Kekasihku Ayah Sahabatku

Kekasihku Ayah Sahabatku
BAB 27: Mimpi Buruk


__ADS_3

"Beb, kamu kenapa? Aku jadi takut." Hatiku lemas sekali mendengar teriakannya. Hal yang tidak pernah aku lihat darinya sama sekali.


"Maaf aku emosi, sepertinya aku terlalu lelah. Aku mungkin sedang banyak pikiran." Ia mengjela nafas panjang dan mengusap wajahnya dengan kedua tangannya.


"Oke, tapi kamu banyak pikiran kenapa?" Tanyaku takut dia marah lagi.


"Anita, semenjak dia sakit dia terus minta yang aneh-aneh." Wajah Beby tiba-tiba berubah seperti orang kebingungan.


"Contohnya?" Aku penasaran hal aneh apa yang Anita minta darinya, bukankah segala hal pasti akan dia berikan ke anak semata wayangnya itu.


"Dia minta aku kembali dengan mantan istriku." Beby menundukkan wajahnya.


Apa?! Apa maksudnya semua ini? Apa benar begitu? Kalau Anita minta ia kembali pada mantan istrinya, apa itu artinya Anita sudah tahu sebenarnya aku dan ayahnya memiliki hubungan?


"Mantan istriku sudah bercerai dengan suaminya beberapa bulan lalu, dan akhir-akhir ini Anita jadi sering minta aku melakukan hal-hal tidak biasa untuk mamahnya itu." Nada bicaranya mulai merendah dan terdengar putus asa.


"Ya tolak saja permintaannya itu. Kenapa jadi beban pikiran kamu?" Aku agak kesal mendengarnya, kenapa ia tidak menolak saja permintaan anaknya itu.


"Aku ngga bisa, kalau Anita yang minta aku selalu berusaha untuk mengabulkannya, itu janjiku pada diriku sendiri. Anita kurang kasih sayang, Lia. Anita anakku satu-satunya." Penjelasannya seolah memintaku untuk lebih mengerti dan mengalah.


"Ya sudah kalau begitu punya anak lagi saja, jadi Anita bukan lagi anak kamu satu-satunya." Aku menyilangkan kedua tanganku di depan dadaku.


"Iya, tapi punya anak itu ngga mudah Lia. Membesarkan Anita saja aku sudah kewalahan."

__ADS_1


Aku jadi memikirkan nasibku jika aku benar-benar mengandung anaknya. Apakah ia akan menerimanya?


"Lalu bagaimana kalau ternyata aku benar-benar mengandung anakmu?" Aku penasaran sekali dengan jawabannya.


"Kamu jangan bicara sembarangan Lia. Kalau kamu hamil bagaimana dengan kuliahmu? Bagaimana dengan ibumu, lalu Anita?" Ia menatapku dan tatapannya penuh arti mendalam.


Aku paham situasiku saat ini tidaklah menguntungkanku jika benar aku hamil, aku masih harus meneruskan kuliahku, karena itu adalah harapan ibu dan kewajibanku untuk menunjukkan baktiku padanya. Dan kalau benar aku hamil, bagaimana kami akan mengatakannya pada ibu dan Anita?


Kami melanjutkan perjalanan menuju kampusku, sepanjang jalan aku hanya terdiam memandangi pepohonan dan trotoar jalanan yang kami lewati. Pikiranku terus berkecamuk, hatiku terus mendorongku untuk menjelaskan hubungan kami pada ibu dan Anita.


"Beb, kira-kira kapan kita akan menjelaskan hubungan kita pada ibu dan Anita? Aku lelah harus kucing-kucingan dengan mereka terus." Pertanyaanku memecah keheningan antara kami.


"Sabar cantik, aku sedang berusaha mencari waktu yang tepat. Aku pikir bagaimana kalau kita menceritakannya pada mantan istriku lebih dulu baru Anita, setelah itu ibumu." Ia bertanya padaku, jujur aku sendiri tidak tahu siapa yang harus kami bertahukan lebih dulu.


Kami pun sampai di kampusku, sebelum turun dari mobil dan berpisah, Beby mencium keningku dan mengatakan padaku untuk terus bersabar dan jangan pernah meninggalkannya. Hatiku campur aduk, disisi lain aku merasa lelah dengan drama hubungan ini, disisi lain aku merasa kami sudah setengah jalan.


