Kekasihku Ayah Sahabatku

Kekasihku Ayah Sahabatku
BAB 20: Aku Diantara Mereka


__ADS_3

Pintu kamar inapku terbuka, aku melihat seseorang dibalik pintu, aku segera melepaskan pelukanku dengan Beby dan kami nampak gugup sekali.


"Oh, wow! Ada adegan mesra nih." Rupanya itu Rendy, ia nampak kesal dan wajahnya masam.


"Sorry, kenapa ngga ketuk pintunya dulu ya?" Ucap Beby padanya dengan nada sinis.


"Ngga sempet, soalnya pengen buru-buru ketemu pacar aku. Sayang, nih aku bawain buah-buahan dan coklat." Rendy meletakkan buah-buahan serta cokelat yang ia bawa dan sikap masa bodonya sungguh buat Beby kesal. Aku pun kesal dengannya, kenapa ia datang tiba-tiba dan bertingkah seperti itu.


"Kenapa jadi emosi sih? Tenang dong semua, lagian nih ya, kalau bukan aku yang lihat kalian lagi peluk- pelukan tapi ibu yang lihat, gimana?" Tanyanya dengan gaya tengil


"Ya bagus, jadi Beby bisa sekalian bilang sama ibu kalau kita emang pacaran dan saling cinta." Jawabku ketus pada Rendy.


"Apa iya begitu om?" Rendy semakin berulah, ucapannya bikin Bebyku naik pitam.


"Ren, aku dan Beby sama-sama sedang berjuang buat hubungan kita yang lebih serius." Teriakku pada Rendy.


"Tapi kita juga lebih dari teman, kamu lupa kejadian kemarin di rumahmu? Seharusnya hal itu juga jadi bahan pertimbangan kamu buat hubungan kita yang lebih serius." Rendy keterlaluan! Dia sudah berjanji akan merahasiakan semuanya.


"Rendy. Stop!" Aku meneriakinya sambil menatap matanya tajam.


Beby sempat bingung melihat reaksiku dan melihat wajah Rendy yang tengil ini membuatnya penasaran.


"Kejadian kemarin, kejadian apa? Apa yang terjadi?" Beby mulai bertanya -tanya.


Aku panik dan takut Rendy menjawab macam-macam, aku langsung pura-pura sakit kepala. Agar semua perselisihan ini berhenti dan Rendy menghentikan ucapannya.


"Akh! Sakit." Keluhku sambil memegang kepalaku.


"Lia, kamu kenapa?" Beby dan Rendy kompak bertanya padaku.

__ADS_1


"Kepalaku sakit." Jawabku.


Beby yang berada lebih dekat denganku langsung mengambilkan aku air putih lalu membantuku meminumnya.


"Kamu lanjutin makan ya, aku suapin. Habis itu kamu minum obat lalu tidur." Beby mengambilkan lagi bubur yang sempat tertunda ku makan, lalu menyuapi aku pelan-pelan.


Rendy diam saja tak berkata apapun lagi, kulihat dari raut wajah tampannya ia sedikit gelisah. Mungkin ia ingin melakukan hal yang sama dengan Beby tapi tidak bisa karena ada Beby disini dan ia pasti tahu kalau aku lebih memilih Beby daripadanya.


Ceklek. Pintu terbuka lagi, ternyata ibu yang masuk.


"Ibu dari mana? Anak gadisnya ngga dijagain sih, ntar di gigit anjing lho." Ucap Rendy pada ibu, sambil terus menatap aku dan Beby.


"Eh ada nak Rendy, ini ibu habis urus administrasi sebentar. Nak Rendy sudah kesini lagi, sudah istirahat belum? Mau makan ngga?" Ibu bersikap lemah lembut pada Rendy, mungkin karena ibu belum tahu kalau aku dan Rendy hanya pura-pura.


