Kekasihku Ayah Sahabatku

Kekasihku Ayah Sahabatku
BAB 14: Malam Yang Dinantikan


__ADS_3

Tepat satu minggu sudah setelah Anita datang ke kampusku dan membuat acara dinner dadakan untuk merayakan ulang tahunku. Dan malam ini adalah saatnya, tepat di hari ulang tahunku yang ke 22 tahun.


Ibu dan aku sudah menyiapkan gaun cantik untuk kami pakai saat makan malam nanti. Aku dan ibu akan mengenakan gaun dengan warna merah muda. Gaun ibu berlengan panjang dan menjuntai sampai pergelangan kakinya dengan kancing mutiara di bagian depan dada. Sedangkan gaunku bermodel kerah sabrina yang menonjolkan bahu indahku, berlapiskan kain tile bermotif hingga menjuntai sebatas lututku.


"Sangat cocok dengan cincinku." Kataku pada diriku sendiri di depan cermin.


Cincin yang pernah Beby berikan padaku selama ini selalu kusimpan di dalam lemari, aku khawatir ibu akan menanyakannya padaku. Tapi malam ini aku berani memakainya, sebab Rendy berjanji padaku akan membantuku jawab kalau ibu tanya soal cincinnya.


"Lia, yuk berangkat, nak Rendy sudah jemput." Panggil ibu dari ruang tamu.


"Iya bu, aku segera ke depan."


Aku pun bergegas keluar menemui Ibu dan Rendy. Kami masuk ke dalam mobil, ibu duduk di kursi belakang, sementara aku tentu saja duduk di samping Rendy yang senyum terus-terusan melihatku.


"Gila ya kamu senyum-senyum sendiri?" Ucapku padanya dengan nada judes.


"Ngga lah, aku seneng lihat kamu, cantik banget malam ini. Iya ngga bu?" Ucap Rendy.


Ibu menyahut dengan anggukan dan juga senyuman. Tampaknya ibu bahagia sekali anaknya bisa dekat dengan bosnya. Aku pun menjewer telinga Rendy sampai ia sedikit berteriak.


"Lia, ngomong-ngomong cincin kamu baru ibu lihat." Ucap ibu tiba-tiba dari bangku belakang


Deg! Aku cemas sekali dan hanya diam menatap Rendy, menunggu ia menepati janjinya untuk membantuku menjawab pertanyaan ibu.


"Ini cincin dari Rendy, bu. Rendy kasih ke Lia waktu 'nembak' Lia. Sambil berlutut Rendy bilang ke Lia, maukah kau menjadi pacarku, Lia? Kalau mau pakailah cincin ini. Terus Lia langsung ambil cincinya, bu. Pacaran deh kita..." Jelas Rendy dengan gaya jahil dan penuh percaya dirinya. Tak habis pikir dengan jawabannya, tapi aku tidak peduli asalkan ibu tidak tahu bahwa sebenarnya cincin ini dari Beby.

__ADS_1


Mobil pun meluncur menuju restoran tempat Anita hendak mengadakan makan malam bersama kami. Sesampainya di tempat yang kami tuju, terlihat parkiran mobil cukup penuh, beberapa kali kami mengitari parkiran hingga Rendy memutuskan untuk menurunkan aku dan ibu terlebih dahulu.


"Ibu sama Lia turun duluan ya, aku cari parkiran dulu. Biasa kalau weekend pasti disini ramai. Nanti aku nyusul ya." Sepertinya Rendy sering ke tempat ini sebelumnya.


Aku dan ibu pun akhirnya turun dari mobil dan langsung disambut seorang pegawai restoran menuju ke dalam restoran.


"Selamat malam kak, ibu, mohon maaf apakah sudah reservasi?" Tanya pegawai restoran pada kami.


"Sudah, atas nama Anita." Jawabku padanya.


"Kak Anita reservasi di lantai dua, mari saya antarkan." Pegawai restoran pun mengarahkan kami menuju meja yang sudah di pesan Anita di lantai dua.


