Kekasihku Ayah Sahabatku

Kekasihku Ayah Sahabatku
BAB 38: Menanti Kepastian


__ADS_3

Aku senang sekali karena akhirnya kembali ke rumah setelah hampir seminggu dirawat di rumah sakit. Aku benar-benar sudah ingin sekali segera bicara dengan Beby mengenai masalah putri semata wayangnya itu. Semenjak dirawat di rumah sakit, aku jadi kesulitan mendapatkan waktu yang tepat untuk bicara panjang lebar dengan Beby, sebab Anita selalu mengambil kesempatan dalam setiap waktuku bersama dengan Beby di kamar rawat.


"Lia, maaf kemarin aku kewalahan mengurus resto, tapi sekarang sudah aku dapatkan lagi staff pengganti ibu." Suara Rendy memecah lamunanku.


"Hm... Apa?" Aku tidak begitu fokus mendengar perkataan Rendy.


"Kamu kenapa? Dari tadi ngelamun terus, aku cerita panjang lebar, tapi kamu ngga dengar." Rendy nampak kecewa, sambil terus melajukan mobilnya mengantarku pulang ke rumah.


"Maaf Ren, aku baru sembuh, jadi masih belum fokus." Aku memberi alasan palsu.

__ADS_1


"Kamu kepikiran apa sih? Kepikiran pacar kamu si om itu? Lia, dia udah mau nikah. Anita cerita sama aku kalau ia dan mamahnya berencana akan mempercepat acara pertunangan." Aku tahu Rendy pasti senang mendengar berita itu dari Anita, dan aku juga tidak begitu terkejut mendengarnya.


"Tapi Beby belum bilang 'iya' kok. Dan rencana pertunangan, pernikahan, atau pun rencana perjodohan konyol itu belum dapat persetujuan pasti dari Beby." Aku meyakini hal itu.


"Lia, kamu yakin dengan pacarmu itu? Aku lihat dia tidak sama sekali ada sikap penolakan terhadap rencana putrinya itu." Rendy memang benar, aku pun merasa begitu.


"Lalu aku harus apa Ren? Apa aku harus minta dinikahi oleh Beby secepatnya?" Aku menjadi gusar sendiri.


Aku sendiri sebetulnya juga masih belum yakin dengan perasaanku pada Rendy. Akhir-akhir ini aku sedang terobsesi dengan Beby, aku lebih tertarik dengan apa yang akan Anita dan mamahnya lakukan dari pada dengan kehidupan percintaanku sendiri.

__ADS_1


"Jadi, kapan kamu akan bicara dengan pacarmu itu? Aku harap, aku lah yang akhirnya menikahi kamu, Lia." Rendy menatap mataku seakan menunggu jawaban, tapi aku putuskan untuk diam saja sebab aku belum punya jawaban yang meyakinkan untuk kami. Aku belum sepenuhnya rela melepaskan Beby, sebab bagiku Beby adalah pria yang pertama kali merenggut 'mahkota'ku, ia juga pria yang pertama kali mengenalkanku pada cinta, mungkin ini juga yang dirasakan Anita hingga ia sangat sulit lepas dari jeratan cinta palsu Benjo.


"Lia, sebelum kamu turun aku mau kamu jawab aku, kalau pacarmu tidak bersedia menikahimu, apa aku boleh maju dan menikahimu?" Rendy menggenggam tanganku, dia benar-benar minta jawaban itu sekarang.


"Ren, aku butuh waktu untuk menjawab pertanyaan kamu itu. Menikah bukan hal sepele, dan pernikahan bukan permainan yang seolah kalau aku tidak jadi dengannya aku masih punya kamu." Rendy melepaskan genggaman tangannya saat mendengar jawabanku.


Tapi dengan secepat kilat ia menarik leherku dan mencium bibirku dengan sangat bergairah. Aku sempat menolak sebab aku sangat terkejut dengan sikapnya yang tiba-tiba itu, tapi lambat laun aku pun membalas ciuman itu, aku pun membiarkan tangannya menyentuh tubuhku. Ia membelai wajahku, menyingkap rambut panjangku ,hingga ia menyentuh dan meremas dadaku, namun langsung kuhentikan sebab kini kami berada di depan rumahku.


"Maaf Lia, aku ngga bisa tahan rasa ini. Aku kangen sama kamu, aku juga ngga sabar ingin memilikimu. Aku hampir lelah menunggu kamu, Lia. Tapi aku ngga akan menyerah sampai kamu benar-benar putar balik ke arahku." Rendy nampak sendu seakan putus harapan, memang salahku juga yang selama ini sering mengabaikan perasaannya, padahal aku pun nyaman berada di dekatnya dan dia adalah pria yang selalu ada saat aku membutuhkannya.

__ADS_1


"Maafin aku juga Ren, aku sadar aku salah. Tapi jujur, sampai saat ini hatiku masih lebih banyak kuberikan untuk Beby. Ada banyak alasan yang tidak bisa aku jelaskan, tapi aku ingin mencoba sampai akhirnya aku memilih untuk menyerah." Aku lalu turun dari mobilnya, mengambil barang-barangku kemudian masuk rumah dan berpamitan padanya. Ia pun langsung melajukan mobilnya tanpa turun dan menyapa ibu, tidak seperti biasanya.


Entah apa yang terjadi dengannya, dan entah apa karena terlalu lama menunggu kepastian dariku, Rendy nampak berbeda dan tidak se-semangat dulu denganku. Sekarang, langkah yang harus kulakukan adalah meminta kepastian dari Beby, apakah dia menerima dan bersedia mewujudkan keinginan putrinya itu untuk menikah dengan tante Ira atau ia ingin mewujudkan keinginanku dan menikah denganku.


__ADS_2