Kekasihku Ayah Sahabatku

Kekasihku Ayah Sahabatku
BAB 7: Rendy


__ADS_3

Aku terbangun dari tidurku, jam di meja nakas sudah menunjukkan pukul 4 sore. Aku langsung bergegas bangun, memunguti pakaianku yang berserakan, lalu mandi. Setelah selesai mandi, aku lihat 'Beby' sudah bangun juga dan sedang duduk di meja makan sambil menyantap oatmeal dan susu.


"Mau?" Ia menawarkannya padaku.


"Laper yah? Hahaha..." Aku bercanda menggodanya, padahal perutku juga terasa lapar.


"Banget! Tapi aku udah pesen pizza favorit kamu, sebentar lagi pasti dateng. Disini cuma ada ini dan buah-buahan yang sebentar lagi layu. Aku belum stok makanan cepat saji, mungkin nanti kita harus beli."


Aku melihat isi kulkas dan mengambil susu dingin kemasan. Isi kulkasnya betulan masih kosong, hanya ada buah yang sebentar lagi layu. Tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu dan orderan pizzanya sampai. Aku makan pizza bersama 'Beby' sambil ngobrol panjang lebar dan bercanda-canda.


Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 6 sore. Saatnya aku harus pulang, kali ini aku pulang tak diantar 'Beby', karena aku izin pada ibu kalau aku berangkat kuliah, jadi kalau tiba-tiba 'Beby' antar aku pulang bisa-bisa ibu curiga padaku.


"Lia, lain kali jangan pakai rok sependek ini. Aku tahu ini bikin kamu ngga nyaman. Walaupun tujuannya untuk menggodaku, tapi aku ngga rela kalau pria lain lihat dan jadi tergoda juga." Ucapnya saat mengantarku naik taxi online.


"Ish... Siapa yang mau goda kamu? Aku cuma mau terlihat lebih dewasa aja kali." Jelasku padanya dengan judes.


"Terlihat lebih dewasa bukan terlihat seperti pemain film dewasa dong, ini baju kamu terbuka semua." Ucapnya sedikit marah padaku.


"Iya iya, nanti ngga aku pakai lagi. Yaudah, aku pamit ya. Kamu pulang hati-hati juga ya."


Aku pun berpamitan pulang dan langsung naik taxi online menuju rumah. Aku jadi kepikiran gimana kalau ibu lihat pakaianku ya? Mudah-mudahan ibu belum pulang waktu aku sampai rumah.


Baru saja aku sampai dan masuk ke dalam rumah, tiba-tiba ada motor berhenti di depan rumah.


"Ibu." Aku heran melihat ibu diantar naik motor oleh seorang pria muda.


"Lia, kamu baru pulang? Aduh, rokmu pendek sekali, kamu dari pulang kuliah? Memang ngga dimarahin dosenmu?" Ibu terlihat sedikit terkejut campur emosi melihat pakaianku.


Aku tidak bisa berkata apa-apa karena takut sama ibu. Aku sudah melakukan banyak kesalahan pada ibu hari ini. Sudah bolos, pergi bersama ayahnya Anita, dan ditambah sudah melakukan perbuatan tidak terpuji.


"Malam, Lia. Apa kabar?" Terdengar suara seorang pria dibelakang ibu.

__ADS_1


"Oh, malam. Rendy. Benar Rendy kan bu?" Tanyaku pada ibu memastikan aku tidak salah sebut nama orang.


"Betul ini nak Rendy, anaknya ibu yang punya laundry, tempat ibu kerja kemarin. Sekarang ibu kerja sama Rendy, ibu jadi orang kepercayaan Rendy buat ngawasin restorannnya." Jelas ibu padaku sambil tersenyum. Sepertinya ibu lupa kalau tadi sedang marah.


"Lia baru pulang kuliah?" Rendy menyapaku lagi sambil tersenyum padaku dan sesekali melihat ke arah rok miniku.


Aku jadi risih, seharusnya memang aku tak pakai rok ini, betul-betul bikin risih dan ngga nyaman.


"I.. Iya nih, tapi tadi main dulu makanya pulangnya malam."


"Yasudah, yuk masuk. Ibu mau siapkan kopi dan cemilan buat nak Rendy."


"Wah, ngga usah repot-repot bu, saya mau langsung pulang aja, udah malem." Rendy menolak karena tidak enak pada ibu.


"Ah ngga repot kok, sebentar aja mampir dulu, ibu punya kue enak favorit ibu, Lia yang belikan kemarin."


Akhirnya Rendy berhasil dibujuk ibu untuk mampir, aku pun segera berganti pakaian rumah yang lebih nyaman kemudian rebahan di kamar.


"Lia, temani Rendy ngobrol dulu ya, ibu mau mandi sebentar sekalian mau siapin cemilan di belakang." Ucap ibu padaku di depan pintu kamarku.


