
Dua minggu sudah aku bekerja di restauran milik Rendy. Aku banyak sekali mempelajari hal baru dan ternyata pegawai disini memang baik-baik sekali padaku. Ada beberapa perselisihan kecil antar pegawai, namun hal itu dengan cepat dapat diselesaikan dengan baik.
Hari ini saatnya pembagian gaji, meski aku baru bekerja selama dua minggu, namun gajiku memang sudah saatnya dibayarkan bersamaan dengan pegawai yang lain. Senang sekali rasanya menerima hasil jerih payahku yang memang belum utuh, gaji pertamaku ini hendak aku gunakan untuk membelikan segala kebutuhan ibu.
Aku membeli buah-buahan, sayuran, cemilan sehat untuk ibu, serta obat-obatan yang ibu perlukan. Ibu menolak kuajak pergi makan diluar sebab menurutnya sebaiknya uangnya ditabung saja dan digunakan untuk membeli sesuai kebutuhan.
"Ibu, beneran ngga mau makan enak diluar rumah? Uangku masih cukup kok." Aku membujuk ibu lagi.
"Ngga perlu lah makan diluar, di rumah juga sama saja. Yang penting kan makan sama siapa, bukan makan dimana. Makan sama kamu saja ibu sudah seneng kok." Aku lantas memeluk ibu, aku tahu ibu hanya menahanku untuk tidak mengeluarkan uang berlebihan.
"Bu, aku baru tahu ternyata pekerjaan ibu ngga semudah yang ibu jelaskan. Aku nemu banyak sekali rintangannya, terutama dari customer yang komplain. Aku hampir nangis kewalahan menghadapi customer yang rese bu." Aku bercerita sedikit pada ibu, merasakan beratnya perjuangan ibu selama ini.
"Yah begitulah kerja. Disetiap aspek kehidupan kita ini pasti ada yang namanya rintangan dan cobaan. Kita harus kuat menghadapinya dan yakin pasti ada jalan keluarnya." Nasehat ibu selalu buat hatiku adem, serasa duduk dibawah pohon rindang dengan semilir angin.
"Bu, nanti kalau Lia gajian lagi, ibu mau ya Lia ajak jalan-jalan, kan bosen bu dirumah terus." Aku berusaha mengajak ibu jalan-jalan agar ibu tidak bosan terus menerus di dalam rumah. Selama ini ibu hanya keluar jika harus pergi ke rumah sakit untuk terapi.
"Ngga usah, ibu udah seneng kok disini. Kamu tahu ngga kenapa ibu buat taman bunga dibelakang rumah? Ya itu memang cita-cita ibu, seandainya sudah tua dan ngga bisa kemana-mana lagi, ibu jadi bisa healing dengan melihat bunga-bunga ditaman itu." Benar memang, selama ini aku sering melihat ibu nampak sedikit segar dan senang berada di taman bunga itu setiap pagi dan sore hari.
"Yaudah kalau ngga mau jalan-jalan, terus ibu maunya apa?" Aku betul-betul ingin ibu bahagia dengan memenuhi segala keperluannya.
__ADS_1
"Ngga ada sih selain lihat anak ibu bahagia."
"Ah ibu... Selalu begitu..." Kami pun larut dalam canda dan tawa. Rasanya kesempatan dan momen ini harus sering terulang agar aku dan ibu memiliki kenangan manis dan terus dapat kami kenang seumur hidup.
Namun rasanya ketenangan itu tak bertahan lama kudapatkan, sebab dua bulan setelahnya ibu kembali sakit. Tubuhnya demam tinggi, ia hampir tak sadarkan diri. Beberapa kali aku mencoba menghubungi Rendy yang sedang berada di luar kota untuk workshop, namun sia-sia dan tak ada jawaban.
"Mba, apa ngga sebaiknya panggil ambulans saja? Saya akan minta tolong tetangga sebelah untuk bantu angkat ibu nanti." Bu Emi membantuku memberikan pertolongan pada ibu.
