Kekasihku Ayah Sahabatku

Kekasihku Ayah Sahabatku
BAB 26: Kecemasanku


__ADS_3

Genap dua minggu sudah sejak aku dan Beby berdebat terakhir kali, aku sudah tidak lagi mengangkat telepon darinya, juga tidak menjawab chat darinya. Aku marah sekali karena ia memberikan alasan yang membuat harga diriku jatuh di hadapan Anita. Meskipun Anita tahu kalau aku dibesarkan oleh seorang ibu yang bekerja sendirian, tapi aku paling tidak bisa menerima belas kasih dari Anita. Entah mengapa ada perasaan kalau aku tidak boleh terlihat kesulitan di hadapan Anita.


Sejujurnya aku pun punya rasa iri padanya yang hidup bergelimang harta. Apa pun yang ia inginkan bisa segera ia dapatkan, segala hal selalu dibawah kendalinya. Meskipun tidak memiliki keluarga yang utuh, ayah dan mamahnya selalu bergantian mengajaknya berlibur, memberikan hadiah, serta memberikan segala hal yang akan membuat Anita bahagia.


Sementara aku harus menunggu ibu mengumpulkan uang kalau ada hal yang ingin aku beli. Untuk berlibur bersama ibu saja tidak bisa karena ibu harus bekerja. Maka itu aku selalu ikut Anita pergi berlibur agar aku juga punya pengalaman liburan ke tempat-tempat yang belum pernah aku kunjungi.


Semenjak aku dan ayahnya berhubungan, memang keadaan keluargaku membaik sebab Beby selalu memberikanku sejumlah uang serta selalu membelanjakan aku segala hal yang aku inginkan. Aku tidak lagi terlalu sering meminta uang pada ibu, meskipun ibu jadi sering memberikan aku wejangan untuk tidak menerima pemberian ayahnya Anita.


"Lia, kamu ngga kuliah lagi?" Tanya ibu padaku.


"Nanti Lia ke kampus bu, mau kumpulkan tugas-tugas." Meskipun merawat ibu di rumah, aku memang tidak pernah ketinggalan mengumpulkan tugas-tugas kuliahku, sebab aku selalu aktif menanyakan tugas serta pelajaran pada teman kelasku.


"Terus Lia jadi mau magang? Kalau menurut ibu sebaiknya kamu fokus kuliah saja, kan sebentar lagi kamu lulus." Ibu selalu khawatir kalau aku menelantarkan kuliahku.


"Jadi bu, tapi Lia belum tahu mau magang dimana, sekarang lagi cari-cari sih. Kalau ngga magang, nanti bagaimana cara kita bayar tagihan? Ngga enak kan bu, kalau terus-terusan di gaji tapi ibunya ngga kerja, nanti ada kecemburuan sosial." Aku pun sebetulnya bingung harus mulai dari mana, sebab aku sama sekali belum pernah betul-betul bekerja.


"Yasudah bu, Lia siap-siap dulu ya mau ke kampus." Aku pun beranjak dari kamar ibu


Tetapi kemudian rasa mual muncul dari dalam perutku. Aku ingin sekali mengeluarkan isi perutku. Aku pun berlari ke toilet lalu memuntahkan semuanya. Setelahnya aku pun duduk di meja makan, rasa mual itu masih ada, sejenak aku berpikir makanan apa yang membuatku sakit perut.


***Oh, tidak! Aku belum datang bulan****!* Keringat dingin mengucur dari dahiku. Jantungku berdegup kencang, aku panik sekali dan tidak tahu harus berbuat apa.


Aku melihat kalender di meja, ternyata sudah lewat satu minggu aku tidak datang bulan. Apakah aku hamil? Atau kali ini sama seperti sebelumnya, aku memang sakit bukan hamil. Kepanikanku mulai mereda karena mengingat aku pun pernah begitu panik, tapi ternyata aku betulan sakit dan bukan hamil.


Aku segera menghubungi Beby, entah bagaimana tapi Beby adalah satu-satunya orang yang menurutku harus ku beri tahu lebih dulu.


"Beb, halo!!" Kepanikanku muncul kembali.


"Akhirnya kamu hubungin aku juga. Kamu kenapa? Aku kangen banget sama kamu." Sahut Beby dari seberang telepon.

__ADS_1


"Beby, kamu dimana? Kita harus ketemu sekarang juga, penting." Ucapku terburu-buru.


