Kekasihku Ayah Sahabatku

Kekasihku Ayah Sahabatku
BAB 25: Alasan Untuk Anita


__ADS_3

Anita hanya tersenyum melihatku dan Rendy, sementara wajah Beby nampak datar. Mungkin ia cemburu tapi harus menutupi kecemburuannya itu.


"Aku baru sampai kok. Ini ada cemilan sehat buat ibu, dia pasti suka." Anita memberikanku sekantong besar makanan ringan untuk ibu.


"Ibu di kamar, kamu mau lihat ibu?" Ucap Rendy pada Anita karena aku tiba-tiba terdiam.


Anita lalu menuju kamar ibu, sementara Rendy berjalan di belakangnya disusul aku lalu Beby. Ibu merespon kami dengan baik, sepertinya ibu dapat pulih lebih cepat seperti yang dokter katakan.


"Oh iya Lia, ini oleh-oleh dari ayah, kemarin ayah habis pergi ke pulau." Anita memberikan aku sebuah kalung serta tas totebag dengan nama tempat dimana barang-barang itu dibeli.


"Eh tapi baju kamu sama kaya oleh-olehnya ayah ya. Tuh sama kan nama tempatnya. Eh kayaknya ayah juga punya baju itu." Lanjut Anita lagi yang kemudian membuat jantungku lemas sekali.


Bodohnya aku memakai baju yang aku beli bersama Beby sewaktu kami berlibur bersama. Karena banyak pakaianku yang belum di cuci jadi aku pakai baju yang tersisa di lemari. Dan sialnya baju ini adalah salah satunya.


Aku dan Beby nampak pucat pasi, tanganku sedikit gemetar menerima pemberian Anita. Aku bingung harus berkata apa, entah Anita sengaja atau tidak yang jelas aku tidak siap menerima amukan darinya atau pun ibu.


"Ya kan pabrik bikin ngga cuma satu ya sayang, Lia juga baru dari sana sih tapi sama teman-teman kampusnya." Rendy membantuku menjawab Anita. Lagi-lagi Rendy yang membantuku keluar dari masalah. Lantas Beby hanya diam saja seperti patung. Seakan lepas tangan dari masalah yang kita buat bersama.


"Kapan Lia kesana? Pulau itu kan privat ya, pasti seru ya liburan sama teman-teman terus di pulau isinya cuma kita sama teman-teman aja. Kapan-kapan kita kesana bareng yuk." Lagi-lagi Anita selalu berhasil membuat darahku hilang dari kepalaku. Aku cemas sekali Anita mengetahui kalau aku dan ayahnya baru saja pergi bersama ke pulau itu.


"Boleh juga, ide yang bagus. Nanti kalau ibu sembuh dan pulih kembali kita berangkat liburan bareng ya bu." Ucap Rendy yang kemudian disambut senyuman oleh kami semua.


Padahal pertanyaan dan pernyataan dari Anita hanya sekedar kalimat biasa, yang mungkin untuk orang yang tidak melakukan kesalahan sepertiku akan meresponnya dengan santai seperti Rendy.

__ADS_1


"Lia, ibu, kalau ada apa-apa Anita siap bantu. Ayah juga sudah seperti ayah Lia sendiri, ayah juga sayang sama Lia seperti anaknya sendiri, kita ini keluarga. Iya kan yah?" Ibu tersenyum saat Anita mengatakan hal itu, tapi respon Beby sungguh di luar harapanku.


"Tentu, Lia sudah ayah anggap anak sendiri, kita sudah seperti keluarga." Beby menjawab Anita dengan wajah seakan sepakat dengan perkataan Anita dan hanya terus mengangguk. Sementara Rendy sudah senyum-senyum terus disebelahku.


Aku mengharapkan Beby mengatakan pada ibu dan Anita jika ada kemungkinan kami memiliki hubungan, apakah mereka bisa menerimanya nanti? Meskipun hanya berandai-andai, aku ingin ia mengatakannya di depan Anita dan ibu. Tapi kemudian aku tersadar kalau kondisi ibu belum betul-betul membaik, mungkin hal itu menjadi pertimbangan bagi Beby.


"Emh... Lia, toiletnya dimana ya?" Beby tiba-tiba menanyakan toilet, mungkin ia juga sudah tidak betah dengan situasi yang kikuk bagi kami.


