Kekasihku Ayah Sahabatku

Kekasihku Ayah Sahabatku
BAB 31: Jujur Pada Ibu


__ADS_3

Beby membantuku menurunkan dua koper serta beberapa tas belanjaku dari bagasi mobilnya. Ibu nampak memperhatikan kami dari depan pintu. Wajahnya tersenyum tapi matanya tidak bisa berbohong, aku tahu ia sedang mempertanyakan apa yang sedang terjadi, mengapa aku membawa banyak sekali tas belanja dari toko bermerk mahal atau apa mungkin ibu penasaran mengapa aku bersama Beby?!


"Malam bu." Aku lalu meletakkan koperku dan memeluk ibu.


"Lia, kamu bawa apa? Bukannya kemarin hanya satu koper? Ini semua dari Anita?" Pertanyaan ibu tepat seperti dugaanku.


"Bukan bu, ini semua ayahnya Anita yang belikan." Aku menjawabnya yakin, sebab aku ingin sedikit demi sedikit terbuka pada ibu.


"Malam mba, sudah sehat?" Beby menyapa ibuku.


"Malam, iya sudah pulih kembali, sudah bisa aktifitas sendiri tapi masih banyak yang terbatas." Jawab ibu masih dengan senyum hangatnya.


"Maaf kalau kemalaman, tadi jalanan macet sekali." Beby berbasa basi.


"Ngga apa, yang penting Lia sudah pulang dengan selamat. Mau masuk dulu? Lia tolong buatkan minum ya." Ibu nampak ramah sekali pada Beby, syukurlah!


"Oh jangan repot-repot, saya langsung pulang saja." Beby nampak tidak enak hati menerima ajakan ibu untuk mampir.


"Ngga apa, sebentar aja minum dan istirahat dulu, perjalanan luar kota dan setir sendiri kan melelahkan, ajak Anita sekalian masuk ke dalam dulu."


Deg!


Wajahku dan Beby nampak bingung sebab memang kami tidak pergi bersama Anita.

__ADS_1


"Anita sudah duluan turun, ia dijemput mamahnya di rest area, mau lanjutkan perjalanan lagi." Untung Beby cepat memberikan alasan.


"Oh jadi kalian berdua?" Aku hanya diam terpaku sejak tadi melihat bolak balik ke arah Beby dan ibu.


"Iya mba, masa Lia saya turunkan juga di rest area, mana barang bawaanya banyak lagi." Ibu pun terkekeh mendengar Beby bicara begitu. Tak kusangka ibu tidak marah sama sekali, ya memang ibu tidak pernah bersikap tak ramah pada Beby tapi kupikir ibu akan marah jika tahu aku hanya pulang berdua bersama Beby, apalagi membawa banyak sekali belanjaan.


"Yasudah ayo masuk dulu, Lia cepat bereskan kopermu itu lalu buatkan minum, mau dingin atau panas mas?" Ibu menggiring kami masuk ke dalam rumah lalu duduk di ruang tamu.


Aku segera meletakkan koper-koperku kedalam kamar lalu membuatkan ibu dan Beby minuman hangat. Aku mengintip sejenak ingin tahu apakah ibu dan Beby hanya terdiam canggung, tapi ternyata mereka banyak mengobrol juga.


"Lagi pada ngobrolin apa nih?" Ucapku seraya membawakan minum dan meletakkannya di meja ruang tamu.


"Lagi bahas obat herbal, ternyata ayahnya Anita banyak tahu juga soal obat-obatan tanaman herbal." Aku melirik ke arah Beby dan ia sedang mengerlingkan matanya padaku. Kebetulan perusahaan yang Beby jalankan memang berkecimpung di dunia obat-obatan herbal.


Kami pun akhirnya mengobrol bersama dan membehas soal penyakit stroke yang ibu derita serta beberapa alternatif pengobatannya. Ibu nampak antusias ingin mendengarkan dan sesekali Beby pun memberikan lelucon yang berhasil membuat aku dan ibu terkekeh. Aku tidak menyangka kini kami bisa duduk bertiga dan mengobrol sedekat sekarang. Memang, kalau tidak di coba siapa yang tahu akan berhasil atau tidak.


Kini hanya aku berdua bersama ibu di dalam rumah. Rasanya baru saja ada kehangatan perbincangan yang sudah lama hilang dari rumah ini. Entah mengapa, tapi Beby berhasil membuat rumah ini kembali terasa seperti ketika ada ayah.


"Lia, duduk sini dulu, ibu mau bicara." Hatiku cemas sekali saat ibu mengatakan itu. Aku lalu duduk di samping ibu dan tidak jadi mengangkat cangkir yang sudah kosong.


