Kekasihku Ayah Sahabatku

Kekasihku Ayah Sahabatku
BAB 22: Situasi Berganti


__ADS_3

Pagi hari tiba, aku dapat mendengar deburan ombak dari kejauhan serta kicauan burung bersahutan. Angin semilir berhembus membangunkanku dari tidur. AC kamar kami pasti sudah dimatikan sehingga angin dapat masuk dari jendela ataupun pintu yang terbuka.


Aku mencari sosok pria yang untuk pertama kalinya dalam hidupku menemaniku tidur semalaman. Aku mengedarkan pandanganku tapi tidak aku temukan sosoknya. Mungkin ia di luar, karena aku masih dapat mendengar suaranya samar-samar.


Aku turun dari ranjang yang semalaman hampir tak berhenti bergetar. Masih ku lihat beberapa helai pakaian kami berserakan di lantai. Aku bercermin dan nampak sekali wajahku yang kusut dengan rambut berantakan, tapi saat ini lah aku terlihat begitu menggoda dan natural. Aku mengenakan handuk kimono untuk menutupi tubuhku yang sedari semalam tanpa sehelai benang pun.


"Cantik... Kamu udah bangun?" Sapa sosok pria yang staminanya luar biasa meski sudah menginjak usia 40 tahunan lebih ini.


"Udah Beby. Kamu ngobrol sama siapa?" Aku merangkulnya lalu melongok ke balik punggungnya.


"Ngga ada. Aku habis angkat telepon dari anakku." Jawabnya seraya mengecup keningku.


"Badanku sakit semua beb, dari kemarin kamu gas terus." Ucapku manja.


"Haha... Oke nanti aku minta spa dan massage ya sama orang resortnya. Sekarang sarapan dulu yuk sayang." Ia lalu merangkul pinggangku dan kami pun berjalan menuju meja makan.


Sudah tersedia banyak sekali makanan dihidangkan di atas meja. Beby lalu menuangkanku segelas susu dingin, dan aku menambahkan selai cokelat pada selembar roti untuk Beby.


"Hari ini kita mau kemana? Selain spa dan massage tentunya." Tanya Beby padaku.


"Mungkin berenang di laut asik juga." Aku sudah menyiapkan pakaian two piece merah maroonku, yang tentunya hanya akan ku kenakan di depan Beby.


"Oke, sehabis ini kita jalan-jalan sebentar ya." Aku pun mejawab Beby dengan anggukan.


Hari ini berlalu sesuai dengan rencana. Aku berjalan menyusuri pantai berdua bersama Beby setelah sarapan pagi, kemudian spa dan massage sampai tubuhku benar-benar segar kembali. Aku dan Beby pun benar-benar menikmati suasana laut yang tenang dan hanya kami berdua. Berenang di lautan, berlari, berjemur, tertawa sepanjang hari, bermesraan serta hal seru lainnya kita lakukan bersama.


"Seandainya kita bisa hidup kaya gini terus ya Beb, pasti seneeeeng banget." Ucapku seraya menatap langit biru yang cerah.


"Sabar cantik, aku sedang berusaha." Tapi dari raut wajahnya aku dapat melihat kegelisahan serta keraguan.


Tak lama terdengar suara handphone Beby berbunyi. Ia melihat layarnya, ku intip sedikit layar handphone itu ternyata telepon dari Anita.


Baik, saatnya tutup mulut dan jangan bersuara sedikitpun. Ucapku dalam hati.

__ADS_1


"Ya anak ayah, kenapa telepon?"


Selanjutnya Beby berdiri kemudian berjalan sedikit menjauh sembari bertelepon dengan anak semata wayangnya itu. Setelahnya ia kembali, kemudian dengan wajah sedikit bingung ia seperti sedang memikirkan sesuatu


"Kenapa Beb?" Tanyaku penasaran.


"Anita bilang ia sakit, kurasa kita mungkin harus pulang siang ini. Aku khawatir sekali karena dirumah ia hanya bersama dengan ART. Kamu paham kan situasinya? Aku minta maaf sekali..." Beby terlihat kebingungan.


"It's ok. Kita siap-siap sekarang ya." Aku pun bergegas bangun dari dudukku menuju kamar.


"Tunggu!" Beby menarik tanganku lalu menatapku dari atas hingga bawah.


"Kenapa? Ada yang salah?" Tanyaku bingung sekali.


