
Hasil observasi dari dokter sudah keluar, dan ibu dinyatakan terkena serangan stroke yang kedua. Darah tinggi ibu menunjukkan angka yang tidak normal seperti pada umumnya, itu artinya ibu harus dirawat di rumah sakit demi perawatan stroke serta darah tingginya.
Ibu terancam lumpuh sementara di bagian tubuh sebelah kanannya. Aku sedih sekali mendengar hal itu, aku merasa gagal merawat ibu padahal menurut dokter hal ini memang sering terjadi pada penderita stroke. Sampai saat ini Ibu masih belum sadarkan diri, tapi kondisinya sudah stabil.
Aku menangis terus mengingat banyak hal yang belum aku lakukan untuk ibu. Banyak hal yang belum bisa aku wujudkan untuk ibu, salah satunya mendapatkan pendamping hidup. Ibu ingin sekali melihat dan mendampingiku saat aku menikah, namun kini ibu terbaring sakit, aku jadi semakin takut umur Ibu tidak panjang sementara aku belum sempat melihatnya bahagia saat aku menikah.
"Jangan menangis terus Lia, nggak baik untuk kesehatan kamu. Kalau kamu ingin merawat ibu sampai ibu sembuh, kamu harus sehat dan lebih kuat dari ibumu." Ucapan Beby memang benar, namun hati siapa yang tidak hancur melihat ibu yang sangat disayanginya terbaring lemah tak berdaya.
"Aku sedih karena masih banyak hal yang belum bisa aku wujudkan untuk ibu." Aku menangis di dalam pelukan Beby.
"Sabar Lia, Ibu pasti sembuh. Kalau nanti Ibu sudah sembuh aku akan bantu kamu untuk mewujudkan segala hal yang Ibu inginkan." Beby berusaha menenangkan aku.
"Ngga mungkin, karena salah satu hal yang Ibu sangat inginkan adalah melihat aku menikah, sementara sampai dengan saat ini aku masih belum menemukan pendamping hidupku." Tanpa kusadari aku mengatakannya di depan Beby, padahal aku tahu betul akan seperti apa jawabannya dan selama ini aku meyakini bahwa hubunganku dengannya tak akan berhasil.
"Maaf Lia, aku belum memberikan kamu kepastian, aku sedang berusaha membujuk Anita agar dapat menerima hubungan kita. Agak sulit sebab Anita masih terus di bawah pengaruh mamahnya. Hanya sampai calon cucuku lahir, aku akan ambil tindakan, aku akan menikahi kamu segera." Aku sontak terkejut mendengarnya, entah reaksi apa yang harus aku berikan padanya, sebab aku sendiri masih dalam kondisi bingung, apakah yang dikatakannya benar? Apakah aku dapat mempercayai setiap ucapannya?
"Jangan kasih aku harapan kosong, aku nggak mau berharap apa-apa dari kamu karena aku tahu hubungan kita akan sangat sulit diterima oleh Anita." Aku mencoba untuk tegar dan mengucapkannya dengan tegas agar ia tahu bahwa aku tidak main-main dengan ucapanku.
__ADS_1
"Maafkan aku Lia. Aku memang salah dan terlalu lemah dalam menghadapi Anita. Tapi sekali lagi aku yakinkan padamu bahwa aku memiliki niat untuk menikahimu dan aku tulus mencintaimu, aku akan berusaha agar kita dapat mewujudkan keinginan ibumu dan juga keinginanmu untuk menikah." Beby nampak serius mengucapkannya, hatiku sempat goyah untuk mempercayai setiap perkataannya, tapi lagi-lagi aku harus dihadapkan pada kenyataan bahwa sahabatku Anita akan sulit menerima hubungan kami.
"Yasudah, kita nggak perlu bahas soal itu lagi. Ngga akan ada habisnya dan hanya berputar-putar di situ saja tidak pernah ada solusi. Intinya aku hanya harus menunggu jawaban darimu dan persetujuan dari anakmu." Aku kemudian duduk di depan ruangan di mana Ibu dirawat.
