
"Yah, ini lho Rendy pacarnya Lia. Gimana menurut ayah, cocok kan?" Anita mengenalkan Rendy pada ayahnya, yang disambut dingin oleh ayahnya.
"Hai om, Anita, thank you ya udah ngundang aku makan malam." Ucap Rendy yang nampak ceria.
"Kurasa kau ngga perlu panggil aku om, mungkin kau bisa panggil aku dengan sebutan lain." Ucap Beby dingin.
"Ren, sini duduk." Aku mengajak Rendy untuk duduk di bangku kosong sebelahku, daripada mereka harus berdebat, lebih baik aku segera memisahkan mereka.
"Lia, maaf aku ngga bilang kalau teman-teman ngga bisa hadir karena mereka akan datang ke konser, tiketnya sudah dibeli jadi mereka harus datang." Anita pasti berbohong padaku, ini semua adalah bagian dari rencananya.
"Iya ngga apa-apa, Nit." Jawabku dengan senyum palsu, padahal hati ini rasanya ingin marah padanya.
"Ren, kita lagi mau pesan makanan, kamu mau pesan apa?" Tanya Anita pada Rendy.
"Aku pesan iga bakar aja, disini iga bakarnya enak." Oh, Rendy memang betul-betul pernah ke tempat ini rupanya.
"Kamu sering ke sini? Kok tahu iga bakar disini enak?" Tanya ibu pada Rendy.
"Hm... Ya buat cari-cari referensi aja sih bu." Jawabnya dengan sedikit ragu.
Anita dan ibu lalu memesankan kami semua makanan, setelah itu bercengkrama sedikit membahas pekerjaan baru ibu sampai semua makanan disajikan di meja.
"Oh iya, Rendy, kamu kasih Lia kado apa? Penasaran nih..." Ucap Anita yang tentunya dengan sengaja ingin memancing emosiku.
Beby melihat ke arahku lalu melihat Rendy dengan tatapan masam, aku tahu Beby pasti marah karena aku belum jelaskan padanya kalau aku dan Rendy hanya pura-pura.
"Apa ya? Anita mau lihat? Oke, sebentar." Rendy terlihat merogoh kantong dalam jasnya.
__ADS_1
Aku cemas sekali takut-takut kalau Rendy akan memberiku sesuatu yang aneh dan tidak aku sukai, secara dia itu kan jahil sekali padaku. Tapi rupanya dia mengeluarkan sebuah kotak silver.
"Lia, aku juga belum bilang selamat ulang tahun sama kamu, semoga kita langgeng ya sayang, ini kado untukmu." Sial! Rendy dengan sengaja mengatakan itu di depan Beby sambil tersenyum dan mengedipkan sebelah matanya, dasar jahil.
Aku pun menerima kotak itu lalu membukanya. Semua mata sedang memperhatikan isi kotaknya. Kalung?! Rendy memberiku kalung emas putih dengan liontin permata biru.
"Kalung? Wah, romantis banget. Pakaikan dong sekarang. Pakai, pakai, pakai..." Anita terlihat benar-benar bahagia karena Rendy brengsek ini seperti ikut mendukung rencananya.
"Aku pakaikan untukmu ya sayangku. Ibu, aku izin ya memakaikan kalung ini di leher anak gadismu." Ucap Rendy dengan gaya jahilnya seraya berdiri hendak memakaikan kalung itu dari arah belakangku.
Rendy sempat terdiam sejenak saat aku mengambil semua rambutku lalu ku angkat ke atas. Sementara di depanku, Beby sedang memberiku tatapan sinisnya.
"Ayo Ren, pegel nih tanganku." Ucapku padanya agar ia segera memasangkan kalung itu di leherku.
Ia pun memakaikannya di leher jenjangku, kalungnya bagus dan melengkapi penampilanku dengan sempurna. Permata birunya seperti satu set dengan cincin dari Beby.
"Hm... Iya, cantik ya seperti satu set." Ujar ibu menimpali.
"Selera ibu dan Rendy sama ya, cocok deh jadi calon menantunya ibu. Cincinnya dari ibu kan?" Anita menekankan kembali soal cincinnya. Beby menatapku dengan wajah datar, seolah dia tidak tahu apa-apa soal cincin ini. Dan aku sedang kebingungan menjawab Anita sambil melihat semua mata yang sedang menatapku menunggu jawaban apa yang keluar dari mulutku.
