
Sudah dua hari Beby tidak pulang kerumah dan memilih berdiam di apartemennya. Ia masih marah dengan sikap anarkis Anita serta perkataan Ira, mantan istrinya sewaktu di restauran.
"Mas, kamu harusnya malu dengan Anita, bisa-bisanya kamu pacaran dengan anak seusia anakmu sendiri. Apa kamu ngga merasa seperti sedang memacari anakmu sendiri?!"
Kata-kata itu terus terngiang di dalam pikiran pria itu. Ia merasa jijik dengan dirinya sendiri kalau diingat usia Lia yang memang seumuran dengan putrinya.
"Brengsek! Apa aku sekotor itu? Apa pikiranku serendah itu? Tapi Lia gadis yang berbeda, ia jauh lebih dewasa dari Anita. Lia terlihat lebih dewasa secara pemikiran dan penampilan, sangat berbeda dengan Anita." Robby terus mengumpati dirinya sendiri.
Beberapa kali ia berusaha menghubungi ponsel Lia namun tak juga di jawab. Ia begitu khawatir dengan Lia, di dalam hatinya ia sangat takut kehilangan Lia.
"Aku harus membuat Anita mengerti kalau aku dan Ira tidak akan pernah bisa kembali seperti dulu. Dari dulu aku juga tidak pernah mencintainya, ia menjebakku sampai ia bilang hamil dan mengandung anakku." Robby lalu keluar dari apartemennya menuju mobil, ia kemudian mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi.
Ia ingin segera pulang ke rumah dan menemui putrinya. Selama dua hari satu malam berada sendiri di dalam kamar apartemennya membuat ia berpikir dan menentukan pilihan besar. Ia harus segera menikahi Lia, meskipun Anita memaksanya menikahi Ira. Ia yakin ini semua akal-akalan Ira agar mereka kembali menikah dan membuatnya kehilangan Lia.
Brak! Robby membuka pintu rumah dengan kasar.
"Anita, ayah mau bicara!" Teriak Robby lalu duduk di sofa ruang tamu menunggu kehadiran putrinya.
__ADS_1
"Kamu sudah pulang? Relax, kenapa baru sampai sudah marah-marah?" Suara Ira menyambut kedatangan Robby.
"Panggil Anita kesini, aku mau bicara." Robby memerintahkan Ira untuk segera memanggil putri mereka.
"Mba...! Mba...! Panggilkan Anita turun ya, ayahnya mau bicara." Seperti biasa, Ira pasti memerintahkan kembali ART di rumah hanya untuk sekedar memanggilkan putrinya.
Ira memang terbiasa menyuruh ART untuk segala keperluannya. Bahkan hal kecil seperti mengambil cangkir di meja yang dekat sekali dengannya, sementara ia sedang membaca buku saja pasti ia akan menyuruh ART nya.
Tak lama datanglah Anita di ruang tamu yang kemudian disambut dengan tatapan marah ayahnya.
"Duduk! Ayah mau bicara penting dengan kamu. Kebetulan juga ada mamahmu, jadi kita bisa langsung saja ke pokok pembicaraan." Robby memulai pembicaraan penting dengan putri dan mantan istrinya.
"Mah! Kenapa?! Astaga mamah!" Anita nampak kesal dan kaget sekaligus.
"Apa maksud kamu Ira? Anita hamil bagaimana? Jangan sembarangan kamu bicara!" Emosi Robby mulai naik.
"Iya, Anita hamil maka itu kita harus segera menikahkan ia dan Benjo, pacarnya yang menghamili dia." Ira mengucapkannya masih dengan style nya yang santai dan elegan.
__ADS_1
"Benar Anita?! Kamu sedang hamil? Atau hanya perkataan asal wanita ini?" Robby menghardik Anita dan Ira.
"Yah, Anita minta maaf yah..." Anita nampak ketakutan dan menahan air matanya, dirinya gusar dan ingin mamahnya memberinya pertolongan, namun sia-sia sebab Ira masih duduk santai menyaksikan ayah dan putrinya yang sedang emosional.
"Kamu tahu mas, Benjo dan ibunya bilang, kalau ingin Benjo menikahi Anita, maka kita berdua harus menikah lagi agar Anita memiliki orang tua yang lengkap. That's it." Ira lalu melanjutkan ucapannya.
"Anita, ayah sungguh kecewa sama kamu. Ayah pikir kamu putri ayah yang baik, tapi ternyata sikapmu ini jauh lebih buruk dari yang ayah bayangkan. Sedangkan kamu bisa-bisanya mempermalukan Lia di depan umum seakan kamu tidak punya aib." Robby kehabisan kata, ia menahan tangisnya. Hatinya sangat sakit mendengar putri kesayangan yang ia jaga baik-baik ternyata hamil dengan pria brengsek macam Benjo.
"Nita minta maaf yah, Nita salah." Anita menangis sejadi-jadinya.
"Kamu tahu kan Benjo itu pria brengsek. Ayah yakin dia ngga pernah serius dengan kamu. Ayah tahu kalau kamu seringkali menangis karena dikhianati sama si Benjo itu." Robby kemudian duduk kembali, menatap ke arah luar pintu. Ia tak sanggup melihat putri kesayangannya, kecewa sekali ia mendengar Anita hamil.
"Anita salah yah, Anita minta maaf. Tapi Anita cinta sekali dengan Benjo. Anita ngga bisa hidup tanpa Benjo, yah." Anita berlutut di bawah kaki ayahnya, tangisnya begitu pilu memohon belas kasih dari ayahnya.
Hati ayah mana yang tidak kecewa jika putri kesayangannya harus mengalami aib seperti ini. Bahkan, ia tahu bahwa pria yang menghamili putrinya bukan pria baik-baik, lantas bagaimana nasib masa depan putri yang ia jaga dan rawat dengan baik itu jika harus hidup bersama pria macam Benjo.
"Ayah akan menemui Benjo dan keluarganya sekarang juga. Tapi ingat satu hal Anita, ayah tidak akan bersedia menikahi mamahmu. Ayah tidak ingin hidup dengan wanita yang keluarganya bahkan tidak menganggap ayah sebagai manusia." Robby mengucapkan kalimat itu dengan sangat jelas dan tegas. Tak ada perlawanan dari Anita, dirinya begitu pasrah dan tak mampu membantah perkataan ayahnya.
__ADS_1
Sementara Ira nampak sedikit shock, namun rupanya ia memang tidak terlalu berambisi menikah lagi dengan mantan suaminya itu. Ia memang bertujuan untuk menikah kembali dengan Robby hanya karena ia tidak ingin bekerja dan hanya ingin hidup serba mewah. Namun, stok pria kaya yang ia miliki cukup banyak sehingga ia berpikir untuk mencoba peruntungan dengan pria lainnya jika tidak mendapatkan Robby kembali.
"Berikan ayah alamat rumah Benjo, ayah akan kesana bersama staff ayah, anak itu harus diberi pelajaran." Robby begitu geram dan ingin sekali memberikan hukuman setimpal pada Benjo atas perbuatannya.