
Ceklek.
Aku membuka pintu kamar Anita dengan membawa sepotong kue ulang tahun yang tidak seberapa besar serta lilin kecil yang menyala di atasnya. Bukannya Anita seorang diri yang kulihat disana, justru pemandangan mengerikan yang tak akan pernah aku lupakan yang nampak di depan mataku. Aku melihat Anita sedang duduk di atas tubuh Benjo -sapaan untuk Benjamin- dengan rok tersingkap ke atas dan kancing baju seragam sekolahnya yang terbuka serta kedua buah dadanya terlihat jelas berada tepat di depan wajah Benjo.
Anita terus mengeluarkan suara ******* seperti orang kesakitan tapi nampaknya ia begitu menikmatinya sampai menggelinjang dan menaik turunkan tubuhnya di atas pangkuan Benjo. Benjo sendiri masih belum melepaskan kemeja seragam sekolahnya, tetapi celana panjang seragam sekolahnya sudah berserakan di tepi ranjang.
Aku menutup pintu kamarnya cukup kencang hingga menimbulkan suara 'brak' yang keras. Aku yakin mereka akan terkejut, tapi itu adalah caraku untuk menghentikan perilaku mereka yang dulu ku anggap sangat tidak senonoh dan sangat buruk. Aku sempat mencap Anita sebagai perempuan paling buruk di dunia, aku bahkan langsung mengiriminya pesan 'Aku tidak menyangka akan melihatmu bersama Benjo barusan! Aku kecewa padamu Anita.'
"Mbak, Lia pulang, titip kue ini untuk Anita ya. Mbak jangan ke kamarnya dulu, biar aja nanti dia turun llihat sendiri kuenya, terus sampaikan juga kalau aku ngga bisa datang ke acara ulang tahunnya besok." Aku lalu meninggalkan kue itu di meja, bersama dengan wajah mbak ART Anita yang kebingungan.
__ADS_1
Setelah beberapa hari tak bertemu dengan Anita, akhirnya ia mendatangiku ke rumah. Ia menjelaskan semuanya padaku kalau kejadian kemarin bukan pertama kalinya dengan Benjo. Ia sudah sering melakukannya saat rumah sedang sepi dan ayahnya sedang keluar kota. Berkali kali ia selalu bilang tidak bisa menolak ajakan Benjo dan tidak akan pernah bisa berpisah dari Benjo sebab pria brengsek itulah yang sudah merebut mahkotanya.
"Nita, berapa kali aku harus bilang sama kamu kalau Benjo itu laki-laki brengsek. Kamu bukan sekali dua kali melihatnya berselingkuh dengan perempuan lain." Aku mengingatkan Nita soal perselingkuhan yang Benjo lakukan.
"Tapi Benjo bilang mereka cuma teman. Benjo cuma antar mereka pulang sekolah atau sekedar menemani mereka jalan-jalan malam. Aku percaya Benjo ngga akan selingkuh, Lia." Ya! Anita selalu termakan bujuk rayu Benjo dan kata-kata manisnya kalau ia tidak berselingkuh.
"Nita, sebagai sahabatmu, aku sudah sering ingatkan kamu orang seperti apa Benjo itu. Bagiku Benjo bukan laki-laki yang baik dan pantas untukmu, kamu cantik dan pintar, aku yakin kamu bisa dapatkan laki-laki yang jauh lebih oke dari Benjo. Lagi pula ibunya selalu menyinggung orang tuamu yang sudah bercerai kan? Seakan keluarga mereka yang utuh sudah pasti tanpa cela, aku yakin kelakuan Benjo tidak jauh beda dengan ayahnya." Emosiku memuncak kalau bahas Benjo.
"Jangan bilang begitu Lia, keluarga Benjo baik banget sama aku, keluarganya selalu memperlakukan aku dengan manis." Lagi-lagi Anita membela Benjo.
__ADS_1
Sampai sekarang pun aku masih tidak setuju dengan hubungan mereka. Aku membenci Benjo yang sering mengajak Anita menginap di hotel atau berduaan di kamar Anita saat rumahnya sedang sepi. Meskipun sekarang aku juga melakukan hal yang sama seperti Benjo, tapi aku melakukannya dengan pria yang serius denganku, bukan seperti Benjo yang jelas sekali hanya main-main dengan Anita.
Dan sekarang Anita hamil akibat perbuatan Benjo si brengsek. Bisa-bisanya alasan orang tua Anita yang sudah tidak utuh dijadikannya alasan untuk lepas tanggung jawab. Sama saja seperti ibunya yang selalu bilang akan merestui hubungan Anita dan anak bungsunya itu kalau Anita punya orang tua yang utuh.
Selama ini Beby alias ayah ya Anita tidak pernah tahu sepak terjang anak semata wayangnya ini bersama Benjo, kalau tahu sudah pasti Benjo akan babak belur di tangan ayahnya Anita. Yang ayahnya Anita tahu, anaknya dan Benjo menjalin hubungan yang normal, baik dan serius.
Sekarang Anita merengek minta tolong padaku untuk menyatukan kembali kedua orang tuanya, demi janin yang dikandungnya agar memiliki ayah. Padahal aku yakin, hal itu cuma dijadikan alasan oleh Benjo dan ibunya yang sama bengisnya dengan Benjo. Secara, hal yang tidak mungkin dan sulit sekali untuk membuat kedua orang tuanya kembali bersama. Apalagi tante Ira, mamahnya Anita sudah menikah lagi dengan pria lain, ya meskipun sekarang akhirnya mereka bercerai.
Aku tidak bisa tinggal diam, aku harus menyadarkan Anita bahwa Benjo dan ibunya hanya mencari-cari alasan agar ia dan Benjo tidak menikah. Lagi pula jika ibunya Benjo hanya ingin Anita memiliki orang tua yang utuh, aku yakin bisa membantunya dengan menikahi ayahnya.
__ADS_1