Kekasihku Ayah Sahabatku

Kekasihku Ayah Sahabatku
BAB 36: Rahasia Anita


__ADS_3

Perlahan aku dapat melihat cahaya sinar yang begitu terang menyorot kedua mataku Beberapa kali aku coba mengedipkan mata dan membuka lebar kedua bola mataku. Hingga aku dapat melihat dua orang pria yang sedang berdiri di sisi kiri ranjangku dan Anita duduk di sisi kanan ranjangku.


"Lia, akhirnya kamu bangun." Ah, aku dapat mengenali suara itu, suara Anita terdengar begitu keras di telingaku hingga aku meringis.


Kedua pria yang sedari tadi sedang berbincang itu lalu melihat ke arahku dan ikut memanggil namaku.


"Aku... Di rumah sakit?" Aku jelas tahu kalau sekarang sedang berada di ranjang rumah sakit, sebab selang infus sedang terpasang di tanganku dan masih terngiang dalam ingatanku saat perlahan pandanganku menjadi gelap. Bau obat-obatan di ruangan ini juga begitu menyengat, aku sangat tidak suka baunya, membuat aku merasa seperti orang sakit parah saja.


"Iya Lia, kamu pingsan lalu dua malam tak sadarkan diri. Kamu tahu ngga, kata dokter kamu kena tipus dan demam berdarah." Anita bicara tanpa jeda.


"Lia, aku dan ayahnya Anita sudah urus ibu kamu di rumah, kita panggilkan ART untuk bantu ibu selama dirumah sendiri." Rendy menjelaskan padaku.


"Jadi kamu jaga kesehatan kamu aja, jangan mikirin ibu kamu. Dia ngga bisa nemenin kamu disini, jadi aku, Anita dan Rendy gantian jaga disini." Beby mengusap dahi hingga rambutku.


Aku ingin menjawab tapi bibirku kaku dan tenggorokanku kering sekali. Anita sangat peka, ia mengambilkan aku air mineral lalu membantuku minum. Disaat seperti ini rasanya aku lega memiliki sahabat seperti Anita yang perhatian padaku, ditambah lagi berkatnya aku akhirnya bertemu dengan Beby. Dan Rendy, aku juga bersyukur punya teman tapi mesra sepertinya.


"Lia, karena sekarang waktunya Anita yang berjaga jadi aku tinggal kamu ya, aku harus urus urusan sebentar di kantor nanti sore aku kembali lagi." Beby lalu mengecup keningku dan pergi meninggalkan ruangan setelah berpesan pada Anita untuk menjagaku.

__ADS_1


"Lia, aku juga harus kembali ke resto. Nanti aku mampir sebentar ke rumah kamu nengok ibu sekalian kasih kabar kalau kamu sudah sadar. Bye sayang." Rendy juga mengecup keningku dan meninggalkam ruangan setelah berpesan pada Anita juga untuk menjagaku.


"Banyak ya yang sayang sama kamu, Lia. Aku jadi iri deh, andai aku sakit apa Benjo akan seperti Rendy ya?" Anita lagi-lagi membahas Benjo si brengsek.


"Anita... Kamu beneran pacaran lagi sama Benjo?" Aku bertanya untuk memastikan kebenarannya. Rasanya masih seperti mimpi saat Anita mengaku kalau dia hamil.


"Iya Lia. Kan kemarin aku sudah cerita sama kamu, aku dan Benjo pacaran lagi sejak empat bulan lalu." Kepalaku sakit lagi mendengar cerita Anita.


"Lia, aku minta tolong supaya kamu jaga rahasia kita kemarin ya. Aku takut sekali sama ayah, aku juga ngga mau kecewain ayah." Aku mengerti perasaan Anita, karena aku juga pernah mengalaminya dulu, jadi aku jawab dengan anggukan kepala dan senyuman untuknya.


"Lia, terus kamu mau kan bantu aku supaya ayah dan mamah jadi menikah lagi. Acara kemarin gagal Lia, sebab ayah antar kamu ke rumah sakit dan meninggalkan acara." Wajah Anita nampak kecewa, tapi hatiku rasanya lega acara itu batal mengumumkan soal perjodohan tante Ira dan Beby.


"Tapi bagaimana Benjo dan ibunya nanti bisa nerima aku?" Anita lagi-lagi termakan ucapan Benjo dan ibunya.


"Aku kasih tahu ya sama kamu, aku yakin seratus persen itu cuma alasan aja dari Benjo dan ibunya supaya mereka ngga tanggung jawab sama anak yang kamu kandung itu." Wajah Anita berubah murung saat aku mengucapkan fakta itu.


"Kalau benar begitu, lalu aku harus bagaimana Lia? Setidaknya aku ingin buktikan dulu kebenarannya, jadi aku ingin ayah dan mamah menikah Lia." Anita masih bersikeras.

__ADS_1


"Kalau ayah menikah tapi ngga sama tante Ira gimana?" Aku menyeletuk asal sebab kesal mendengar Anita tetap memaksa ayahnya menikah lagi dengan mamahnya.


"Ya sama siapa? Tapi kan syarat dari Benjo..."


"Stop Anita. Benji Benjo Benji Benjoo terus, aku jadi sakit kepala dengar namanya. Biar nanti aku yang bicara dengannya." Aku memotong ucapan Anita.


"Lia, aku ngga mau kehilangan Benjo, kalau dia ninggalin aku, gimana anak dalam kandunganku ini Lia? Aku bingung..." Anita meneteskan air matanya lagi. Memang resah rasanya hidup dalam percintaan tidak jelas seperti Anita ini. Mengharapkan Benjo bertanggungjawab atas perbuatannya, seperti mengharap kambing mandi sendiri.


Sekarang aku juga yang kena batunya, belum lagi hubungan aku dan Beby juga menjadi taruahnnya. Aku juga ingin bantu Anita agar Benjo bertanggungjawab, tapi kalau sampai Beby menikah lagi dengan mantan istrinya itu jelas-jelas tak akan aku biarkan.


Ceklek. Pintu kamar terbuka, lalu munculah seorang wanita elegan dari balik pintu dengan ceria masuk.


"Hai Lia sayang, gimana, sudah sembuh?" Tante Ira menyapaku dengan riang, kemudian ia memeluk Anita, "Darling, kamu udah makan salad yang mamah kirim? Salad itu dari sayuran fresh yang bagus untuk janin kamu." Ucapnya kemudian pada Anita.


Apa?! Tante Ira bilang begitu, artinya ia tahu kalau Anita sedang hamil. Bukannya Anita bilang harus merahasiakan semuanya? Bukannya Anita bilang aku orang pertama yang tahu soal kehamilannya?


ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ

__ADS_1


Hai guys, saran dan kritik dari kalian sangat membantuku dalam menulis agar bisa menciptakan karya lebih baik lagi, kutunggu yaah ;) Jangan lupa likes nya kalau kamu suka ceritaku 🖤


__ADS_2