Kekasihku Ayah Sahabatku

Kekasihku Ayah Sahabatku
BAB 16: Santapan Makan Malam


__ADS_3

Beby menciumi bahuku dari belakang, ia kemudian menyingkap gaunku. Ia dengan mudah melakukan penyatuan tubuh kami. Aku memasrahkan tubuhku padanya, ia dengan cepat menguasaiku.


Suara di dalam toilet begitu sunyi hingga aku dapat mendengar deru nafasnya dan juga nafasku, ia menyerukan namaku beberapa kali yang menambah semangat kami untuk bercinta di dalam toilet ini. Ia terus menggerakkan panggulnya hingga kami melakukan 'gol' bersama.


Astaga, ia mengeluarkannya di dalam! Matilah aku, setelah ini aku pasti akan hamil, bagaimana ini?!


"Beb, kenapa di dalam?!" Ucapku panik.


"Maaf, aku kelepasan. Aku benar-benar minta maaf." Ucapnya saat mengatur nafas seraya merapihkan pakaian.


"Lalu bagaimana kalau aku hamil nanti?" Ucapku sambil merapihkan penampilanku seperti semula lagi.


"Tenang aja, baru sekali kok, aku yakin ngga akan sampai hamil." Ucapnya dengan santai berusaha menenangkan aku.


"Kalau ternyata aku hamil bagaimana?" Ucapku dengan nada sedikit tinggi.


"Tenang saja, aku akan tanggung jawab. Kamu jangan panik." Dia lalu memelukku untuk menenangkanku.


"Bagaimana aku bisa percaya, kalau kemarin aja kamu menghilang setelah kita melakukannya." Ucapku lagi dan melepaskan pelukannya.


"Jangan khawatir, aku ngga akan ulangi lagi. Sekarang kita harus segera kembali ke meja." Ia berjalan ke arah pintu dan hendak membukanya.


Aku menarik lengannya, aku menatap matanya untuk melihat adakah keseriusan disana. Ia pun kembali menciumku, aku berontak untuk melepaskan diriku darinya.


"Kenapa? Kamu ngga percaya sama aku?" Tanyanya padaku.


"Jelas aku ngga percaya, kamu ngga pernah buktiin ke aku kalau kamu betul-betul cinta sama aku. Atau aku cuma pelampiasan hasratmu?"

__ADS_1


"Sekarang belum saatnya untuk ungkap hubungan kita, Lia. Ayolah, Lia, cobalah mengerti posisi kita ngga mudah." Ia memohon padaku dengan wajah memelas dan aku jadi tak tega.


"Kita belum selesai bahas Rendy dan kamu belum kasih tahu aku kenapa kamu menghilang seminggu ini? Setelah kita ketemu di apartemen. Setelah kita melakukannya, kamu mau pergi gitu aja." Ucapku padanya.


"Nanti kita bahas lagi, aku janji akan angkat telepon darimu dan janji akan ketemu sama kamu. Sekarang aku intip dulu keluar, kalau aman kamu susul ya." Beby segera membuka pintu toilet yang masih dijaga oleh office boy. Beby lalu memberiku kode bahwa aman untukku keluar toilet.


Beby berjalan di depanku, sementara aku menunggu cukup lama untuk berjalan lagi menuju meja kami, aku tidak mau mereka menduga macam-macam.


"Ke toiletnya lama, kamu habis buang air besar?" Bisik Rendy padaku saat aku sudah duduk di sebelahnya. Aku melihat ke arah Beby sebelum menjawabnya.


"Pengen tahu banget?" Bisikku sedikit sinis.


Kami semua makan dengan tenang, sesekali Anita melemparkan pertanyaan sarkas untukku dan saat ini aku yakin Anita sudah mulai curiga padaku dan ayahnya. Setelah selesai makan malam kami semua berpamitan pulang, kami berpisah lalu pulang ke rumah masing-masing.


