
Siang ini aku berdiam diri di halaman belakang rumah. Menikmati wangi bunga melati dan semilir angin. Aku duduk di temani es teh manis yang aku buat sendiri. Ibu sedang pergi bersama paman dan bibi, aku malas pergi kemanapun, tidak seperti biasanya kalau sendirian di rumah pasti aku akan pergi ke rumah Anita.
Tok. Tok. Tok.
Pintu rumahku di ketok seseorang.
"Siapa ya siang-siang ke rumah?" Aku bergegas membukakan pintu.
"Hai, lagi ngapain? Ada ibu?" Wajah yang sangat aku kenali menyapaku dengan riang.
"Rendy! Ibu ngga ada, aku lagi duduk-duduk aja sih di belakang. Ayuk masuk dulu." Aku mempersilakan Rendy untuk masuk.
"Ke halaman belakang aja yuk Ren, adem deh di sana." Aku mengajak Rendy untuk duduk-duduk saja di halaman belakang rumahku yang banyak sekali ditanamkan bunga melati, kamboja dan daun pandan.
"Beugh! Wanginya... Kaya lagi di kuburan baru. Kamu ngga takut sendirian disini?" Tanyanya seraya menempati posisi duduk di kursi depanku.
"Ngga sih, udah biasa soalnya." Jawabku singkat.
"Biasa di kuburan apa biasa cium wangi melatinya?" Canda Rendy padaku.
"Biasa ketemu hantunya. Sebentar aku ambilkan minum ya, tadi aku buat es teh manis cocok banget kan diminum disini." Aku pun berdiri hendak mengambil minuman untuk Rendy. Tapi aku lihat matanya sedang memandang ke arah kaki ku.
"Kamu lihat apa?" Aku baru sadar kalau sekarang aku hanya mengenakan celana pendekku yang tentunya mempertontonkan pahaku dengan jelas.
"Lihat kaki kamu, mulus ya." Ucapnya dengan jelas.
"Heh dasar mesum! Iih matanya ngga bisa di jaga." Aku kesal sekali, bisa-bisanya Rendy bilang begitu.
"Eh, normal dong aku kan laki-laki, dan kamu lagian kenapa pakai celana pendek banget."
__ADS_1
"Lah, jadi aku yang salah? Aku kan lagi di rumah, salah kamu ngapain ke rumahku. Apa mendingan kamu pergi aja dari sini?" Jawabku kesal dengan pertanyaannya.
"Eh jangan, jangan... Maaf ya, aku cuma bercanda, eh tapi serius lho kaki kamu mulus banget. Aku suka lihat kaki perempuan yang jenjang kaya kaki kamu."
"Bodo! Yaudah aku mau ambil minum. Awas lihat-lihat kaki aku lagi, aku colok pakai pandan."
"Wih, tajem dong. Hehehe..."
Aku pun mengambilkannya minuman, sesaat kita membicarakan soal kuliahku kemudian soal hobi ibu pelihara tanaman yang di kelola di halaman belakang rumahku ini.
"Eh iya Ren, bukannya kamu lagi marah sama aku ya? Waktu itu kamu langsung tancap gas ngebut menjauh dari rumahku." Tanyaku penasaran.
"Aku kesal, karena kamu masih aja sama si om. Padahal aku udah mati-matian bikin kamu sadar kalau aku tuh..." Kalimat Rendy berhenti disitu.
"Apa? Kalau kamu tuh kenapa? Kok malah nge-loading."
"Ngga jadi, intinya kenapa kamu lakuin itu lagi sama dia? Di acara penting ketika banyak orang-orang penting pula." Rendy mulai menggebu-gebu.
"Lia, inget kata-kata aku, jangan kebablasan."
Kata-kata Rendy barusan bikin aku jadi inget tragedi malam itu, saat Beby kelepasan di dalam, tiba-tiba muncul rasa takut di hatiku.
"Jangan ngomong gitu ah Ren, aku jadi takut." Wajahku jadi nampak cemas.
"Kenapa?! Kenapa?! Cerita sama aku." Rendy nampak panik.