"Belum makan, mau makan tapi disuapin ibu biar bareng sama Lia." Ucap Rendy sok akrab dengan ibu, pasti untuk manas-manasin Beby aja.


"Eh ya ampun mas, maaf merepotkan. Sini biar saya suapin Lia." Beby lalu menyerahkan semangkuk bubur yang sudah tinggal setengah itu pada ibu.


"Sepertinya Lia mulai membaik, makannya sudah banyak lagi." Canda Beby pada ibu.


"Klik. Wah kalau di foto sudah seperti keluarga nih. Ibu, ayah dan anaknya. Hihihi..." Tangannya berlagak seperti sedang memfoto. Dasar Rendy! Bisa-bisanya dia bilang begitu.


"Maaf ya mas, Rendy sama saya memang sudah seperti ibu dan anak sendiri. Nak Rendy ini memang suka bercanda." Ibu nampak malu-malu dengan bercandaan Rendy barusan.


"It's ok. Saya paham bocah seumuran dia memang seperti itu." Ucap Beby pada ibu yang disambut tawa kecil ibu. Aku pun ikut tertawa mendengarnya.


"Bocah?! Emang yang dewasa gimana om?" Ucapnya sambil nyengir.


"Eh iya, ngomong-ngomong dokternya sudah kesini belum ya, Lia?" Tanya ibu yang kemudian Beby dan aku jelaskan kalau dokter sudah datang dan aku memberitahu ibu kalau aku sakit GERD.

__ADS_1


Cukup lama kami berbincang soal penyakit GERD hingga tak terasa waktu besuk habis, Rendy dan Beby harus berpamitan pulang.


"Cepat sembuh ya sayang, so kita bisa liburan bareng lagi. Aku pamit ya." Suara berat Beby mengakhiri pertemuan hari ini dan tanpa diduga ia menyium keningku lalu mengusap kepalaku.


Aku sempat terkejut, tapi kulihat wajah ibu dan dia hanya tersenyum melihat kami. Kalau Rendy sudah pasti, langsung panas dan nampak kesal.


"Aku juga pamit ya pacarku, cantikku, cintaku. Cepet sembuh Dahliaku." Rendy mencubit-cubit pipiku, tingkahnya betul-betul menyebalkan.


"Ish apa sih cubit-cubit. Sakit tahu!" Aku mengelak.


"Jaga kesehatan ya cantik, jangan sampai pingsan lagi, nih tanganku sakit gendong kamu, berat tahu." Ucap Rendy sengaja ingin memanas-manasi Beby.


Beby hanya terdiam dan melihat Rendy dengan tatapan tajam. Aku tahu ia menahan rasa kesalnya pada Rendy. Ia lalu keluar kamar dan disusul oleh Rendy.


***


POV: Rendy dan Beby di luar kamar inap Lia.


"Gimana rasanya peluk- peluk sama anak sendiri, om?" Ucap Rendy dengan nada menantang.


"Enak dan nagih." Beby menoleh lalu menyahut Rendy dengan santai. Ia kemudian berjalan lagi menuju mobilnya yang terparkir di basement. Ternyata Rendy juga memarkirkan mobilnya berdekatan dengan Beby.


"Sorry bro, mungkin anda pikir Lia akan menyerah dan mudah jatuh cinta pada anda, itu salah besar. Saya sudah kenal gadis itu lebih dari siapapun." Ucap Beby tiba-tiba pada Rendy saat akan membuka pintu mobilnya.


"Kita buktiin aja om, siapa yang bisa mendapatkan Lia sepenuhnya. Lagi pula saya sudah lebih dulu mengantongi restu ibunya, so saya sudah dapat lampu hijau." Dengan gaya sok cool nya itu Rendy menantang Beby.


"Kamu mengantongi restu ibunya, aku mengantongi hati anaknya." Sahut Beby lagi.


Mereka lalu masuk ke dalam mobil dan masih saling memberikan tatapan sinis satu sama lainnya.

__ADS_1


__ADS_2