
Tiga minggu menjelang hari ulang tahun tante Ira, mamahnya Anita, wanita yang hendak dijodohkan dengan mantan suaminya yang adalah kekasihku, Beby. Berat badanku sudah susut 3kg dalam waktu singkat sebab aku benar-benar menjaga makanan yang masuk ke mulutku, aku juga jadi lebih sering luluran, merawat wajah dengan skincare, merawat rambut ke salon dan di rumah, serta olahraga. Aku bertekad bahwa aku harus tampil lebih cantik dan lebih oke daripada tante Ira.
Tok. Tok. Tok.
"Siapa?" Aku berteriak dari dalam kamar saat mendengar pintu kamarku diketuk.
"Lia, ada Rendy ya di ruang tamu." Suara ibu menyahut dari balik pintu kamarku.
Wah, ada Rendy datang hendak menemuiku, aku jadi salah tingkah bolak balik di depan cermin bingung mau apa dan harus berganti pakaian atau tidak. Tapi kemudian aku coba menenangkan diri, aku tarik nafas dalam-dalam lalu ku hembuskan perlahan sembari mengatur degup jantungku yang tak karuan ini. Bagaimana tidak, sudah beberapa bulan aku tidak bertemu dengannya semenjak ibu sakit dan ia harus kembali mengurus dua restorannya. Dan jujur saja, aku juga memang memiliki perasaan suka padanya meskipun aku sendiri belum sepenuhnya yakin dengan perasaan ini.
"Rendy." Aku menyapanya seraya duduk di hadapannya.
"Lia, masih cantik kaya biasanya, tapi kamu makin kurus. Capek ya ngurusin ibu? Atau capek mikirin aku?" Rendy menyapaku dengan gaya khas tengilnya.
"Masih aja kamu tuh. Ada apa kesini siang bolong?" Belum sempat Rendy menjawab pertanyaanku, ibu sudah berpakaian rapih dan pamitan untuk pergi terapi.
"Lho, ibu kok ngga bilang mau pergi, aku kan bisa antar bu. Ibu pergi sama siapa?" Aku heran kenapa ibu tidak bilang kalau akan pergi sendiri.
"Ibu mau Rendy antar?" Rendy menawarkan diri untuk mengantar ibu.
"Ngga usah nak Rendy. Lia, nanti ibu mau terapi diantar paman sama bibimu. Terapinya di tempat nenekmu biasa terapi itu. Ibu mau coba kesana, bosan Lia terapi dirumah terus, sekali-sekali ibu mau main keluar rumah. Kamu jaga rumah ya, pintunya di tutup saja ibu takut kejadian seperti tetangga kita yang kerampokan kemarin. Pintu halaman belakang biar di buka supaya ada udara yang bergantian masuk ya. Ibu pergi dulu ya..." Aku dan Rendy mengantar ibu masuk ke dalam mobil paman dan bibi, mereka kemudian pergi sampai mobilnya tak terlihat lagi di ujung jalan. Aku dan Rendy kemudian masuk rumah dan menutup pintunya rapat seperti wejangan ibu.
__ADS_1
"Lia, jadi kamu sendirian dong sekarang." Kami lalu duduk kembali, tapi kemudian Rendy pindah tempat dudukĀ di sebelahku.
"Lia, aku kangen. Kamu kangen ngga sama aku?" Pertanyaan itu sukses buat jantungku berdebar dan salah tingkah.
"Lia..." Rendy kembali memanggilku dan kali ini menggenggam jemariku. Aku menatap matanya yang semakin dekat dengan wajahku, ia lalu menciumku.
Dari hembusan nafasnya yang panas dan cepat, aku tahu ia sedang sangat bergairah. Dan aku sendiri tak tahu bagaimana, tapi hasrat dalam diriku juga begitu menggebu dengannya. Aku membalas ciumannya dengan mesra dan membiarkan kedua tangannya bermain dengan tubuhku.