"Oke aku jemput kamu di rumah sekarang." Beby lalu menutup teleponnya.


"Beby itu siapa Lia?" Tiba-tiba suara ibu terdengar dari belakangku.


Aku menoleh ke arah suara itu, dan ibu sudah berdiri tepat di belakangku. Astaga, apalagi ini?! Aku harus jawab apa?


"Lia ngga cerita sama ibu, Lia punya pacar? Tadi ibu dengar Lia panggil Beby. Tapi suaranya bukan suara Rendy." Ibu bertanya sambil tersenyum-senyum.


"Oh itu, temen bu. Temen Lia itu tadi telepon." Aku menjawab dengan terbata-bata.


"Masa sih? Ibu dengar jelas sekali lho." Ibu masih menyelidiki.


"Bu, Lia siap-siap dulu mau ke kampus ya. Ibu istirahat ya." Aku pun meninggalkan ibu dan bergegas masuk kamar.


Aku terduduk lemas, khawatir sekali ibu tahu kalau yang ku panggil Beby adalah ayahnya Anita. Aku takut ibu kaget lalu jatuh sakit lagi. Aku pun bersiap untuk bertemu Beby setelah berhasil menenangkan diri sejenak.


"Aduh, itu pasti Beby. Tadi ibu pasti dengar juga kalau Beby mau jemput ke rumah." Aku bicara sendiri.


"Lia, sepertinya itu ayahnya Anita." Teriak ibu dari depan.


"Ss.. sebentar bu.. Lia keluar." Jantungku berdegup kencang sekali, aku sangat cemas tetapi aku tetap keluar menemui ibu.


"Ada mobilnya ayahnya Anita, apa Anita ada di dalam mobil? Kenapa ngga di ajak masuk dilu, Lia?" Wajah ibu nampak bingung.


"Anita lagi buru-buru bu, Lia juga buru-buru, Lia berangkat ya bu. Ibu jaga diri di rumah ya." Aku bergegas meninggalkan ibu yang masih nampak bingung lalu masuk ke dalam mobil Beby.


"Ffiuuhhh... Hampir aja..." Ucapku lega.

__ADS_1


"Kenapa? Ibu tanya-tanya ya?" Sambil terus menyetir mobil Beby bertanya padaku.


"Iya, ibu tanya ada Anita ngga di dalam mobil, aku jawab aja Anita buru-buru." Ceritaku pada Beby.


"Terus kita mau kemana sekarang? Kamu mau bicara penting apa? Kamu tahu ngga berhari-hari aku nunggu chat dan telepon dari kamu." Wajahnya nampak gusar.


"Sebenernya aku mau ke kampus, tapi nanti kita mampir aja di pinggir jalan sebentar. Aku masih sebel sama kamu, aku ngga suka dengan alasan yang kamu beri ke Anita kemarin." Hatiku rasanya kesal lagi ingat kejadian tempo hari.


"Iya tapi jangan kaya anak kecil dong, kalau ada masalah itu dibicarakan, jangan menghindar." Apa aku ngga salah dengar? Dia saja pernah melakukannya!


"Aku malas berdebat yang jelas sampai sekarang sebetulnya aku masih kesal." Mataku terus menatap lurus ke depan jalan.


"Terus mau bicara penting apa?"


"Aku telat datang bulan." Mendadak Beby menginjak rem mobil yang ia kendarai.


"Kenapa?!" Tanyaku panik.


"Maksud kamu telat datang bulan itu gimana?" Wajahnya nampak bingung, lalu ia menyetir kembali memarkirkan mobil di pinggir jalan.


"Ya artinya aku belum haid." Jawabku emosi, bisa-bisanya dia rem mendadak mobilnya.


"Terus kamu udah periksa?" Tanyanya dengan gerakan tubuh yang gelisah.


"Periksa apa?" Tanyaku bingung.


"Periksa kenapa kamu belum datang bulan." Nada bicaranya menjadi sedikit lebih tinggi.


"Belum." Aku pun masih bingung kenapa aku belum datang bulan.

__ADS_1


"Terus kenapa kamu bilang sekarang?" Beby berteriak cukup keras sampai aku terkejut.


Aku heran sekali ada apa dengannya, sikapnya berubah 180 derajat. Aku tidak mengenali Beby yang sekarang, ada apa dengannya?


__ADS_2