"Iya bu, mau bicara apa?" Aku tak berani menatap mata ibu meski duduk di sampingnya.


"Langsung saja ya... Ibu mau tahu apa Lia punya perasaan khusus sama ayahnya Anita?" Ibu membelai rambut panjangku.

__ADS_1


"Uhuk... Mh... Kok tiba-tiba ibu tanya soal itu?" Tiba-tiba tenggoroku tercekat dan kering.


"Ibu sebenarnya tahu, ibu bisa tebak dari matamu, dari caramu bicara padanya, dari caramu bersikap di depannya, dan masih banyak lagi." Ibu bicara dengan nada yang sangat lemah lembut, hatiku jadi sedikit lebih tenang.


"Gimana ya bu, Lia mau jujur tapi ibu jangan marah ya." Aku lalu menggenggam tangan ibu dengan kedua tanganku.


"Ngga Lia, ibu ngga akan marah." Ibu tersenyum padaku, aku lega sekali rasanya Tuhan berkehendak pada hubunganku dengan Beby.


Aku lalu mengatakan semuanya pada ibu, aku katakan kalau aku memang memiliki perasaan cinta pada Beby yang adalah ayahnya Anita. Dan aku pun mengatakan jika Beby juga memiliki perasaan yang sama denganku, tetapi cinta kami terhalang restu dari Anita beserta keluarganya dan kami pikir juga terhalang restu dari ibu.


"Darimana kalian tahu kalau terhalang restu? Apa kalian sudah pernah bilang sama Anita dan keluarganya itu?" Tanya ibu mengernyitkan dahinya.


"Belum sih bu, tapi dari dugaanku dan mas Robby begitu." Duh, kaku sekali menyebut nama 'mas Robby' yang sebetulnya memang nama asli Beby. Tapi aku tak punya keberanian yang cukup untuk memanggilnya dengan sebutan 'Beby' di depan ibu.


"Masa menyerah sebelum berjuang sih?! Seharusnya dibicarakan dulu. Seperti sekarang ini, kamu akhirnya mau cerita sama ibu dan ibu ngga marah kan?" Ibu meyakinkanku.


"Iya sih bu... Tapi kami sadar diri bu, kami paham hubungan kami punya rintangan seperti apa, khususnya di mata masyarakat." Ucapku sembari menundukkan kepala sebab aku jadi malu juga pada ibu.


"Jadi masalah sebetulnya dari tanggapan masyarakat atau Anita dan keluarganya?" Aku hanya terdiam tak menjawab pertanyaan ibu barusan. Sebab tanggapan siapa pun rasanya akan sama saja, tetap memandang hubungan kami sebelah mata.


"Ibu rasa semua masalahnya bukan dari tanggapan siapa, tapi dari pikiran kalian sendiri. Kalian saja yang tidak mau bicara terus terang. Memang awalnya ibu juga merasa canggung dengan kalian yang sering bersama, malah ibu sempat termakan omongan tetangga lho. Tapi, setelah ibu pikir lagi sepertinya ngga masalah anak ibu berpasangan dengan siapa, kan yang terpenting laki-laki itu baik. Dan yang paling penting, kalian masih sama-sama single, dia bukan suami orang dan kamu bukan istri orang." Rasanya hatiku anjlok! Antara senang dan terharu mendengar ibu bilang seperti itu barusan. Tak terasa air mataku menetes, aku peluk ibu. Berkali kali aku ucapkan terima kasih dan mohon maaf karena selama ini sudah salah menyembunyikan hubunganku dengan Beby.


"Tapi Lia, nasibnya Rendy bagaimana? Ibu kira kalian pacaran lho, tapi kok sekarang kamu ngaku punya perasaan sama mas Robby."

__ADS_1


Aku baru ingat dengan Rendy, meskipun kami tidak pacaran tapi hubungan kami juga sudah jauh. Aku bahkan merasa bersalah sekarang karena sudah mengaku pada ibu soal hubunganku dengan Beby. Terus terang aku jadi tidak enak dengan Rendy karena seperti sudah mempermainkan perasaannya. Tapi kemarin-kemarin aku betulan punya perasaan suka padanya, terlebih lagi terlintas sejenak saat kami melakukan hubungan terlarang itu di rumah ini berkali kali.


"Lia sama Rendy juga punya perasaan bu, tapi belum sekuat perasaan Lia ke mas Robby." Aku takut-takut bicara pada ibu, sebab bagaimana pun aku juga salah membiarkan hati ini terbuka bagi keduanya.


__ADS_2