Brengsek Anita! Kalau bukan disini dan aku bukan siapa-siapa, pasti sudah ku jambak rambutmu! Kesal sekali dengan Anita, dia benar-benar sudah menyatakan perang denganku.
"Bukan, cincin itu bukan dari ibu, tapi nak Rendy yang belikan untuk Lia, jadi katanya waktu nak Rendy mau nyatakan cinta, dia kasih cincin itu ke Lia..." Dan selanjutanya ibu menceritakan pada Anita soal cerita karangan cincin itu dari Rendy.
Aku terselamatkan dari gencatan senjata Anita, tapi tidak dengan ancaman mata Beby. Beby terus melihatku dengan wajah yang tidak enak semenjak kedatangan Rendy.
Tapi aku pun bingung, bagaimana mau menjelaskan semuanya pada Beby kalau dia juga tidak bisa dihubungi. Lagi pula kenapa dia menghilang seminggu ini, semenjak pertandingan panas kita di apartemen, dia tiba-tiba menghilang begitu saja dan sangat sulit dihubungi. Aku merasa seperti dicampakkan, seperti dilupakan setelah manisnya habis.
__ADS_1
Kalau dia cemburu melihat aku dan Rendy di kampus tempo hari, mengapa ia tidak segera mencari tahu langsung dariku bagaimana keadaan sebenarnya. Aneh sekali, kenapa jadi aku yang merasa bersalah.
"Aku permisi ya mau ke toilet." Aku berdiri meminta izin semuanya untuk ke toilet.
"Aku juga permisi sebentar, ada telepon, takutnya penting." Handphone Beby berbunyi di waktu bersamaan dengan saat aku berdiri mau menuju ke toilet. Aku pun melangkahkan kaki menuju toilet yang letaknya cukup jauh dari meja kami, sementara Beby sedang mengangkat telepon entah dari siapa sambil berjalan di belakangku.
Tiba-tiba seseorang menarik lenganku, aku melihat tangan itu lalu menoleh ke belakang.
"Kamu. Ngapain ngikutin aku kesini?" Tanyaku heran campur cemas ketahuan yang lain.
"Kita harus bicara." Ucap 'Beby' padaku seraya menarik tanganku menuju toilet pria.
"Eh, ngapain ke situ aku ngga mau, itu toilet pria dan lagi pula kita ngga bisa bicara sekarang disini." Aku menolak dan sedikit berontak hendak melepaskan tanganku dari genggamannya.
'Beby' terlihat memanggil seorang office boy lalu memberinya sejumlah uang lalu berbisik padanya. Setelah itu ia menarikku masuk ke dalam toilet dan melemparkan tubuhku di depan wastafel yang kering.
"Apa-apaan kamu, siapa Rendy itu? Kamu pacaran sama dia?" Tanyanya langsung padaku dengan penuh emosi.
"Kita cuma pura-pura, dia ngga beneran pacaran sama aku. Aduh, kenapa disini sih bahasnya, nanti kalau ada orang masuk gimana?" Ucapku padanya dengan penuh rasa khawatir.
"Tenang aja, aku udah pastikan toilet ini kosong dan hanya akan ada kita, office boy tadi akan jaga dari luar."
"Iya, tapi..." 'Beby' membungkam mulutku dengan ciumannya. Ia benar-benar menciumku penuh gairah, ia mengesap bibirku, lidah kami bertemu, ciuman kami mengeluarkan suara yang begitu menggairahkan.
Ia mengangkat tubuhku sedikit lalu mendudukkan aku di pinggir wastafel, ia menyentuh dan membelai paha mulusku. Saat duduk saja ia masih lebih tinggi dariku, tak kalah tingginya dengan nafsunya, kini bagian inti tubuhnya sudah mengeras. Aku dapat merasakannya karena sangat menempel dengan tubuhku.
Kami melepaskan ciuman panas ini, lalu dengan sigap aku turun dari wastafel sementara Beby bergegas membuka ikat pinggang dan resleting celananya. Aku membelakanginya, adegan selanjutnya dapat kalian bayangkan.
__ADS_1