
"Sarah, aku minta maaf, aku menyesal sekali kamu sampai begitu sakit hati dan menyimpan dendam padaku." Keringat Robby menetes dari dahinya.
"Ngga perlu minta maaf karena aku sudah memaafkanmu dan Ira." Sarah menjawab tanpa ekspresi, namun air mata yang menggenang di dalam matanya seakan mau tumpah.
"Sarah, tapi aku sungguh ngga bermaksud untuk sakitin kamu, semua itu memang salahku, tapi aku pun di jebak waktu itu oleh Ira. Dia..." Robby nampak terbata-bata dan tertegun saat Sarah memotong ucapannya.
"Cukup. Sudah terlambat menjelaskan itu semua, aku ngga mau dengar apa-apa lagi soal itu. Aku memang masih sakit hati, aku masih dendam, tapi kalau dipikir lagi apa gunanya aku masih sakit hati dan dendam. Aku ngga mau anakmu dan Benjo menikah, bukan karena aku ingin balas dendam, tetapi aku hanya ngga mau kita menjadi keluarga. Cukup sampai disini kita saling mengenal, selanjutnya aku ngga mau lagi lihat kalian dan ngga mau berhubungan dengan kalian." Sarah mengusap air matanya yang akhirnya tumpah juga.
"Sarah... Aku mohon, Benjo harus bertanggung jawab atas perbuatannya." Robby berusaha membujuk Sarah agar Benjo mau bertanggung jawab terhadap anak yang kini sedang berada dalam kandungan Anita.
"Bukankah aku sudah pernah bilang pada anakmu, kalau ingin Benjo bertanggungjawab maka ia harus memiliki orang tua yang lengkap, kamu tahu kan siapa suamiku? Suamiku pejabat paling terpandang di negri ini, kalau sampai punya menantu yang orang tuanya tidak utuh, lantas apa kata masyarakat dan media? Lagi pula, kamu dan Ira akan menjadi sorotan nantinya, apa kamu siap?" Suara Sarah meninggi pada Robby.
__ADS_1
"Apa tidak bisa pernikahan itu disembunyikan saja? Yang penting anak yang dikandung Anita punya ayah." Robby berusaha keras membujuk Sarah yang masih keras kepala.
"Silakan pergi, aku akan mengirim utusan dari keluarga kami untuk mengurus keperluan Anita, dan akan kami sekolahkan anak itu sampai lulus." Sarah tetap bersikeras dan mengusir Robby dari rumahnya.
"Tidak perlu, aku bisa urus anak itu sendiri. Aku minta maaf jika dahulu aku pernah menyakiti kamu, tapi ketahuilah semua perbuatan yang anakmu lakukan pasti akan mendapatkan balasan yang setimpal dari Tuhan." Robby nampak sangat marah dan merasa harga dirinya terinjak-injak.
"Begitu pun denganmu dan Ira, aku pastikan kalian mendapatkan balasan setimpal." Sarah lalu pergi meninggalkan Robby di ruang tamu sendiri.
Ia kemudian menghubungi Lia, gadis pujaannya yang kini hilang tanpa kabar dan sangat sulit di hubungi. Entah apa yang harus ia lakukan untuk memperbaiki hubungannya dengan Lia dan juga putrinya, kini ia hanya ingin sekali bertemu dengan Lia.
"Supir, antar saya kerumah Lia, saya harus kesana. Kalian bisa kembali ke kantor setelah mengantarkan saya, nanti saya akan pulang sendiri." Robby lalu diantarkan oleh supirnya menuju rumah Lia, saat ini ia begitu ingin bertemu dengan Lia.
__ADS_1
"Pak, bagaimana kalau kita beri sedikit ancaman pada keluarga mereka?" Saran salah seorang staff tiba-tiba.
"Maksudnya? Dengan cara apa?" Tanya Robby.
"Kita beri sedikit ancaman, kalau mereka tidak segera menikahkan anak mereka, maka media akan tahu berita ini." Mendengar saran seorang staffnya Robby nampak hampir setuju, namun kemudian hal itu ia urungkan.
"Jangan, kalau pakai cara itu saya rasa mereka akan balik mengancam kita. Kamu tahu kan, saya juga punya relasi dengan banyak perusahaan besar, kalau berita ini menyebar luas di media, maka perusahaan saya juga akan terkena imbasnya." Robby menjelaskan pada staffnya.
"Baik pak, maaf saya tidak berpikir sampai sana."
"It's ok. Saya hargai saranmu, tapi saya tidak menutup kemungkinan lain, jika ada cara yang lebih baik segera kabari saya." Pembicaraan pun ditutup dan suasana dalam mobil begitu hening meski banyak orang didalamnya. Pikiran Robby melayang entah kemana memikirkan masa depan putrinya dan calon cucuknya.
__ADS_1