"Ngga apa-apa, kan sebentar aja. Ibu ngga enak sudah diantar pulang sama bos ibu. Masa ditinggal, ibu mau bersih-bersih dulu sebentar, nanti ibu ke depan."


Kali ini ibu ngga hanya berhasil bujuk Rendy, tapi berhasil bujuk aku juga buat ngobrol sama Rendy. Aku duduk di ruang tamu, awalnya hanya senyam senyum dengan Rendy. Kalau dilihat, Rendy sudah banyak berubah juga, sekarang terlihat lebih dewasa. Tampan sih, dia juga sama tinggi dengan 'Beby'ku, hidungnya juga sama mancung, penampilannya sama-sama keren, rokok mint nya juga sama. Tapi aku ngga tertarik, kan aku sudah punya 'Beby'.


"Hm... Boleh merokok ngga, Lia?" Izinnya memecahkan kesunyian di ruang tamu.


"Oh, silahkan, kebetulan pintunya lagi dibuka, biar ngga banyak nyamuk juga kali ya asap rokoknya." Aku pun mengajaknya bercanda supaya tidak canggung.


"Terakhir ketemu dulu waktu kamu masih sekolah ya Lia. Berapa umur kamu waktu itu ya?" Tanyanya sambil menghisap rokoknya.


"Hm... Berapa ya? Kayanya aku masih 15 atau 16 tahun waktu itu."

__ADS_1


"Iya, aku juga ingat kamu sering berangkat dan pulang sekolah sama temanmu itu ya, yang rambut pendek."


"Anita. Iya, dulu selalu ke sekolah dan pulang sama dia. Sampai sekarang juga masih main sama dia." Bahkan sekarang aku pacarin ayahnya, ucapku selanjutnya dalam hati.


"Kemarin aku lihat ibu di laundry, terus aku kasihan ibu sudah capek banget kerja disana, kan udah bertahun-tahun juga kerja sama mamahku. Lagian umur mamah juga ngga jauh beda sama ibumu, jadi aku paham banget kalau usia ibumu seharusnya ngga di laundry lagi."


"Jadi kamu ajak ibuku kerja di restoran kamu? Restonya yang baru buka kan, yang di seberang jalan sana."


"Betul, aku baru buka cabang lagi, jadi ada 2 resto yang harus aku urus. Jadi aku sedikit kewalahan, makanya aku minta ibumu yang awasin resto disini."


"Restonya deket, kenapa antar ibu pulang segala, jadi ngga enak tuh ibu sama kamu."


Dia tersenyum lebar, sambil melihat ke arahku, dia lalu bilang, "Supaya bisa ketemu kamu, Lia."


Deg. Tiba-tiba jantungku berdegup kencang, senyumannya manis sekali, ada lesung pipit dipipi kirinya. Wajahnya mirip sekali dengan aktor drama korea Kim Bum, tatapan matanya sedikit menggodaku.


"Apa sih, iseng aja. Bilang aja karena ngga enak sama ibu kan? Atau kasihan lihat ibu jalan dari depan ke sini." Ucapku sedikit ketus padanya, sekaligus menghilangkan ke gugupanku karena senyumannya.


"Ngga kok, beneran supaya ketemu kamu. Kata ibu, kamu tambah dewasa tambah cantik. Aku jadi penasaran, yaudah aku antar ibu ke sini. Eh, ternyata bener, tambah cantik."


Kata-katanya barusan beneran bikin aku ke-GR-an! Aku sampe salah tingkah senyum-senyum sendiri, benerin rambut lah, lihat kuku jari. Duh, ngga bisa! Ngga bisa! Aku kan sudah punya pacar, aku juga sudah melakukan hubungan intim dengannya. Aku ngga bisa begini, ngga boleh!


"Ren, aku permisi ya, maaf aku mau ke toilet." Aku langsung berdiri hendak meninggalkan Rendy.


Saat aku melangkah ke arah belakang, ibu muncul membawakan kue dan kopi.


"Lia mau kemana?" Tanya ibu padaku.


"Lia mau ke toilet, bu. Perut Lia lagi kurang enak. Lia tinggal ya bu." Aku langsung berlari ke belakang.


"Nak Rendy maaf ya, Lia sakit perut kayanya. Ini cicip kue dan kopinya dulu sebelum pulang."

__ADS_1


"Ngga apa-apa bu. Rendy juga mau habiskan rokoknya dulu baru pulang, boleh kan?"


Setelah ke toilet, aku kembali ke kamar, sepintas aku lihat ibu masih asyik ngobrol dengan Rendy. Rendy memang anak yang ramah, mudah beradaptasi dan nyambung ngobrol sama yang muda ataupun yang tua. Sepertinya ibu juga senang dengan kedatangannya.


__ADS_2