Selama perjalanan ibu nampak bahagia, beda sekali dari biasanya. Ia nampak senang apalagi kalau Rendy menunjukkan sikap mesranya padaku. Tapi maaf bu, aku dan Rendy hanya pura-pura, aku bahkan sudah berbuat keji dibelakangmu, bu. Malam ini aku menjadi santapan makan malam Beby.


"Kenapa melamun? Bukannya seneng lagi ulang tahun." Ucap Rendy memecah lamunanku.


"Ngga apa-apa, cuma capek aja, pengen buru-buru sampai rumah terus ganti kaos oblong. Hehehe..."


"Wah sama, nih jas aja udah aku lepas, ngga bisa pakai jas lama-lama, gerah." Aku perhatikan Rendy nampak sexy juga dengan kemeja putih yang kancing bagian atasnya terbuka begini.


"Kenapa lihat-lihat? Ih kamu lihat-lihat dadaku, bu Lia mesum nih bu." Rendy jahil lagi, dan ibu selalu dibuat tersenyum lebar olehnya.


Akhirnya kami sampai di depan rumahku, ibu turun dari mobil lebih dulu karena ada yang ingin Rendy bicarakan denganku.


"Kenapa? Mau nasehatin aku lagi? Aku lagi males dengernya, Ren." Ucapku pada Rendy sebelum ia mengatakan apa-apa padaku.

__ADS_1


"Kamu ngapain tadi sama si om? Ke toilet lama banget." Mulai deh si Rendy menginterogasi aku.


"Emangnya dia ke toilet juga? Aku ngga tahu." Jawabku berbohong.


"Dia ke toilet sampe nyuruh OB buat jaga pintu toilet, kalian ngomongin apa sih? Yang aku denger kok beda ya, bukan suara orang ngobrol."


Deg! Jadi Rendy melihatku dan Beby masuk ke dalam toilet bersama?! Apa suara kami terdengar sampai keluar toilet? Kalau bukan hanya Rendy yang dengar, bagaimana ini?!


"Emang kedengaran sampei luar?" Tanyaku panik.


"Banget, emang kamu ngga tahu?" Ucapnya cuek.


"Kedengarannya gimana?" Gawat! Aku malu banget kalau Rendy beneran denger suara adegan dalam toilet tadi.


"Duuuttt... Brot! Brot! Lega banget tuh kalau suaranya udah kenceng gitu." Ia menjawab dengan sangat serius.


"Brengsek! Ngga lucu! Itu sih suara orang buang air. Udah ah aku turun, makasih ya udah nganterin." Emosi banget emang nanggepin jahilnya si Rendy ini.


"Hahaha... Maaf aku bercanda. Tapi serius, aku tahu kamu di dalem toilet sama si om."


Perkataan Rendy barusan bikin aku berhenti saat akan turun dari mobil. Aku menoleh padanya, dan melihat ia sedang menatap mataku dalam-dalam.


"Aku tahu apa yang kamu lakukan bersamanya, Lia. Kamu tahu, kamu cuma jadi 'santapan' makan malamnya. Sepanjang acara makan malam tadi dia sama sekali tidak membela kamu, bahkan dia tidak berkutik di depan Anita." Mata Rendy seakan ikut bertanya padaku 'mengapa aku melakukannya lagi?'


"Jaga mulutmu Rendy, sebelumnya aku berterima kasih banget kamu udah mau bantu aku. Tapi aku mohon untuk jaga ucapanmu, jangan berasumsi macam-macam dan sebaiknya juga jaga jarak denganku, kita sudah berakting terlalu jauh. Aku pamit ya, aku capek. Terima kasih untuk malam ini."


Aku turun dari mobilnya, dan mobil itu pun langsung melesat maju tidak seperti biasanya. Aku tahu Rendy pasti sedang kesal dan marah. Tapi aku benar-benar tidak bisa menjelaskan padanya mengapa aku melakukannya lagi, padahal aku sadar dan ingat kalau hal itu akan melukai ibu.

__ADS_1


__ADS_2