
Aku datang ke restauran yang masih sepi, namun kulihat folding gate atau pintu lipat yang dibuka tutup secara horizontal itu nampak sedikit terbuka.
"Pagi, permisi!!" Aku berteriak agar suaraku terdengar ke dalam.
Tak lama muncul Rendy dari dalam pintu. Lama tak melihatnya, kini bertemu dengannya lagi membuat jantungku berdegup kencang tiba-tiba. Apalagi penampilannya kali ini nampak berbeda, ia mengenakan celana jeans biru dan kemeja biru muda dengan lengan panjang yang tersingkap sampai batas siku dan kancing bagian atasnya terbuka. Rambutnya dicukur dengan cukuran yang berbeda, ia nampak lebih dewasa dan menarik.
"Pagi Lia cantik. Akhirnya resto ini punya bidadari juga, semoga pelanggan semakin bertambah banyak karena ingin melihat bidadari di resto ini." Lagi-lagi gombalan dan bercanda khas Rendy terlontar dari mulutnya. Baru saja aku ingin mengaguminya, drastis langsung hilang kekaguman ini saat mendengar gombalannya barusan.
"Pagi Pak Rendy. Saya karyawan baru di resto ini. Boleh saya masuk?" Aku ingin segera melihat medan kerjaku.
"Tentu boleh, mari saya antarkan ke dalam." Rendy nampak tersenyum lebar.
"Ibu sudah kasih tahu aku apa saja yang harus aku kerjakan, ada tambahan ngga dari kamu?" Tiba-tiba Rendy memelukku dari belakang, aku ingin berontak namun entah mengapa pelukan itu terasa hangat dan membuatku tak dapat berbuat apa-apa.
"Aku kangen kamu Lia. Aku minta maaf soal tempo hari yang memaksa kamu menerima lamaranku. Tapi jujur, aku kangen banget mau peluk kamu lagi. Aku tahu kamu belum punya perasaan apapun sama aku, tapi aku yakin suatu hari nanti kamu pasti bisa cinta sama aku." Kata-kata Rendy ditelingaku begitu tulus, aku jadi teringat segala kebaikan yang ia berikan padaku. Mengapa aku begitu teganya mengabaikan dirinya yang terang-terangan menunjukkan rasa cintanya padaku.
"Ren, maafin aku ya, aku memang belum bisa balas kebaikan kamu tapi aku ngga bermaksud jahat buat mengabaikan perasaan kamu." Aku lalu melepaskan pelukannya dan berbalik menghadapnya.
"Lia, kamu ngga pernah jahat sama aku. Aku sadar aku terlalu ngejar kamu, aku ngga kasih kamu kesempatan buat mengenal perasaanku dulu. Apalagi aku deketin kamu saat kamu sudah punya pacar." Rendy tertunduk dan hanya menggenggam erat kedua lenganku.
"Rendy, aku bisa mulai belajar mencintai kamu, muali sekarang." Aku tiba-tiba melontarkan kalimat itu tanpa kupikirkan sebelumnya.
"Beneran Lia?" Rendy nampak senang sekali mendengarnya. Aku hanya menjawabnya dengan anggukan kepala dan senyuman.
__ADS_1
Ia lalu memelukku lagi dengan sangat erat hampir buat dadaku sesak. Sejenak ia memandangku lalu mengecup keningku.
"Eh ini kan tempat kerja, masa baru mulai kerja aku jadi bahan gosipan sih. Ngga enak ah." Aku lalu melepaskan pelukannya.
"Loh, ngga apa-apa dong, aku aku bosnya. Kalau ada yang gosipin kamu, biar aku potong gajinya." Kami lalu tertawa bersama.
Ia lalu menjelaskan banyak hal terkait pekerjaanya padaku, banyak hal yang masih belum ku mengerti tapi aku yakin bisa mempelajarinya sembari bekerja.
"Jadi resto kita buka pukul 9 pagi sampai maksimal pukul 11 malam. Biasanya kita akan close order kalau di jam 10 malam sudah banyak orderan. Tapi kamu tahu lah, kalau resto ngga selalu ramai, jadi kalau jam 10 malam masih sepi biasanya kita akan terus open order." Rendy menjelaskan padaku.
"Oke paham." Aku mencatat semua yang ia jelaskan padaku
"Pekerjaan kamu ngga begitu sukit, kamu hanya perlu mengawasi mereka bekerja sambil sesekali membantu kalau semua karyawan mulai keteteran. Biasanya weekend itu banyak sekali pengunjung jadi kita semua keteteran." Rendy nampak berwibawa sekali saat menjelaskan, aku jadi senyum-senyum sendiri.