Tak butuh waktu lama, kami sudah berada dalam pergumulan panas di sofa ruang tamu. Suara erangan yang selama ini kutahan jika bercinta bersama Rendy, kini kubiarkan lepas. Hingga di puncaknya aku menahan agar ia tak melepasnya.
"Ren, biar didalam." Bisikku di telinganya.
Pikiran jahat itu memang sudah terlintas saat aku dan Beby berada di hotel saat kami keluar kota beberapa minggu lalu. Dan kini, meskipun aku sedang memadu kasih bersama Rendy dan bertukar keringat bersamanya, tujuan itu masih ada dan masih sama. Aku memang sudah gila, aku begitu serakah menginginkan keduanya, aku tak memikirkan perasaan keduanya.
Toh, mereka juga mendapatkan kenikmatan dariku, kan?! Itu lah yang ada dipikiran ku saat ini. Dan gilanya lagi, aku dan Rendy masih terus melakukannya berkali kali, seakan tak ada puasnya dan berkali-kali juga Rendy menyemburkan benihnya di dalam. Kini kami benar-benar kelelahan, ia tertidur di atas tubuhku.
"Lia, jam berapa sekarang?" Ia bangun dari tidurnya.
"Jam 7 malam mungkin, sebaiknya kita segera mandi." Aku bergegas bangun tapi Rendy menarikku.
"Lia, duduk. Aku minta maaf sama kamu, aku ngga tahu kenapa tapi setiap sama kamu, aku selalu merasa hasratku..."
__ADS_1
"It's ok. Aku paham kamu pria. Yang omongannya ngga bisa dipegang sama sekali. Kemarin nasehatin aku, katanya si om manfaatin aku aja, tapi kamu sendiri..." Aku memotong ucapannya seraya memunguti pakaianku yang berserakan di lantai. Rendy hanya diam saja tak menampik ucapanku barusan.
"Yasudah ayo mandi dan bereskan semuanya sebelum ibu datang." Aku meninggalkannya terduduk termenung sendiri.
Setelah membersihkan diri dan membereskan ruangan Rendy mengajakku keluar untuk menghirup udara segar sekaligus mencari makan malam.
"Lia, boleh aku tanya sesuatu sama kamu? Tolong jawab jujur ya." Rendy mengatakannya setelah kami memesan nasi goreng di pinggir jalan, aku pun menganggukan kepala.
"Menurut kamu, hubungan kita gimana sih? Aku sih jelas-jelas sudah pernah bilang sama kamu kalau aku cinta sama kamu, tapi kamu sendiri ngga lernah ada omongan itu sama aku." Kami lalu duduk, aku meneguk es teh manis yang rasanya jadi hambar saat Rendy menanyakan hal itu.
Aku bingung bagaimana menjawabnya, aku sendiri menyukainya tapi aku masih belum yakin dengan perasaanku padanya. Kalau ditanya lebih memilih siapa, tentu aku akan lebih memilih Beby, tapi kalau harus berpisah dari Rendy aku tidak rela.
"Jawab dong Lia. Kamu dengar kan pertanyaan aku tadi?" Ia menegaskan.
"Aku... Jujur aku bingung Ren. Aku akuin ada perasaan suka sama kamu, tapi aku masih belum rela kehilangan Beby." Jawabku ragu-ragu menjaga perasaannya meskipun tetap saja ia akan tersakiti juga.
"Beby?! Si om itu?" Wajahnya berubah jadi masam.
"Awalnya aku pikir kamu bisa menggantikan Beby, tapi ternyata sekarang aku salah. Kamu ngga bisa gantikan dia, kamu justru melengkapi apa yang ngga ada dari dia. Aku emang salah Ren, maafin aku ya." Terus terang aku jadi tidak enak hati dengan Rendy.
Entah aku harus bagaimana, tapi ia masih tetap pada pendiriannya untuk terus memperjuangkan aku agar kelak bisa cinta padanya seutuhnya. Aku pun berterus terang, jika aku tidak ingin terkesan memberikan harapan atau angin segar padanya. Aku mengingatkannya kemungkinan terburuk kalau-kalau aku masih tetap memilih Beby.
__ADS_1