Kekasihku Ayah Sahabatku

Kekasihku Ayah Sahabatku
BAB 11: Pertandingan


__ADS_3

Pagi ini terasa tenang, aku sudah bersiap untuk berangkat kuliah. Dengan mengenakan kaos putih andalanku, rok selutut berwarna cream dan sneaker putih, serta tas pemberian 'Beby' yang jadi favoritku, aku terlihat begitu manis dan dewasa.


Aku membiarkan rambut layer se-bahuku tergerai, aku pakai lipstik berwarna nude kali ini, membuat makeup wajahku begitu natural dan anggun. Rencananya sepulang kuliah aku akan bertemu dengan 'Beby', sudah beberapa hari aku tidak bertemu lagi dengannya semenjak insiden di mall.


Pagi ini Rendy akan mengantarkanku berangkat ke kampus, sebenarnya males banget pergi sama dia. Mulutnya pasti bawel ceramahin aku terus. Tak lama terdengar suara mesin mobil di depan rumah, aku pun langsung pergi keluar dan mengunci pintu rumah. Karena ibu sudah berangkat beberapa menit yang lalu, sekarang dia pasti sudah sampai di resto.


"Lho, beby!" Aku terkejut dan senang sekali karena ternyata 'Beby' datang pagi ini.


"Ayo masuk, aku antar ke kampus." Teriaknya dari dalam mobil dan aku tentu saja langsung masuk ke dalam mobil tanpa pikir panjang.


"Beby, aku kangen banget!" Aku langsung memeluk dan mencium pipinya.


Ia langsung melajukan mobilnya, ia memutar lagu kesukaanku, ia menggenggam tanganku lalu mengecupnya. Ia begitu manis dan sangat tampan, pesona pria usia 40-an ini begitu menggetarkan hati. Beberapa kali kami saling bertatapan dan saling tersenyum.


"Aku kangen banget sama kamu, kamu ada kelas yang penting ngga hari ini? Kita lihat-lihat apartemen ya." Aku langsung mengangguk tanpa memikirkan resiko apa pun, yang ada di pikiranku saat ini adalah aku kangen berat dan ingin sekali menghabiskan waktu bersama 'Beby'.


Handphone di dalam tasku berbunyi, aku baru ingat kalau Rendy mau jemput aku kuliah.


"Halo Rendy, sorry ya aku lupa kamu mau jemput, jadi tadi aku berangkat sendiri naik ojek online." Aku mengangkat telepon dan memberikan penjelasan palsu padanya.

__ADS_1


"Ngga usah bohong sih, aku lihat kamu naik mobil hitam tadi. Lagi sama si om ya? Aku sih ngga masalah ya kamu batalin janji, yang penting besok seharian kamu harus nemenin aku, gimana?"


Aku kaget banget ternyata Rendy sempat lihat aku naik mobil 'Beby' tadi, berarti tadi dia hampir sampai kerumah tapi keduluan sama 'Beby'.


"Hm... Iya sip oke. Bye." Jawabku singkat, takut 'Beby' marah atau curiga jadi aku mengiyakan dulu ajakan Rendy supaya pembicaraan kami di telepon cepat selesai.


"Siapa yang tahu nomor baru kamu? Si Rendy-Rendy itu ya?" Tanya 'Beby' dengan wajah masam.


"Iya nih, habis gimana ya, dia kan lihat aku beli handphone kemarin, terus dia minta nomorku, aku ngga enak nolak soalnya dia owner resto tempat ibu kerja." Jelasku takut-takut.


"Sekarang ibumu sudah ngga kerja di laundry lagi? Kalau kue, masih jualan?"


"Jadi dia bosnya ibumu? Aku pengen sih kasih kerjaan ke ibumu, gajinya pasti lebih oke, tapi dia pasti nolak karena ngga enak dan aku tahu banget dia ngga terlalu suka sama aku."


"Tahu dari mana ibu ngga suka kamu? Perasaan ibu biasa aja waktu ketemu kamu."