Tak lama kemudian teleponku berdering, ternyata itu telepon dari Rendy, aku pun mengangkat telepon itu.
"Halo Rendy, maaf kemarin aku mengganggumu."
"Ada apa Lia, sepertinya penting. Tapi maaf banget, aku sedang mencas handphoneku lalu ku tinggal tidur jadi aku nggak dengar suara handphoneku berdering." Terdengar suara Rendy menyahut dari balik telepon.
"Ibu masuk rumah sakit semalam, tapi sekarang sudah masuk ke dalam ruang rawat inap dan kondisinya sudah stabil." Aku menjelaskan pada Rendy, sesekali ku lirik ke arah Beby dan kulihat ia sedang berdiri sambil memperhatikan aku bertelepon dengan Rendy.
"Iya, nggak apa-apa kok akhirnya semalam aku telepon Beby dan dia sudah bantu aku bawa ibu ke rumah sakit." Aku masih menjelaskan pada Rendy sembari sesekali melihat ke arah Beby.
"Syukurlah kalau begitu, sekali lagi aku minta maaf karena aku tidak bisa bantu kamu kali ini. Lalu kondisimu bagaimana? Kamu sudah makan? Kalau sampai besok atau lusa Ibu masih sakit kamu nggak usah berangkat kerja dulu biar aku yang handle semua." Ucap Rendi padaku.
"Ngga apa-apa aku akan tetap masuk kerja karena ada Bu Emi yang bersedia bantu aku, tapi kalau tiga hari ke depan Ibu masih dirawat aku akan gantian jaga dengan Bu Emi jadi aku izin nggak bekerja ya." Sejujurnya aku merasa tidak enak pada Rendy sebab ia sudah sangat baik padaku dan ibu.
__ADS_1
"Iya santai aja Lia kamu kayak sama siapa aja." Rendy terdengar sedikit terkekeh.
"Oke, kalau begitu aku tutup teleponnya ya, terima kasih atas pengertiannya ya Ren." Aku lalu mengakhiri teleponku dengan Rendy.
Beby kemudian langsung duduk di sampingku dan ia nampak besar seperti ingin menyampaikan sesuatu namun tidak jadi ia sampaikan.
"Kenapa?" Tanyaku padanya.
"Apa sebaiknya kamu rawat Ibu dulu jadi kamu berhenti kerja saja dari sana." Ucap Beby padaku.
"Mana bisa begitu, aku baru bekerja dua bulan di tempat itu, aku nggak enak sama Rendy." Kalau sampai aku mengundurkan diri dan tidak bekerja lagi pasti Rendy akan kesusahan untuk mencari penggantiku.
"Aku bisa kasih kamu uang untuk memenuhi keperluan kamu jadi kamu tidak perlu bekerja, lagian kenapa sih kamu harus bekerja? Kan masih ada aku yang siap bantu kamu." Beby selalu begitu, dengan mudahnya mengatakan soal uang padaku.
"Ibu nggak mau terima uang dari kamu lagi. Kamu tahu nggak kenapa? Karena kamu bukan siapa-siapa aku, maksudnya kita bukan suami istri dan kamu bukan menantu Ibu, jadi ibu merasa nggak enak terima uang terus-menerus dari kamu, itu sebabnya aku kerja." Aku menjelaskan pada Beby.
"Tapi kenapa kamu nggak bilang sama aku, biar kamu bekerja di perusahaan aku. Aku bisa gaji kamu lebih tinggi dari Rendy." Sempat terpikirkan sejenak olehku, entah mengapa aku tidak mengatakan itu padanya dahulu.
__ADS_1
"Mungkin karena waktu itu hubungan kita sedang tidak baik-baik saja, lagi pula kamu punya masalah lain dengan anakmu yang masih belum selesai kan sampai sekarang?!" Aku ingin sekali menghindar dari Beby saat ini, entah mengapa banyak sekali hal yang harus diperdebatkan akhir-akhir ini.