"Aku belum bilang ini dari tadi, tapi kali ini kamu sexy sekali. Aku baru lihat kamu kenakan ini." Tatapannya membuatku tersipu malu.


"Kirain kamu ngga perhatiin aku pakai ini..." Ucapku malu-malu.


"Oke, tapi jangan lama-lama ya." Ucapku seraya menyentuh dadanya dengan nada sedikit manja.


Ia tersenyum lalu menggendongku dan merebahkan tubuhku di pasir pantai.


"Beb, kenapa disini?" Aku panik takut ada orang yang melihat kami.


"Hanya ada kita beb, coba kamu lihat sekeliling. Boleh lah kita bereksplorasi." Ucapnya lalu melanjutkan kembali kegiatan favoritnya.


"Beb, tapi... Akh!" Aku terkejut sekali karena ia sungguh melakukannya di pinggir pantai ini.


"Sst... Kamu bilang jangan lama-lama kan."


Dan begitulah pergumulan ini kami lakukan dengan hatiku yang setengah takut dan cemas. Ia melakukannya dengan lebih bergairah, mungkin karena hari ini adalah hari terakhir kami bebas melakukannya. Dan tentu saja tidak mungkin ia menyia-nyiakan waktu yang ada, ia benar-benar melampiaskannya hingga puas dan dalam waktu yang tidak sebentar.


Setelahnya ia menggendongku dalam dekapannya menuju bath tub, kami pun mandi dan tentu melanjutkan kembali ronde dua dari sesi di pinggir pantai tadi. Aku langsung bergegas membereskan isi koperku setelah ronde kedua selesai. Setelah itu bersiap-siap untuk pulang.

__ADS_1


"Cantik, maaf aku harus mengajakmu pulang, karena Anita..."


"Sst... Aku ngga apa-apa, Anita juga butuh perhatian dari kamu." Aku menghentikan ucapannya.


"Anita demam, mungkin ia flu dan seperti yang kamu tahu Anita punya sakit asma. Sebenarnya ia sudah pergi ke dokter tapi aku hanya ngga tenang kalau ngga lihat langsung kondisinya." Ia menjelaskan keadaan Anita padaku yang entah kenapa dalam pikirku seperti 'aku tidak peduli'. Jahatnya aku, tapi sungguh semenjak kejadian ulang tahunku waktu itu, aku jadi semakin renggang dengannya.


"Yuadah kita pulang ya." Lalu kami pun menaiki speed boat kami untuk pulang


Sesampainya di dermaga waktu sudah sore hari dan aku pun berpisah dengan Beby. Beby langsung bergegas pulang menemui Anita dan aku juga langsung pulang ke rumah menaiki taxi online.


Sesampainya di rumah aku tidak melihat ibu, mungkin ia belum pulang ke rumah. Jadi aku langsung membereskan barang bawaanku, lalu mandi dan hendak membuat mie untuk makan.


"Aneh, kenapa ibu ngga masak ya?" Ucapku pada diriku sendiri.


Setelah makan aku pun duduk di ruang tv, kemudian ku lihat sekeliling sepertinya rumah terlihat berantakan dan seperti ditinggalkan buru-buru.


"Ibu kemana ya? Tumben rumah berantakan." Aku pun terusik lalu membersihkan rumah.


Tak lama handphone ku berbunyi, ku lihat layar ternyata ada puluhan miss called dari Rendy. Aku memang tidak mengaktifkan handphone khususku dan Beby sejak kemarin karena ku pikir Beby sedang bersamaku. Rendy pasti mencariku karena merindukanku, sedangkan ia hanya tahu nomor handphone ku yang khusus.


"Halo." Aku mengangkat telepon dari Rendy.


"Halo. Ya ampun Lia kamu kemana aja sih? Aku cari kamu dari kemarin." Sahut suara di seberang telepon.


"Kenapa emang? Kangen?" Sahutku lagi.


"Ngga penting. Ini ibu kamu di rumah sakit, kamu susah banget dihubungin. Aku tanya ke temen-temen kamu, tapi ngga ada yang bisa hubungin kamu." Sahut Rendy penuh emosi.


Astaga! Ternyata ibu di rumah sakit! Aku langsung panik mencari handphone ku yang lainnya, dan benar saja handphone ku ini mati. Aku takut ibu atau siapa pun dapat melacak keberadaanku maka handphone ini ku matikan.


"Rendy, terus ibu gimana?" Aku panik sekali.


"Ibu kamu..."

__ADS_1


__ADS_2