Aku panik sekali, beberapa kali kucoba hubungi nomor ambulans namun sambungannya sibuk. Akhirnya kuputuskan menghubungi Beby untuk mendapat bantuan. Padahal selama beberapa bulan ini aku sudah sangat jarang menanggapi telepon dan pesan darinya. Tapi demi ibu, aku rela menepiskan egoku.
Tak lama Beby datang dan dibantu beberapa orang tetanggaku, ibu lalu di angkat ke dalam mobil. Aku duduk didepan disamping Beby, sementara bu Emi duduk dibelakang memangku kepala ibu.
"Apa yang terjadi? Kenapa ibu bisa begini?" Pertanyaan yang pertama kali kudengar itu membuatku bingung juga, sebab ibu tiba-tiba saja tak sadarkan diri.
"Kerja? Lia, kamu kerja?" Beby nampak terkejut.
"Iya aku kerja di resto nya Rendy. Begitu pulang ibu sudah pingsan." Tiba-tiba tangisku pecah, air mataku menetes begitu saja.
"Yasudah tenang ya, sebentar lagi kita sampai di rumah sakit." Beby menggenggam jemariku untuk menyenangkan aku.
__ADS_1
Tak lama kemudian sampailah kami dirumah sakit, ibu langsung masuk ke ruang IGD. Sementara Beby mengurus semua urusan administrasi bersamaku. Bu Emi dengan siap siaga menjaga ibu dan selalu berada disisi ibu.
Waktu menunjukkan pukul 2 malam, dan kami masih menunggu hasil observasi dokter serta hasil laboratorium. Kulihat Beby membawakan sebungkus nasi, air mineral serta segelas kopi dari toko yang cukup terkenal.
Ia memberikannya pada bu Emi yang terlihat mengantuk dan lelah. Bu Emi nampak senang karena diperhatikan dan diperlakukan baik oleh Beby. Beby kemudian menghampiriku seraya memberikan makanan yang sama dengan bu Emi.
"Kamu harus makan, kopi ini enak bisa bantu kamu tetap terjaga." Ia kemudian duduk disampingku.
Aku memang merasa lapar dan lelah, aku kemudian langsung membuka bungkus makanan itu kemudian memakannya.
"Nasi gorengnya enak, terima kasih ya sudah nolongin aku. Lagi-lagi aku ngerepotin kamu terus." Aku memang merasa tidak enak padanya, namun jika bukan Beby siapa lagi yang bisa aku mintai pertolongan.
"Kamu tenang saja, jangan terlalu kaku, aku ini kan masih pacarmu jadi aku masih boleh dong menolong kamu dan selalu dekat dengan kamu." Beby nampak tersenyum sambil mengatakan itu.
"Iya, tapi beberapa waktu yang lalu aku kan sempat marah sama kamu, makanya aku nggak enak malam-malam ngerepotin kamu." Aku menyesal sudah bersikap kurang baik padanya waktu itu.
"It's ok. Ngomong-ngomong apa benar kamu bekerja di restoran milik Rendy? Sejak kapan? Kok aku nggak pernah tahu ya."
"Baru sekitar 2 bulan lebih sih, maaf ya aku belum sempat kasih tahu kamu karena kita kan masih bertengkar." Aku sedikit ragu-ragu mengatakannya, aku takut suasana malam ini justru jadi canggung.
__ADS_1
"Yang merasa bertengkar itu siapa, kamu aja kali yang ngerasa kita bertengkar. Aku sih ngerasanya biasa aja, aku cuma ngerasa semenjak hari itu kamu semakin menjauh. Ternyata karena kamu lagi sibuk bekerja di tempatnya Rendy." Aku terdiam sesaat mendengar ucapannya, padahal aku memang betul-betul bekerja di tempat Rendy tapi entah mengapa rasanya seperti aku sedang berselingkuh dengan Rendy.
Atau aku memang betul-betul berselingkuh dengan Rendy? Sebab di hari pertama aku bekerja dengannya kami melakukan hal yang seharusnya tidak kami lakukan.