"Ngga apa-apa, kamu kenapa gitu sih?!" Kalau Rendy jadi panik begitu aku pun jadi ikutan panik.
"Lia, kalau kamu sampai... Amit-amit ya, kalau kamu sampai hamil, aku rela jadi suami kamu." Ucap Rendy sambil menggenggam jemari tanganku.
__ADS_1
Hah?! Rendy bilang begitu barusan? Duh, cowok jahil, iseng, dan ke-PD-an kaya dia kalau jadi suami gimana ya? Apalagi jadi bapak, bisa-bisa anakku dibikin nangis terus di jahilin dia. Kalau Beby kan sudah ketahuan ya, dia sangat berwibawa, lemah lembut sama anak-anak, manis dan baik banget.
"Apaan sih?! Amit-amit deh, jangan ngomong gitu dong Ren."
"Lia, aku serius. Kalau si om itu ngga mau bertanggung jawab, aku yang akan tanggung jawab. Aku ngga mau lihat kamu susah sendirian." Rendy masih menggenggam tanganku, dan tatapannya serius.
Sebenarnya aku tahu kenapa Rendy mau melakukan hal itu untukku, alasan pertama tentu karena ia menyukaiku, aku bisa merasakannya tanpa ia katakan suka padaku. Alasan kedua, karena ibu pernah cerita kalau dulu kakaknya Rendy pernah hampir bunuh diri waktu suami kakaknya itu selingkuh lalu pergi meninggalkannya saat sedang hamil.
"Kenapa? Kok kamu mau tanggung jawab?" Tanyaku ingin memastikan apakah jawabannya sama seperti yang ku duga.
"Kamu pasti sudah tahu alasannya. Aku ngga mau kamu kesusahan sendiri dan depresi seperti kakakku. Kamu pasti sudah tahu cerita soal kakakku dari ibu. Lalu alasan lainnya karena..." Lagi-lagi kalimatnya terhenti, sepertinya dia masih takut untuk jujur.
"Karena kamu suka sama aku?" Aku melanjutkan kalimatnya yang terhenti.
Rendy menatapku seperti keheranan, dia jadi salah tingkah padaku.
"Aku sadar kamu suka sama aku, tapi kamu tahu kan aku punya pacar." Ucapku padanya.
Ia pun berlutut di depanku, sambil memegang kedua tanganku di pangkuanku. Ia menatapku dalam-dalam, dan jantungku jadi berdebar kencang.
"Lia, aku bukan hanya suka sama kamu. Aku cinta dan sayang sama kamu, semenjak pertama kali aku kesini, aku tahu dan yakin kamu lah perempuan yang aku cari selama ini."
Aku sempat terpaku, tak tahu mau bilang apa. Bukankah kata-kataku sudah jelas barusan, kalau aku sudah punya pacar.
"Ren, tapi..." Rendy langsung menciumku. Ia membungkam mulutku dengan ciuman yang begitu tiba-tiba.
Awalnya aku menolak, aku mendorong tubuhnya tapi kedua tangannya mendekap kepalaku. Ciuman ini begitu candu, ia begitu lihai memainkan lidahnya, mengisi langit-langit mulutku. Seperti tanpa sadar, aku pun membalas ciuman itu.
Hingga akhirnya aku berdiri, sambil terus berciuman, kami perlahan berjalan menuju kamarku. Ciuman darinya begitu manis dan lembut. Sentuhan darinya membuat bulu kudukku merinding, Aku pun melepaskan kemeja flannel yang ia kenakan. Aku membantunya membuka ikat pinggang celananya.
__ADS_1
Ia pun membantuku melepaskan kaos oblongku hingga akhirnya aku tak memakai apapun lagi. Ia merebahkanku dengan hati-hati, ia melakukan penyatuan denganku, dan memulai permainan panas ini.
Hampir 30 menit sudah kami bergumul dan keringat membanjiri tubuh kami. Aku sama sekali tidak peduli dimana aku saat ini, aku benar-benar di buat lupa segalanya. Hingga akhirnya kami melakukan pelepasan bersama dan dengan sigap ia melepaskannya di atas tubuhku.