"Ohya, aku butuh catatan selama jam kerja kamu, apa saja yang terjadi hari itu dengan resto, bagaimana servis dari pegawai dan bagaimana pengunjungnya. Tolong tulis di lembar laporan, kamu cukup ceklis saja. Kalau tidak ada di dalam template kamu bisa tulis di kolom kosong ini." Rendy nampak begitu manis dan lembut saat menjelaskan segalanya padaku. Aku jadi senyum-senyum terus dari awal ia memberikan arahannya padaku.
"Ngomong-ngomong kenapa ya dari tadi kamu senyum-senyum terus? Ada yang lucu kah dari aku? Atau kamu terkesima melihat ketampananku? Yah kalau itu sih dari dulu juga pegawai dan pengunjung banyak yang bilang sih." Rendy mulai lagi dengan style ke-PD-an nya memuji dirinya sendiri.
"Duh, males deh dengernya. Kamu masih aja ngga berubah, masih dengan style percaya diri tinggi ya." Aku lalu berlalu melewatinya.
"Eh Lia, ruangan kamu disini, ngapain kesana." Ia lalu menarikku masuk ke dalam ruangan kerja. Ia lalu menutup pintunya dan menutup rapat tirai jendelanya.
"Eh Ren, apa-apaan nih? Kenapa ditutup rapat semua?" Aku sedikit panik takut ada pegawai lain yang melihat.
__ADS_1
"Ini ruangan kerja kita, sayang. Meja aku disini, dan meja kamu disitu." Rendy menunjuk meja kerjaku dan meja kerjanya sambil terus menahanku yang setengah terduduk di meja kerjanya.
"Iya, tapi ngga harus tutup rapat semua dong apa kata yang lain nanti?" Aku lalu mendorongnya, tapi tiba-tiba ia mencium bibirku.
Aku berusaha melawannya, aku memberontak dengan mendorongnya dan hendak berteriak. Namun apa daya tenaganya lebih kuat dariku, dan aku pun terlena dalam ciuman panas itu. Ia terus ******* bibirku, memainkan lidahnya di dalam mulutku, sesekali ia menyesap lidahku.
Tangannya terus memelukku seraya meraba punggung dan pinggangku. Aku pun tak kuasa menahan gejolak ini, birahiku memuncak. Aku balas menciumnya lebih panas dan menjambak rambutnya untuk menunjukkan gejolakku.
Tanpa kusadari aku membuka kancing kemejanya satu persatu, sementara ia masih menciumku dengan gayanya yang khas. Secara tiba-tiba ia lalu mendudukkan aku di meja kerjanya, kemudian ia menyingkap rokku dan menarik lepas pakaian dalamku.
Aku tahu yang selanjutnya akan terjadi, namun aku tak menghentikannya. Entah mengapa, hal ini lah yang kini sangat kuinginkan. Ia mulai melesakkan miliknya pada milikku, terasa begitu serat namun beberapa kali ia coba mendobrak pertahanan itu dan kemudian dengan mudah memasukinya.
"Akh..." Aku sedikit merasa perih namun semua itu kemudian tergantikan dengan nikmatnya permainan Rendy.
Suasana di kantor begitu memacu adrenalin kami, beberapa kali aku mengeluarkan suara namun ia dengan sigap membungkamku. Kali ini ia menurunkanku dari meja kemudian ia duduk di kursi kerjanya, sementara aku dengan sigap duduk diatas pangkuannya membelakanginya dan menaik turunkan pinggulku.
Ia meremas gundukan gunung dari balik kaosku, lalu tanpa butuh waktu lama akhirnya kami mencapai puncak kenikmatan bersama.
Astaga, aku baru saja tersadar dari perbuatanku ini. Padahal ini hari pertamaku bekerja, tapi aku sudah mengotorinya
"Maaf Lia." Rendy membereskan meja serta pakaiannya, begitu pun aku. Aku gugup sekali takut ada pegawai lain yang tahu.
"Cepat buka tirai jendelanya, lalu buka pintunya sebentar lagi pasti ada yang datang." Aku memerintahkan Rendy, benar saja tak lama kemudian nampak seorang pegawai hadir.
__ADS_1
Rendy lalu memperkenalkan aku pada pegawai itu, dapat kulihat dengan jelas keringat masih menetes dari dahinya. Aku pun masih dapat merasakan debaran jantungku yang begitu cepet setelah yang kami lakukan tadi.