"Oh dibelakang, mari om Lia antar." Aku pun ingin segera keluar dari situasi ini.


Aku dan Beby melangkah keluar kamar ibu, aku mengantarkan Beby ke toilet, selama ini dia memang belum pernah berkunjung ke rumahku seperti sekarang. Paling kalau ke rumahku ia hanya sampai di depan rumah atau paling jauh sampai di ruang tamu.


"Lia, bau harum apa ini?" Tanyanya padaku saat berhenti di depan pintu toilet.


"Boleh lihat kesana?" Ia sepertinya tertarik ingin melihat halaman belakang rumahku.


"Boleh... Om mau lihat? Mari om Lia temani kesana." Aku pun pergi ke halaman belakang bersama Beby.


Sesampainya di halaman belakang tiba-tiba ia menarik lenganku, kemudian ia mendekatiku sangat dekat hingga aroma nafasnya dapat tercium.


"Lia, jauhi Rendy. Kamu sadar ngga dia punya perasaan sama kamu?" Beby tiba-tiba terlihat emosional.


"Rendy selalu ada buatku dan ibu, Rendy juga yang bantu aku dan ibu selama ibu sakit." Aku ingin berontak karena tubuhnya menahanku di dinding.

__ADS_1


"Terus kenapa pagi-pagi dia sudah disini? Apa dia ngga punya rumah?" Beby masih saja emosi.


"Rendy tidur di ruang tamu semalam, dia siaga kalau ibu kenapa-kenapa lagi. Kamu jangan berpikiran negatif sama dia." Aku berbohong, sungguh hatiku mengatakan kalau aku betul-betul berbohong. Beby pantas berpikiran negatif pada Rendy karena memang sekarang aku dan Rendy memiliki perasaan yang sama.


"Pokoknya aku ngga suka dia ada di dekat kamu terus." Beby mulai melonggarkan jarak antara kami.


"Memang kenapa? Kamu cemburu? Kamu itu ngga bisa bela aku sama sekali di hadapan Anita dan ibu, ngga kaya Rendy. Kamu seolah-olah ngga tahu apa-apa dan lepas tangan dari masalah yang kita buat bersama. Kamu biarin aku kebingungan jawab pertanyaan Anita sendiri." Aku memuntahkan semua uneg-uneg yang ku pendam selama ini.


"Aku minta maaf tapi aku belum bisa jujur di depan Anita. Aku takut hatinya terluka." Ucap Beby dengan nada bicara yang sedikit tinggi.


"Jujur soal apa yah?" Suara Anita tiba-tiba menyahut.


Deg! Ada Anita diantara aku dan Beby. Dia pasti mendengar percakapanku dengan ayahnya. Jantungku berdegup sangat kencang, tak kulihat Rendy disekitar. Tanpanya aku pasti mati kutu di hadapan Anita.


"Oh sayang, ehm... Ini... Ayah... Ayah... Belum jujur sama kamu..." Beby nampak kebingungan menjawab pertanyaan anaknya.


Di saat seperti ini ingin rasanya aku sampaikan langsung bahwa aku dan ayahnya memiliki hubungan yang serius dan kami sudah sering melakukan hubungan selayaknya suami istri.


"Lia ingin ayah biayai kuliahnya sampai selesai. Ayah belum bilang ke kamu karena ayah takut kamu dan Lia jadi renggang." Apa?! Sungguh alasan yang buat aku mendidih. Alasan itu tentu buat aku malu dan seakan mengemis uang serta belas kasih dari ayahnya.


"Ooh ya ampun Lia, aku ngga apa-apa kok. Aku paham situasi keuangan kamu pasti jadi sulit karena ibu sakit. Aku rela kalau ayah biayain kuliah kamu, lagi pula ayah aku kan ayah kamu juga Lia." Anita mendekatiku lalu memelukku.


Aku memberikan tatapan tajam pada Beby seakan memberitahunya kalau aku tidak suka alasan itu. Alasan macam apa yang ia berikan pada Anita itu?! Harga diriku terluka di depan Anita, aku benar-benar marah pada Beby. Sudah tidak membantuku menjawab pertanyaan Anita, sekarang ia berulah seperti ini.

__ADS_1


__ADS_2