Kekasihku Ayah Sahabatku

Kekasihku Ayah Sahabatku
BAB 50: Desakan Ibu


__ADS_3

Tiga hari sudah Ibu dirawat namun kondisi Ibu masih belum membaik, tapi aku bersyukur karena sekarang ibu sudah sadarkan diri. Meskipun ibu belum bisa banyak bergerak seperti sewaktu ia terserang stroke pertama kali, namun aku sedikit lega karena akhirnya aku bisa melihat ibu bangun lagi.


Dugaanku kalau ibu akan kesulitan untuk berbicara ternyata salah, syukurnya Ibu masih dapat berbicara dengan baik meskipun banyak kalimat yang terkadang sulit aku pahami.


"Bu, cepet sehat ya. Lia ngga mau lihat ibu sakit begini." Tanpa terasa air mataku jatuh begitupun dengan ibu.


"Kamu sudah bilang nak Rendy?" Tanya Ibu padaku.


"Sudah bu. Aku sudah izin juga kalau hari ngga bisa masuk kerja." Entah mengapa orang yang pertama kali ibu tanya adalah Rendy, sebegitu sayangnya kah Ibu pada Rendy.


"Bu, ayahnya Anita yang bantu aku bawa ibu ke rumah sakit beberapa hari ini, dia sering datang berkunjung dan temenin aku." Aku mengatakan itu pada ibu agar ibu tahu bahwa ayahnya Anita juga berperan penting dan berkontribusi dalam membantu ibu.


"Iya, ibu berterima kasih sekali, lantas ke mana dia?" Ibu melihat sekitar mencari kehadiran Beby.


"Baru saja keluar bu, mungkin sedang cari makanan." Jelasku pada ibu.


"Lia, ingat ngga waktu itu Ibu pernah bilang sama kamu soal pendamping hidupmu. Jujur sekarang Ibu jadi kepikiran lagi, Ibu juga tahu kondisi ibu sekarang sedang tidak baik-baik saja. Ibu kepikiran gimana kalau ibu..." Ibu lalu meneteskan air matanya, aku pun sama. Aku tahu apa yang akan Ibu katakan, namun ia tidak sampai hati mengucapkannya.

__ADS_1


"Bu, jangan bicara yang aneh-aneh dulu, kita harus optimis kalau ibu akan sembuh dan sehat lagi. Kalau soal itu Ibu jangan khawatir, kan sekarang aku sudah bekerja, aku yakin aku bisa jadi perempuan yang mandiri seperti ibu yang bisa menghidupi aku sendirian tanpa hadirnya ayah, tanpa didampingi suami." Aku berusaha tegar mengatakan itu di depan ibu.


"Justru, ibu nggak mau kamu merasakan yang Ibu rasakan, hidup sendirian tanpa suami dihidup kamu." Ibu masih menangis.


Aku mengusap air mata yang menetes di pipi ibu, aku berhenti menangis sebab kalau aku terus-terusan menangis Ibu pasti akan menangis juga.


"Bu, Lia pasti akan menikah dan memiliki suami suatu hari nanti. Jodoh itu kan datangnya dari Tuhan, kita hanya bisa berdoa dan berusaha tapi kapan datangnya kita nggak pernah tahu." Aku mencoba menenangkan ibu.


"Tapi kalau kamu beda Lia, ada Rendy yang bersedia menikahi kamu." Lagi-lagi Ibu membahas Rendy yang siap menikahiku.


"Bu, tapi pernikahan itu nggak semudah itu Bu, Lia harus yakin sama pria yang akan jadi suami Lia." Aku berusaha menjelaskan pada ibu sejelas-jelasnya.


"Bu, kita fokus dulu ke kesehatan ibu ya, nanti kalau Ibu sudah pulang ke rumah sudah sehat lagi kita bahas ini lagi." Aku lalu mengambil sebuah apel kemudian aku kupaskan untuk ibu makan.


Ibu dan aku tadi yang beberapa saat sementara kepalaku terus berpikir tentang perkataan ibu. Karena desakan Ibu agar aku menikah secepatnya membuat aku jadi terus berpikir, siapakah yang seharusnya aku jadikan suami? Apakah aku harus menerima lamaran Rendy atau aku harus menunggu saja kepastian dari Beby?


Berada di dalam kamar rawat inap membuat aku sulit untuk berpikir jernih apalagi aku dihadapkan dengan ibu. Aku pamit pada ibu sebentar untuk keluar kamar dengan alasan ingin mencari cemilan.

__ADS_1


"Bu, kalau ada apa-apa atau butuh sesuatu, oencet tombol ini ya." Aku lalu mendekatkan tombol emergency untuk memanggil perawat yang sedang berjaga.


Aku lalu keluar dari kamar rawat ibu dan mendapati Beby sedang duduk di depan ruangan.


"Beby, kamu kenapa nggak masuk? Sejak kapan kamu duduk di situ?" Aku takut ia mendengar pembicaraanku dengan ibu.


"Aku dari tadi duduk di sini, tadinya mau masuk tapi aku dengar kamu sedang bicara dengan ibumu jadi aku kasih kamu ruang berdua untuk ngobrol." Beby menjelaskan.


"Lantas, kamu dengar semua perbincangan aku dengan ibu?" Tanyaku ingin menegaskan.


"Yaa... Samar-samar sih, tapi aku paham inti pembicaraannya. Maafin aku ya Lia, sepulang dari sini aku akan langsung bicara pada Anita soal hubungan kita, mau tidak mau dia harus menerimanya." Tiba-tiba Beby mengatakan itu padaku.


"Jangan terburu-buru, kamu harus tahu kapan saat yang tepat untuk bicara sama dia kamu tahu kan sifatnya dia itu moody-an." Aku hanya ingin Beby tak gegabah.


"Aku takut kehilangan kamu, aku takut kamu lebih memilih Rendy daripada aku. Aku nggak mau kamu menunggu lama jadi aku akan bicarakan ini pada Anita." Aku mengerti bagaimana perasaan Beby saat ini sebab perasaan itu jugalah yang sedang aku rasakan saat mendengar Ibu mendesak aku untuk segera menikah.


"Aku paham, tapi aku mau kamu bicara pelan-pelan pada Anita dan nggak membuat hubungan kamu dengannya tambah, buruk karena hal itu akan menambah masalah baru nantinya." Beby hanya menjawab dengan anggukan kepala.

__ADS_1


"Yasudah, kalau begitu ini roti dan susu hangat untuk kamu. Aku harus pamit, karena harus kembali ke kantor lagi. Salam buat ibu ya." Ia lalu memelukku erat sebelum meninggalkanku.


Aku jadi heran kenapa Ibu sebegitu mendesak aku untuk segera menikah, padahal kalau dipikir lagi apa salahnya hidup sendiri, menjadi perempuan yang mandiri seperti ibu.


__ADS_2