Setelah selesai mengumpulkan tugas-tugas kuliahku, aku pun segera pulang, hatiku sedang tidak enak berlama-lama di kampus. Tetapi dari jauh ku lihat seseorang yang aku kenali dengan motornya.


"Rendy." Gumamku, aku pun berlari ke arahnya dan ia pun tersenyum lebar melihatku.


"Lia, ibu bilang kamu ke kampus dengan ayahnya Anita. Jadi, aku penasaran dan aku kesini." Masih sama dengan senyumnya yang terlihat jahil namun manis.


"Selalu penasaran ya? Apa ingin buktiin kalau aku bohong atau ngga?" Jawabku acuh sambil menaiki motornya.

__ADS_1


"Ya sekalian mau buktiin juga sih dan ada hal penting yang harus kita bicarakan. Pegangan yang kencang ya, kita berangkat." Ia lalu menutup kaca helmnya dan menggas motornya dengan laju kecepatan tinggi.


Tak butuh waktu lama kami pun sampai di sebuah caffee yang sangat aesthetic dan cukup mewah. Aku merasa salah kostum ke tempat ini, dari dalam jendela-jendela besar disana aku bahkan bisa melihat diriku dengan wajah yang kusam dan suram. Dengan hanya melihat tempatnya saja aku bisa tebak harga menu di caffee ini pasti tidak terjangkau untuk kantongku saat ini.


"Kenapa kita kesini Ren? Menurutku masih banyak caffee lain yang jauh lebih nyaman." Aku beralasan, mungkin saja Rendy mau berpindah tempat.


"Anita yang pilih tempat ini." Ia tersenyum mengatakan itu padaku, sedangkan hatiku saat ini sedang benar-benar tidak enak ditambah lagi mendengar nama Anita yang selalu sukses membuatku tak tenang hati.


"Anita?! Kamu jemput aku ke sini untuk pertemukan aku dengan Anita?!" Nada bicaraku mulai meninggi.


"Maaf aku lupa kasih tahu kamu, jadi beberapa hari lalu aku bertemu Anita di restoku. Lalu dia minta nomor handphoneku, setelah itu dia hubungi aku dan minta kita bertemu dengannya disini hari ini." Aku heran mengapa Rendy bisa menceritakan hal itu dengan santainya. Apa wajah muramku ini masih kurang memberitahunya bahwa aku sedang tidak baik-baik saja?!


"Itu Anita sudah datang." Ia menunjuk ke arah depan caffe dan melambaikan tangannya seolah bertemu dengan teman lama.


Aku sangat terkejut melihat Anita tidak datang sendiri, ia bersama mamahnya. Aku sudah dapat menebak hal penting apa yang ingin Anita dan mamahnya itu sampaikan. Mereka pasti ingin mencaci maki aku, menamparku, dan menyudutkanku hingga aku merasa malu, bersalah dan berlutut memohon ampunan mereka.


Mimpi buruk apa ini?! Aku bicara dalam hati.


"Hai Ren, hai Lia, lama ngga ketemu, ibu gimana sudah sehat?" Anita menyapa kami lebih dulu.


"Hai Nit, ibu sudah mendingan kok." Aku tersenyum kaku pada mereka.


"Lia sayang, tante kangen lho sama kamu, lama ngga ketemu yaa... Apa kabar sayang?" Tante Ira menyapaku dengan gaya bicara khasnya yang ceria dan centil. Ia memelukku, wangi aroma parfum mahalnya langsung tercium. Ia memang selalu berpenampilan mewah, dengan segala macam perhiasan yang ia kenakan dan gaya rambut yang selalu tertata seperti dari salon juga pakaian bagus yang ia kenakan benar-benar cocok dengannya.

__ADS_1


Aku membalas pelukannya dengan sedikit canggung, kali ini hatiku menjadi ciut. Entah mengapa aku merasa kurang percaya diri, saat ini aku benar-benar merasa 'kecil' dan tidak pantas bersanding dengan Beby. Melihat tante Ira kali ini seperti aku sedang menenggelamkan diriku ke dalam air yang keruh, dadaku sesak sekali.


__ADS_2