
Robby langsung mendatangi rumah keluarga Benjo, bersama beberapa orang staff penting dari kantornya dan seorang bodyguard. Ia nampak seperti pria-pria mafia di dalam film. Setelan jas hitam serta kacamata hitamnya membuat ia nampak sangat garang tapi juga tampan.
Saat pintu terbuka ia dan staffnya langsung masuk dan dipersilahkan duduk oleh ART di rumah itu. Seorang wanita, yang adalah ibu Benjo keluar dari dalam kamar untuk menemui tamu yang datang. Dan betapa terkejutnya Robby saat melihat wanita yang kini duduk diseberangnya.
"Sarah!" Robby begitu terkejut dan membuka kacamata hitamnya untuk memastikan wanita yang sedang berhadapan dengannya benar-benar wanita yang ia kenal.
"Iya, ini aku, Sarah. Mantan pacarmu yang sudah kau tinggalkan dalam keadaan terpuruk." Suara Sarah begitu lantang dengan senyum penuh makna.
Ingatan Robby kembali ke masa lalu, saat ia dan Sarah masih menjadi sepasang kekasih. Dua tahun mereka menjalin hubungan asmara, dan hubungan mereka sudah sangat serius. Bahkan mereka berdua sama-sama kehilangan keperawanan dan keperjakaan mereka bersamaan pada saat menjalin asmara. Hampir di setiap kesempatan mereka melakukan hubungan suami istri yang sangat terlarang bagi mereka.
Semua orang mengira mereka pasti akan menikah dan hidup bahagia, tapi siapa sangka jika pada akhirnya hubungan mereka harus kandas karena satu kesalahan fatal yang Robby lakukan. Pada malam setelah pertunangan antara dirinya dan Sarah berlangsung, Robby pergi bersama teman-temannya dan juga Ira untuk merayakan pertunangan itu.
Namun rupanya Robby begitu mabuk hingga tak sadar ia bersama Ira pergi ke sebuah hotel lalu melakukan hubungan terlarang. Satu bulan kemudian Ira hamil dan minta pertanggung jawaban Robby. Saat itu lah akhirnya hubungannya dengan Sarah harus berakhir. Ia meninggalkan Sarah dan menikah dengan Ira, Sarah begitu terpuruk hingga hampir mengakhiri hidupnya sendiri.
"Jadi Benjo anakmu?!" Robby begitu terkejut dengan kenyataan yang ia hadapi.
__ADS_1
"Betul. Benjo anakku." Sarah masih menyahut dengan suara lantang.
"Sarah, aku kesini..." Robby berusaha menjelaskan maksud kedatangannya.
"Aku tahu kedatanganmu kesini dengan tujuan dan maksud apa, tapi maaf aku akan menolak mentah-mentah tujuanmu itu. Aku dan suamiku tidak akan menikahkan Benjo dengan seorang gadis broken home seperti Anita." Suara Sarah begitu menusuk hati Robby.
"Apa?!" Robby sungguh kehabisan kata. Rasanya percuma ia membawa staff dan bodyguardnya untuk bernegosiasi, sebab ia paham betul kalau Sarah punya maksud balas dendam sekarang.
"Ira pernah mengatakannya padaku, kalau gadis broken home sepertiku tidak pantas menikah dengan pria kaya dan dari keluarga terpandang seperti kamu. Tapi lihat sekarang, aku bisa menikah dengan pria yang jauh lebih baik darimu." Sarah begitu puas mengatakan hal yang selama ini dipendamnya.
"Aku tahu, maka itu aku sudah memberi Benjo hukuman. Aku dan suamiku mengirim Benjo ke sekolah asrama di luar negeri, sekolah yang memiliki disiplin tinggi, disana ia tidak akan bisa lagi berbuat seenaknya. Dan aku juga akan memberi kamu penawaran sebagai bentuk tanggung jawabku pada anakmu." Sarah nampak begitu tegas dan sangat lugas dalam menyampaikan maksud dan ucapannya. Sangat berbeda dengan Sarah yang Robby kenal dulu, Sarah yang lemah lembut dan pemalu.
"Bisa kalian tinggalkan kami?" Robby memerintahkan staffnya serta bodyguardnya untuk meninggalkan ruangan.
"Sarah, aku paham betul kamu begitu sakit hati dan dendam padaku, tapi apa maksudmu membalaskan dendam itu pada putriku melalui Benjo?" Robby mulai leluasa bicara pada Sarah sekarang.
__ADS_1
"Aku tidak pernah membuat rencana sekeji itu untuk balas dendam padamu atau pun Ira. Aku baru tahu belakangan setelah putrimu kesini untuk meminta pertanggung jawaban Benjo, aku baru tahu kalau Anita adalah putrimu dan Ira." Sarah berbicara masih dengan sikap tegasnya pada Robby.
"Jadi kamu baru tahu kalau Anita adalah putriku? Lalu rencana balas dendam itu muncul begitu saja? Semua yang kamu katakan pada putriku, kalau Benjo akan bertanggung jawab menikahinya jika aku dan Ira menikah lagi, benar?" Robby mulai terpicu emosi.
"Benar. Aku ingin Ira mengerti perasaanku dahulu saat ia mengatakan itu padaku." Sarah nampak lebih emosi namun merendahkan suaranya sekarang.
"Kamu pikir itu akan berhasil? Kamu tahu, Ira itu bukan manusia, dia sama seperti batu. Tidak punya perasaan sama sekali. Ia tidak pernah merasa menyesal atas setiap hal yang ia perbuat, bahkan ia tidak peduli dengan putrinya sama sekali." Robby merasa sangat frustasi sekarang, ia ingin sekali marah tapi entah pada siapa.
"Aku minta maaf, Benjo memang salah. Aku dan suamiku akan bertanggung jawab sampai anak itu lahir, tapi jangan pernah pertemukan anak itu pada kami apalagi Benjo." Sarah menatap mata Robby dalam-dalam.
"Sarah, aku bisa membesarkan anak itu tanpa bantuan darimu ataupun suami mu. Aku hanya ingin putriku melahirkan anaknya dengan suami yang mendampinginya." Robby semakin tersulut emosi.
"Tidak. Aku tidak rela Benjo menikah dengan putrimu, aku tidak mau melihat kemenangan bagi kalian. Aku ingin kamu dan Ira merasakan apa yang aku rasakan, betapa pedihnya ditinggalkan saat sedang cinta-cintanya, betapa sakitnya ditinggalkan saat sedang membutuhkan, dan betapa sedihnya menjadi manusia yang seolah nampak hina di mata kalian." Sarah pun menitikkan air matanya mengenang sakit dan pilunya kejadian masa lalu.
Robby hanya bisa terdiam, ia sadar betul betapa sakitnya menjadi Sarah, namun ia hanya pria yang saat itu tidak bisa berbuat apa-apa untuk menolong Sarah. Semua itu karena Ira, ia tahu jika Ira begitu berambisi untuk memilikinya, namun saat itu ia sedang menajlin asmara dengan Sarah.
__ADS_1