Aku celingukan mencari Anita dan teman-teman kami yang katanya juga turut diundang di acara malam ini, tapi tak satupun aku lihat ada meja yang sedikit ramai.


Ya! Ayahnya alias 'Beby' hadir dan sudah duduk di meja tempat kami akan makan malam bersama. Anita jelas sudah merencanakan semuanya, ia tidak mengundang teman-teman kami seperti yang ia bilang.


"Lia, ayo, kenapa bengong?" Ibu mengajakku untuk bergegas menghampiri meja Anita.


Aku gugup sekali, aku tidak bisa bayangkan bagaimana situasi nanti akan terasa canggung, sebab ada Rendy dan 'Beby' di meja yang sama, belum lagi Anita pasti sudah menyiapkan 'sesuatu' untuk menjatuhkan mentalku.


Aku melihat 'Beby' menatapku terkesima, matanya tidak berkedip sedikitpun, aku menyembunyikan rasa gugup serta cemasku dengan terus menundukkan kepala. Sudah beberapa hari kami tidak bertemu, bahkan ia juga tidak menghubungiku saat aku susah payah menghubunginya.


"Hai ibu, terima kasih sudah datang." Anita menyambut ibu lalu memeluknya.


"Terima kasih juga sudah undang kita untuk makan malam ya sayang." Ucap ibu pada Anita setelah melepas pelukan mereka.

__ADS_1


Anita kemudian memelukku dan mengucapkan selamat ulang tahun padaku, sementara ibu sedang berbasa-basi dengan Beby. Kemudian ini lah saatnya aku berhadapan dengan Beby dan harus bertegur sapa di depan banyak orang.


"Selamat ulan tahun, Lia. Kamu terlihat sangat cantik malam ini." Beby menjabat tanganku sambil menatapku cukup lama. Aku hanya menjawab dengan senyuman malu-malu.


Kamu juga tampan sekali malam ini dengan setelan jas dan potongan rambut barumu. Ucapku dari dalam hati


"Oke, mari semuanya silahkan duduk ya..." Ujar Anita menyadarkan aku dan Beby untuk segera memisahkan diri dan duduk di bangku yang telah disediakan.


Aku duduk bersebelahan dengan Anita dan berhadapan langsung dengan Beby, sementara ibu duduk di sebelah Beby dan berhadapan langsung dengan Anita. Ada satu bangku kosong di sebelah kiriku, dan aku tahu itu pasti bangku yang disiapkan untuk Rendy.


Anita memang sengaja mengatur semua ini. Gumamku dalam hati.


Pelayan restoran mendatangi meja kami dan menawarkan kami untuk memesan menu makanan. Anita dan ibu sedang sibuk melihat lihat menu makanan sementara aku sedang salah tingkah karena Beby terus menatapku.


"Oh iya Lia, Rendy datang kan? Mau di pesenin makanan duluan atau nunggu dia datang?" Tanya Anita tiba-tiba hingga ku lihat Beby sedikit kebingungan. Aku pun sempat terkejut dengan pertanyaan Anita, dan ku pikir ini lah saatnya dia akan melancarkan aksinya untuk menjatuhkanku.


"Rendy?" Tanya 'Beby' sambil melihat ke arahku dan Anita.


"Iya, Rendy pacarnya Lia, yah." Anita sengaja menjawab dengan suara lantang dan penuh penekanan.


"Rendy datang kok, itu dia." Ibu menunjuk ke arah datangnya Rendy.


Rendy menghampiri meja kami dengan penuh percaya diri dan penuh senyum. Kami semua langsung menoleh ke arah datangnya Rendy, dan tidak hanya kami, hampir semua orang di tempat ini juga menoleh padanya. Jujur, saat ini ia tampak sangat tampan dan gagah dengan setelan jasnya, tidak kalah tampan dari Bebyku.


Tapi, sebentar lagi pasti situasi akan canggung dan Anita pasti sudah menantikan momen ini, momen bertemunya aku, ibu, ayahnya, dan Rendy.

__ADS_1


__ADS_2