"Ibumu itu kawan lama aku, dulu kita satu sekolah dan tetangga, tapi kita emang ngga pernah ngobrol. Aku dulu pacaran sama teman dekatnya, terus waktu aku putus sama temannya dia tuh benci banget sama aku, lihat mukaku aja ngga mau. Tapi aku ngga tahu apa sekarang ibumu masih ingat sama aku atau ngga. Yang aku rasa sih, dia ngga suka aja sama aku." Jelasnya padaku dan aku betulan baru tahu.


"Bukan karena itu kali, emang kemarin tuh ibu bilang kita harus jaga jarak biar ngga ada gosip."

__ADS_1


"Oh, takut anaknya aku deketin padahal anaknya yang gatel sama aku." Ucapnya sambil bercanda.


"Iih... Gatel ya? Terus kalau aku gatel, kamu apa? Ngajak lihat-lihat apartemen terus, pasti mau mesum nih." Aku mencubit pipi dan hidungnya, sementara dia menghindari cubitanku.


Akhirnya kami sampai di kamar apartemennya yang super nyaman dan mewah. Saat duduk dipinggir ranjang dan akan melepaskan sepatuku, ia kemudian berlutut didepanku dan membantuku membuka tali sepatuku. Ia lepaskan sepatuku dari kakiku, kemudian ia kecup lututku sampai ke pahaku. Begitupun dengan sepatu sebelahnya, ia perlakukan hal yang sama.


Gerakannya lambat tapi pasti, ia menyentuh wajahku kemudian leherku, dan langsung menciumku sampai merebahkan tubuhku di atas kasur yang empuk. Ia menciumku dengan penuh gairah, tanganya meraba semua anggota tubuhku. Aku pun melakukan hal yang sama, kini aku lebih berani menyentuhnya hingga ke bagian paling intim tubuhnya. Sudah mengeras, dan aku tahu ia sudah siap bertanding.


Pertandingan kali ini sungguh menggebu, ia menaik turunkan panggulnya dengan penuh semangat. Aku pun dibuatnya mengerang dan merintih cukup sering. Ia membolak-balikkan tubuhku sesukanya, aku pun tak mau kalah semangat. Sesekali aku menguasai tubuhnya, bermain di atasnya sementara ia menatapku penuh cinta. Dan dalam pertandingan kali ini kami seri, dengan aku yang 'gol' terlebih dahulu.


"Cantik, kamu belajar dari mana?" Godanya padaku.


"Belajar sendiri, om." Candaku padanya dengan nafas yang masih ngos-ngosan seperti habis maraton.


"Mau belajar gaya lain ngga, nanti om ajarin." Ucapnya menimpali candaanku.


Kami bertanding dalam tiga ronde, kami benar-benar menikmati hari ini seperti tanpa beban, tanpa memikirkan siapapun yang menentang hubungan kami. Aku pun mencoba beberapa gaya dan mengeksplor semua tempat didalam kamar ini. Yang paling gila adalah waktu kami melakukannya dengan jendela gorden yang terbuka. Kami memang berada di lantai gedung cukup atas, dan 'Beby' bilang kaca jendelanya tidak akan nampak dari luar.


Aku mengerang dan merintih cukup kencang saat menerima serangan cepatnya, aku melakukan 'gol' beberapa kali sebelum 'Beby' ikutan 'gol'. Pertandingan ini memang aneh, siapa yang 'gol' paling banyak dan duluan justru yang kalah. Seharian kami hanya bercumbu, saling peluk, kemudian bertanding, makan, tidur dan begitu terulang seterusnya. Pesona 'Beby' begitu menggoda imanku, setiap ucapan manis dari mulutnya membuatku jatuh hati. Tatapannya saat bertanding membuatku ingin terus melakukannya, sentuhan dan kecupannya membuatku tak mau melepaskan diri darinya.

__ADS_1


Hingga tanpa terasa sudah pukul 9 malam, dan aku sudah cukup letih bertanding seharian. 'Beby' tidak mengantarku pulang, ia memesankan aku taxi lalu mengantarku sampai naik ke dalam taxi. Ibu sudah menghubungiku untuk info kalau malam ini ia pulang sedikit larut karena resto akan closing. Rendy juga akan mengantar ibu pulang nanti, jadi aku bisa sampai rumah lebih dulu sebelum ibu dan Rendy sampai, sehingga ibu ataupun Rendy tidak akan curiga kenapa aku pulang selarut ini dari kampus.


__ADS_2