dan menyampaikan semua yang dikatakan dokter. Rendy berusaha menenangkanku, tapi hatiku kalut sekali, seakan duniaku berhenti berputar.